『 』 (Chapter 1)

[Beijing, 2010]

Hidup memang sialan.

“Jangan sentuh Kui Xian!”

BRAKK! BRAKK!

Berbayang sinar bulan, tampak siluet tubuh kurus bocah 7 tahun yang bersandar di bingkai jendela besar. Jemari pucat itu menggoyangkan gelas piala berisi cairan merah yang tinggal setengah. Mata obskuritnya menatap kosong ke arah pintu yang digebrak keras.

“AKAN KUBUNUH ANAK SETAN ITU! AKAN KUBUNUH DIA!”

“JANGAN SENTUH ANAKKU!”

BRAKKK!

Kali ini pintu berhasil terdobrak. Lelaki berbadan besar menendang tubuh lemah wanita yang mati-matian menahan kakinya tanpa belas kasih. Tapi wanita itu tidak menyerah, dia memeluk pinggang si lelaki, tak peduli dengan rambutnya yang dijambak keras atau wajahnya yang ditampar berkali-kali.

“MENYINGKIR KAU, PEREMPUAN JALANG! SINGKIRKAN TANGAN KOTORMU DARIKU!”

Kui Xian menenggak tetesan wine yang terakhir sebelum membenturkan gelasnya ke dinding, membentuk pecahan kaca runcing yang dia genggam erat di tangan. Kaki kurusnya turun dari jendela, dengan tatapan dingin mendekati dua orang yang sedang bergumul.

Seseorang… keluarkan aku dari neraka menjijikkan ini.

.

『 』

by Kiri-chan

FanFiksi KyuMin

Warning : bahasa kasar (bukan bermaksud menyinggung karakter, hanya demi cerita aja), kekerasan, penindasan, gebuk-gebukan (?), adegan menjijikkan, kid!KyuMin (tapi kelakuan nggak sesuai umur =,=), bukan kisah menyenangkan, kemungkinan ada death chara, shounen-ai, DON’T LIKE DON’T READ.

.

~ Chapter 1 ~

.

[Seoul, 2014]

BRAKK!

Beberapa anak lelaki melemparku ke sudut jalan. Senyum mereka menyebalkan, bahkan tawa mereka melengking seperti anak perempuan. Menjijikkan.

“Apa Sungminnie ingin gula kapasnya kembali, eung?”

Aku ingin muntah.

“Hmm… Sungminnie bilang apa?”

Aku lebih memilih merapatkan punggungku ke dinding berlumut saat telinga bau itu mendekati bibirku. “KEMBALIKAN, BRENGSEK!”

DAKK!

Beruntung aku laki-laki, jadi aku tahu bagian mana yang paling menyakitkan untuk ditendang.

“ARGGHH! KURANG AJAR KAU! TEMAN-TEMAN! HAJAR DIAAAA!”

Pengecut. Banci. Pecundang.

BUGH! BUGH! BUGH! BRAKKK!

Kadang-kadang aku benci tubuhku yang kecil, di masa depan nanti aku ingin lebih gemuk. Setidaknya aku bisa balas menimpa tubuh mereka jika aku punya tubuh yang besar.

Krek!

Tulang lenganku, aish…

“HAHAHAHAHAHAHA! RASAKAN! RASAKAN!” Bokong besar itu dengan seenaknya bergoyang-goyang di punggungku. “Ini balasannya karena kau melawan! Anak perempuan memang harus dihukum jika berani melawan anak lelaki! KAU DENGAR ITU, SUNGMINNIE?!”

Aku bukan anak perempuan, sialan!

“Kenapa kau diam saja, Sungminnie? Tidak menangis? Tidak berteriak? Atau jangan-jangan kau sedang lapar sampai tidak bisa bicara?” Bocah menjijikkan lainnya menyodorkan gula kapas yang tadi mereka rebut dariku. Gula kapas dengan cairan bening menetes-netes, bekas dijilati si gendut yang sedang menimpaku sepertinya.

“Ayo makan, Minnie… maaaakan~”

“HUEK!”

“HAHAHAHAHA! Sepertinya kau menikmatinya, Minnie-yah. Kau boleh makan lagi. Makaaan~ makaaan~”

Gula kapas berliur itu semakin masuk ke dalam mulutku. Dorongan ingin muntah sudah sampai ke tenggorokan, mataku mulai berair.

“SELAMAT MAKAAAAN~!”

“HUEKKKKK!”

“HYAAA! DIA MUNTAH!”

“MENJIJIKKAN! MENJIJIKKAN!”

“EWWW! Aku tidak ingin mengurus anak ini, ayo kita pergi saja!”

“Hei, tunggu! Jangan tinggalkan akuuuu!”

Drap! Drap! Drap!

Mataku berkunang-kunang. Sudah tidak ada lagi si gendut yang menduduki punggungku tapi rasanya tetap sulit untuk bangkit.

Jaket merah mudaku…

Aish… kotor kena muntahan. Padahal ini jaket kesayanganku. Kesayangan Heechul juga. Bisa-bisa aku dimarahi habis-habisan jika dia tahu jaket pastel pink dengan hoodie telinga kelinci yang dia belikan 2 hari yang lalu jadi kotor begini.

“Kau tidak apa-apa?”

Tidak apa-apa, kepalamu. Siapapun yang melihat anak kecil umur 11 tahun tengkurap di atas genangan muntahan dengan wajah lebam dan beberapa bagian tubuh memar pasti tahu sedang terjadi apa-apa.

“Bisa bangun? Aku bantu.”

“Argghh!” Mataku berair lagi. “Lengan kananku… terkilir.”

“Apa?! MAAF! MAAF!”

Suaranya tinggi, tapi halus, dalam, tidak melengking. Tidak menjijikkan seperti bocah-bocah yang menindasku tadi.

Lengan kananku kini tersampir di pundaknya. Membuatku sadar, bocah ini sedikit lebih tinggi dariku. Hanya sedikit. Sepertinya kita seumuran.

“Kau kotor sekali.”

Aku mengerjap. Baru kali ini melihat wajahnya dengan jelas. Wajah putih di balik kacamata bulat—kasihan sekali umur sekecil ini sudah memakai kacamata. Mata hitam yang bersinar. Senyum yang polos.

Srett…

Sapu tangan itu menyapu lembut wajah dan bibirku, membersihkan dari debu, kotoran, bekas gula kapas, atau bahkan sisa muntahanku tadi.

“Sayang sekali kalau—” Senyum polos itu lagi, “—wajah cantik begini tertutup kotoran.”

Cantik. Manis. Imut. Menyebalkan. Gara-gara pujian bodoh semacam itu terlontar, semakin banyak anak lelaki datang menindasku.

“Siapa namamu?”

“Sungmin.”

“Ah… Sungminnie~”

Bukan salahku lahir dengan tampang begini.

Ini salah orang-orang yang terus memuji wajahku dengan pujian yang seharusnya mereka gunakan untuk merayu wanita. Ini salah orang-orang yang terus memanggil namaku dengan suffix –ie yang membuat namaku terdengar seperti nama wanita. Ini salah—

yang jelas bukan salahku.

“Itu…”

“Ah, ini?” Senyum bocah lelaki itu melebar, lebih polos. “Ini gula kapas yang kubeli tadi. Kau juga mau?”

“Ung…” Aku mengangguk kecil sembari melempar tatapan sedih pada gula kapasku yang tergolek di jalan, sudah menipis, kotor, dan dipenuhi air liur di salah satu sisinya.

“Gula kapasmu direbut mereka tadi ya?”

Aku mengangguk, pura-pura imut.

Satu hal yang perlu diketahui, wajahku ini memang mengundang banyak anak lelaki datang menindasku. Tapi banyak juga dari mereka yang datang karena hal lain.

“Kasihan sekali… ini untukmu saja.”

Gotcha.

Gula kapas itu berpindah tangan. Mata si bocah masih lekat menatapku, terpesona melihatku tersenyum. Banyak anak lelaki yang menindasku, tapi juga banyak yang bertingkah seperti anak perempuan—misalnya, naksir padaku yang jelas-jelas punya jenis kelamin sama dengan mereka.

“Terimakasih.”

“KYUHYUN! KYUHYUN! KAU DIMANA? KYUHYUUUUN!”

“Kyuhyun? Apa itu namamu?” Aku mengerjap saat mendengar suara melengking wanita itu menusuk telingaku. “Ibumu datang mencarimu.”

“Hm… yah, ibu tiriku.” Kyuhyun memasang tampang bosan tapi bibirnya masih tersenyum. “Sampai bertemu lagi, Sungminnie.”

Dia melambaikan tangannya riang.

Benar-benar anak yang polos.

oOo

“Eomma…” Aku melebarkan kedua lengan kecilku saat menghampiri lelaki cantik itu di sudut taman.

Itu Kim Heechul, ibu angkatku. Iya dia lelaki, tapi dia tetap ibu angkatku. Umurku 2 tahun saat diadopsi oleh pasangan gay Tan Hangeng dan Kim Heechul. Hangeng yang jadi ayah.

Aku tidak tahu kenapa Hangeng yang jadi ayah. Dia seperti banci. Sering pulang malam dan mabuk-mabukan. Beberapa kali Heechul dipukuli si pemabuk itu sampai babak belur. Biasanya Heechul menyembunyikanku di lemari dapur, jadi aku tidak pernah kena pukul Hangeng.

Kabar bagusnya, sekarang aku dan Heechul tinggal berdua saja. Hangeng sudah pergi dengan wanita aneh. Kalau tidak salah namanya Song… Chien? Qien? Aku lupa. Lafal namanya tidak jauh dengan cara mengucapkan ‘alien’ dalam bahasa Inggris.

Setelah ditinggal Hangeng, Heechul memutuskan untuk membawaku pindah ke Seoul. Terlalu banyak kenangan menyakitkan baginya di Beijing. Sebenarnya juga ini baru sebulan kami tinggal di Korea Selatan.

“YA AMPUN! SUNGMIN-AAAAH!”

Tapi setidaknya Hangeng lebih kalem, tidak parnoan seperti Heechul.

“KAU BARU DARIMANA SAJA, HAH?! LIHAT WAJAHMU LEBAM BEGITU! JAKETMU, ASTAGA! KENAPA BISA KOTOR BEGINI? DAN YA AMPUN KAU BAU SEKALI! SEPERTI BAU MUNTAHAN!”

Ngiiing… ngiiing… ngiiing…

Seperti bunyi nyamuk yang masuk ke kamarku malam-malam. Telingaku berdenging keras. Itulah kenapa aku benci suara melengking. Mirip suara Heechul. Jelek.

“Aku… jatuh di jalan.”

“APA? JATUH DI JALAN? JALAN YANG MANA? KAU LEBIH MIRIP ORANG YANG BARU MENGALAMI MABUK LAUT!”

Mabuk darat juga bisa. Bicara apa sih =,=

“Aku mau pulang.” Tangan mungilku meraih jari-jari panjang Heechul yang kukunya dilapisi kuteks merah muda berglitter. “Sakit… mau pulang.”

“Sakit?” Heechul mengerjap. Nada melengkingnya lenyap seketika. “Mana yang sakit, Min-ah?”

“Lengan kanan… terkilir.” Aku menunjuk lengan kananku dengan gigi kelinci sedikit menggigit bibir. Wajah Heechul langsung berubah tidak tega setelah itu.

“Astaga! Bagaimana bisa? Sebaiknya kita cepat ke dokter.” Heechul mengangkat pinggangku dan membawaku ke pelukannya.

Kami pasangan ibu dan anak yang aneh, dan lagi kami mengundang banyak perhatian dari seisi taman yang ramai. Tapi siapa peduli? Aku sayang Heechul dan Heechul sayang aku. Tidak ada yang bisa mengganggu kehidupan kami berdua.

oOo

“Si banci itu berangkat lagi.”

“Dia masih punya muka datang ke sekolah.”

“Kenapa sekolah kita mau menerima bocah freak seperti dia sih?”

Brakk!

Tiga bocah perempuan itu sontak diam saat aku menendang kursi. ‘Pemimpin’ mereka berdiri dengan mata melotot nyalang. “YAH! KAU! Berani melawan—”

“Joohyun-ah, kembali ke tempat dudukmu. Dan Sungmin-ah, ambil lagi kursimu dan tolong duduk.”

Aku mendecih pelan. Bu guru masuk sebelum bel mulai pelajaran berbunyi. Apa dia memang sengaja berangkat lebih awal?

“Anak-anak, hari ini ibu akan perkenalkan teman baru kalian.”

Aku mendongak dan mendapati wajah yang kukenal.

“Namanya Cho Kyuhyun. Dia pindahan dari Daegu. Kalian baik-baiklah padanya.”

“Tentu sajaa~”

Aku mendengar sorakan fangirling terutama dari tiga anak perempuan yang paling kubenci.

“Kyuhyun bisa duduk denganku~” Joohyun menendang Hyuna dari kursinya. Persahabatan perempuan memang indah.

“Apa disini kosong?”

Aku tidak tahu sejak kapan Kyuhyun duduk di kursi sampingku. “Disitu ada Jongwoon.”

“Tapi dia sedang tidak berangkat, kan?” Kyuhyun mencoba bernegosiasi dengan senyum polosnya.

“Ya, tapi—”

“Jadi kursi ini milikku.” Kyuhyun mengambil spidol dan menulis huruf Q di kursi.

“Tidak boleh mencoret-coret properti sekolah.”

“Kau peduli dengan itu?”

Sebenarnya tidak.

“Tapi tetap saja—”

“Ini milikku,” potong Kyuhyun final, anehnya dia mengatakannya dengan nada ramah. “Bilang pada Jongwoon untuk cari kursi lain.”

Aku menautkan alis.

Mungkin Kyuhyun tidak sepolos yang aku kira.

oOo

Grekk!

Pintu kelas ditutup dan aku merasa sial karena ditinggal piket sendirian.

“Jauhi Kyuhyun.” Itu yang dikatakan Hyuna dengan suara yang dibuat mengancam. “Joohyun menyukainya. Jadi kau harus jauh-jauh dari Kyuhyun.”

“Kau dengar itu?” Seulgi berkacak pinggang. “Turuti Joohyun jika kau tidak mau jaket kesayanganmu…”

Aku terbelalak. Joohyun sudah mengambil jaket yang—dengan bodohnya—kusampirkan di kursi. Bocah perempuan itu tersenyum meremehkan dan menggoyangkan jaketku di atas ember yang penuh dengan air pel kotor.

“Ja-jangan—”

aku malas kena marah Heechul lagi.

“Ja-jangan…” Seulgi menirukan suaraku dengan nada mengejek. “Hanya jaket murahan seperti itu saja.”

“Dan warnanya pink, eww…” Joohyun mengernyit jijik. “Warna begini dipakai anak laki-laki, ih…”

Dia berjalan mendekat ke arahku dan mencengkeram bahuku kuat.

“Tukar tempat duduk denganku.” Joohyun memiringkan kepalanya dengan senyum yang dibuat-buat. “Kau mau, kan?”

Aku tak merespon, masih terlalu fokus pada jaket yang dipegang Joohyun.

“HEI! CEPAT JAWAB, BODOH!” Joohyun mendorong kepalaku dengan telunjuknya.

Kurang a—

Blukk!

Aku melotot. Tiba-tiba Joohyun menjatuhkan jaketku ke lantai dan menginjaknya semena-mena.

“Uppss, maaf!” Joohyun mengerjap sok polos. “Aku tidak bisa memegang barang menjijikkan terlalu lama.”

Hyuna dan Seulgi tertawa keras melihat wajahku yang memucat syok. Joohyun sengaja menendang-nendang jaket itu ke arah ember dan mengangkat hoodie jaketku dengan ujung sepatunya, siap menjatuhkannya ke dalam genangan air pel keruh.

“Kenapa kau diam saja, Sungminnie? Cepat selamatkan jaketmu kalau bera—”

Dia tercekat saat aku mengangkat sebuah kursi.

BRAKKK!

Joohyun tersungkur. Aku meraih kursi lain, menyeretnya ke dekat Joohyun hingga menimbulkan bunyi derit yang terdengar keras dalam suasana hening.

“A-apa yang kau…” Joohyun mundur susah payah, matanya membeliak dengan wajah pucat. “Ja-jangan…”

BRAKKK! BRAKKK! BRAKKK!

Aku memukulkan kursinya berkali-kali ke tubuh ringkih Joohyun. Bocah perempuan itu terpekik kesakitan, mati-matian melindungi diri dengan kedua lengan kurusnya yang mulai dihiasi lebam-lebam biru.

“Seo Joohyun.”

Aku melepas kursi dari genggamanku. Memandang dingin ke arah tubuh gemetar Joohyun yang meringkuk ketakutan.

“Selama ini aku mengalah karena kau perempuan.” Mataku menggelap. “Tapi sepertinya aku sudah muak terus-terusan mendengar suaramu yang menjijikkan.”

Rintihan Joohyun mulai berubah menjadi isakan lirih.

“Jika lain kali kau menindasku lagi—” aku menekan setiap kata-kataku tajam, “—aku tidak akan segan-segan.”

Aku berbalik, melangkah begitu saja melewati Hyuna dan Seulgi yang menyingkir ketakutan. Baru saja aku ingin mengambil jaketku dari lantai, tiba-tiba ada tangan lain yang mengambilnya.

Aku mendongak geram. “Kembalikan!”

Dia hanya tersenyum dan berlari keluar kelas.

Cho Kyuhyun.

Sekuat tenaga aku berlari mengejar dan menghadangnya di belokan koridor.

“Kupikir kau sedang piket, Sungminnie.” Kyuhyun tersenyum ringan saat aku merebut jaket dari tangannya paksa. “Ternyata kau malah membuat kelas jadi lebih berantakan.”

Aku meremas jaketku geram. “Jangan panggil aku Sungminnie.”

Kyuhyun memiringkan kepalanya, mata obskurit di balik kacamatanya itu menatapku lekat. “Kau tidak semanis yang kukira, Sungmin.” Senyumnya berubah menjadi seringai.

Aku menautkan alis. Kyuhyun terlihat lain.

“Aku jadi menyukaimu.” Kyuhyun melepas kacamatanya.

Tiba-tiba bocah itu menarik leherku dan mencium bibirku lembut.

Aku terbelalak.

Apa maksudnya?

Tangannya menjauh dari leherku, dan aku menyadari ada sesuatu yang tergantung disana—kalung perak dengan leontin ‘Q’ di ujungnya. Aku menautkan alis bingung. “Ini apa—”

“Kau milikku.”

Aku terperangah melihat senyum ceria Kyuhyun yang entah kenapa terlihat mengerikan.

“Kau milikku, Sungmin.”

oOo

To Be Continued

CLICK HERE TO POST COMMENT

Advertisements