『 』 (Chapter 2)

“Kau milikku, Sungmin.”

Bocah ini gila ya?

“Apa ibumu menyuruhmu menamai semua barang-barangmu?” Aku bertanya sinis.

Kyuhyun mengangguk yang membuatnya terlihat menggemaskan. Dia mulai mirip boneka bunny yang dibelikan Hangeng saat aku umur 6 tahun.

“Tapi aku bukan barangmu—” Aku memandang inisial kalungnya, “—Kyu?”

Dia kelihatan senang kupanggil begitu, jadi kulempar kalung itu ke mukanya. Tampang senangnya serius bikin muak.

“Sungmin…” Kyuhyun kelihatan kecewa.

Aku masih muak.

“Maaf, Kyuhyun. Cari orang lain saja yang mau pakai itu.”

Grepp!

Aku hampir tersedak saat menoleh. Dia pasang puppy eyes berair. Ampun deh.

“Kenapa tidak boleh? Kau sudah jadi milik orang lain?”

Mungkin ibunya salah didik.

Aku mengibas genggaman tangannya. Mendekati hidungnya dan menatap tajam-tajam. “Aku-bukan-barang, jadi-kau-tidak-bisa-memilikiku.”

Kyuhyun tersenyum polos yang membuatku ingin merobek mulutnya. Dia pikir aku main-main ya?!

“Sungmin manis.”

Aku tercekat.

Bocah ini gila! Otaknya konslet!

Kata Heechul jangan dekati orang yang mencurigakan, apalagi yang terlihat berbahaya. Jadi aku berbalik lagi dan buru-buru pergi.

Kali ini Kyuhyun tidak menahanku, tapi dari suara sepatunya jelas dia sedang mengikuti langkahku.

Aku mendengus.

Terserah. Deh.

.

『 』

by Kiri-chan

FanFiksi KyuMin

Warning : bahasa kasar (bukan bermaksud menyinggung karakter, hanya demi cerita aja), CHAPTER INI LAGI BANYAK ROMANCENYA =,=, tusuk-tusukan dikit (?), adegan menjijikkan, kid!KyuMin (tapi kelakuan nggak sesuai umur =,=), bukan kisah menyenangkan, kemungkinan ada death chara, shounen-ai, DON’T LIKE DON’T READ.

.

~ Chapter 2 ~

.

“Ini rumahmu?”

Pertanyaan bego. Buat apa aku buka pintu pagar rumah orang?

“Iya. Pulang sana.”

“Aku mau mampir.”

“Kyuhyun.” Aku melempar tatapan membunuh.

Dia tidak peduli. Dia masih tersenyum. Seperti boneka bunny.

Sial.

“Masuk.”

Kyuhyun tertawa riang dan memeluk bahuku dari belakang.

Tiba-tiba Heechul membuka pintu dan pasang tampang bego melihat posisiku dan Kyuhyun. “Tumben kau pulang bawa teman.”

“Bukan temanku.”

“Lalu siapa?” Heechul menyeringai. Pertanda buruk. “Pacarmu?”

Dia pasti senang kalau aku jawab ‘iya’. Jadi gay di umur 11, aku benar-benar anak Heechul.

“Eomma!” Aku menatap protes yang entah kenapa membuat pipiku jadi korban cubitan Heechul. “Dia bukan pacarku!”

“Itu bagus, karena kau masih terlalu kecil untuk pacaran, Min.” Heechul mengelus pipiku sayang.

Kyuhyun mengeratkan pelukannya. “Dia siapa?”

“Ibuku.”

Heechul menatap angkuh. “Hei, seharusnya itu pertanyaanku, anak manis.” Dia mencubit pipi Kyuhyun juga. “Belum pernah melihatmu. Kau siapa?”

“Kyuhyun, Cho Kyuhyun.”

“Aku Kim Heechul.” Heechul mengacak rambut Kyuhyun sekilas. “Aku pergi sebentar. Jaga Sungminku baik-baik, bocah.”

Aku merasakan tubuh Kyuhyun menegang, tapi aku tidak peduli.

“Jangan beli rokok!” Aku berteriak pada Heechul, susah payah menoleh karena Kyuhyun masih ngotot memelukku dari belakang.

Heechul hanya melambaikan tangannya dan nyengir tanpa dosa. Aku tahu dia tidak akan menurutiku.

“Ibumu laki-laki.”

“Itu bukan urusanmu.” Aku berhasil melepaskan diri dari Kyuhyun dan membuka sepatuku di teras.

“Ayahmu?” Kyuhyun meletakkan sepatunya tepat di sebelah sepatuku.

“Tidak punya.”

“Meninggal? Pergi?” Kyuhyun mengekoriku ke kamar.

“Pergi.” Aku membuka pintu lebar-lebar dan berlari kecil ke arah kasur, menjatuhkan diri disana.

Kyuhyun mendekatiku. Dekat sekali sampai lututnya bersentuhan dengan lututku yang menjuntai di pinggir ranjang.

“Ibuku juga.” Mata di balik kacamatanya terlihat sendu. “Pergi dengan laki-laki lain.”

“Wanita terlalu merepotkan, orang itu bilang. Karena itu dia memilih bersama Heechul.”

“Orang itu? Ayahmu?”

“Bukan. Mantan suami Heechul.”

“Dia pergi dengan pria lain?”

“Dia pergi dengan wanita.” Aku menatap langit-langit geram seperti ada wajah Hangeng disana. “Dia menjilat ludahnya sendiri.”

Kyuhyun tertawa kecil. “Yah, memang begitu perumpamaannya.”

“Benar.” Aku membalas senyum Kyuhyun. “Jadi aku mengambil ludah bekas gosok giginya dari wastafel dan mencampurkannya ke kopi paginya.”

“Wastafelmu sedang macet?” Daripada terlihat jijik, Kyuhyun malah terlihat penasaran. Anak aneh.

“Waktu itu memang sedang macet.” Aku bangkit dan mengambil posisi duduk, mendekatkan wajahku dengan Kyuhyun. “Hei, Kyuhyun. Kau masih mau berteman denganku?”

Kyuhyun mengerjap sebelum ikut mendekatkan wajahnya, tersenyum penuh percaya diri. “Seingatku aku tidak pernah minta berteman, Sungmin. Dan seperti yang kau bilang, aku bukan temanmu.”

“Jadi kau…” Alisku mengernyit saat jemari Kyuhyun mengangkat daguku.

Bibir Kyuhyun menutup bibirku tiga detik.

“Panggil aku ‘master’.” Dia menyeringai.

Aku menghela napas. “Dengar, bocah pengkhayal.” Dahinya menjauh saat kudorong dengan telunjuk. “Mungkin ibumu terlalu banyak membacakan dongeng, tapi kenyataan beda. Aku bukan barang, pelayan, atau anak anjing yang bisa dipelihara.”

“Kau memang bukan tiga-tiganya.” Kyuhyun mendorong bahuku lembut dan menjatuhkanku ke ranjang. “Lagipula ibuku tidak pernah membacakan dongeng. Ibu tiriku yang sering.”

“Oh.” Apa bedanya sih? Intinya dia kebanyakan baca dongeng. “Jadi aku apa?”

Kyuhyun menyeringai lagi. “Pacarku?”

Tsk… dia juga kebanyakan nonton drama.

“Terserah.” Aku menatap bosan. “Paling-paling kau akan menjauhiku nantinya.”

Kyuhyun mengerjap. “Karena apa?” Dia bertanya heran. “Karena kau menaruh ludah di kopi mantan suami ibumu?”

Aku nyaris tersedak tawa. Oh, please.

“Karena cat kamarmu pink? Karena kau pakai hoodie kelinci? Karena ibumu laki-laki?”

Dia terus bertanya dengan tampang bingung.

“Karena kau menaruh jarum di bekal anak-anak klub bola? Karena kau memukuli anak perempuan di kelas dengan kursi? Karena kau merusak boneka bunnymu?” Kyuhyun melirik boneka kelinciku yang kepalanya nyaris putus, mata plastiknya copot, dan kapas isi perutnya yang menyembul tertahan jahitan kasar benang merah. “Karena kau benci kelinci? Atau kau membayangkan boneka itu seperti seseorang? Atau kau benci orang yang memberikannya pada—”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!”

Kyuhyun membeku.

Tawa melengking yang kubenci, tapi rasanya puas jika keluar dari tenggorokanku sendiri.

“S-Sungmin… apa yang—” Kyuhyun bangkit dariku dengan wajah memucat.

Tawaku semakin keras seperti orang sakit jiwa, tak peduli rahangku mulai pegal. Menggelikan. Kyuhyun benar-benar menggelikan.

“Hahahahaha… Kyuhyun… Kyuhyun…” Aku berusaha bangkit tapi perutku sakit sekali. “Hahahahaha…”

“Sung… Min?”

Aku mendongak.

Dia tak jadi mendekat.

Aku menyeringai.

Dia mundur selangkah.

“Kyu…” Dia senang kupanggil begitu, kan? “Kau manis, selalu tersenyum, dan bermata kosong. Kau mirip bunny pemberian Hangeng. Miriiiip sekali.”

Aku bangkit dari kasur, sedikit oleng karena perutku masih sakit tapi tatapanku terus fokus pada mata kosong Kyuhyun yang terbelalak.

“Kyu mirip bunny~ Kyu mirip bunny~” Suara bernyanyiku terdengar terlalu riang.

Aku merogoh saku celana, mengeluarkan benda tipis mengkilat. Sisa jarum dari waktu istirahat tadi. Lima jarum untuk empat anak—dua khusus untuk si gendut yang sepertinya belum kenyang makan gula kapasku kemarin.

“Kyu mirip—”

Grep!

Tangan kananku yang memegang jarum dicekal Kyuhyun.

“Kau yang mirip bunny.” Kyuhyun menghela napas. “BunnyMin~”

Dia tersenyum menggoda dan menarikku mendekat, mengklaim bibirku dengan cepat.

Tindakan bodoh.

Aku masih punya tangan kiri.

Dan jarum lain.

Aku menahan seringai dalam ciumannya. Membayangkan Kyuhyun terlonjak dengan tampang konyol dan mata membesar. Itu pasti lucu sekali.

Satu… dua… tiga.

Kyuhyun melumat bibirku halus.

Aku terbelalak. Ap-apa yang…

Aku yakin jarumnya sudah menyentuh kulit leher Kyuhyun, jadi aku mencoba menusukkannya lebih dalam.

Kyuhyun tidak bereaksi. Kyuhyun tidak terkejut. Kyuhyun tidak peduli.

Aku mengerjap syok.

Dia menjauh dariku masih dengan senyum di wajahnya. Jarum menempel di lehernya seperti hiasan magnet menempel di pintu kulkas. Darah mengalir kecil dari sana.

“K-Kyu…”

Dia menyadari arah pandangku dan melepas jarum itu dari lehernya, membiarkan darahnya mengalir.

“Jadi, Min sayang…” Kyuhyun menyeringai. “Kau mau mengambilkanku plester atau menjilatnya sendiri?”

oOo

To Be Continued

Advertisements