Baby Love

“Sungminnie jatuh cinta yaa?”

Si kecil Sungmin nyaris menjatuhkan bola plastik dari pelukannya. Mata rubahnya membulat lebar. Dia tidak tahu apa itu ‘jatuh cinta’, tapi tatapan dan senyum jahil ibunya sudah cukup membuatnya merasa terpojok. “A-aku tidak…”

“Wajahmu tidak bisa bohong~” Kyeongsuk mencubit pipi buah hatinya yang merona merah muda. “Apa Joonyoungie setampan itu? Sampai bisa menarik perhatian pangeran kecil eomma?”

Sungmin mengerjap dua kali. “Bukan Joonnie hyung…”

Kyeongsuk membulatkan matanya terkejut. Kali ini dia berjongkok dan menatap Sungmin dengan senyum manis. “Lalu siapa?” Jemarinya mengelus lembut rambut hitam legam Sungmin. “Apa Yoomi ahjumma?”

Rona merah pipi Sungmin semakin pekat. “I-itu…”

Grep!

“Sungminnie…” Wangi mawar ibunya menguasai indra penciuman Sungmin dengan suara lembut yang berbisik, “Sebenarnya ada pangeran yang sangat-sangat tampan sedang menunggu Sungminnie di masa depan. Jadi Sungminnie jangan melihat orang lain, ya?”

oOo

Falling Without You

by Kiri-chan

Main Pair : Kyuhyun/Sungmin

Disclaimer : this fanfiction is mine, only the character names are taken from South Korean boyband Super Junior.

Warning : It’s shounen-ai, you’ve been warned. Don’t like don’t read.

~ Sidestory 2 ~

Baby Love

oOo

Angin yang berhembus di atap Seoul Senior High seolah mengantar suara video yang diputar dengan speaker nyaring.

Kyuhyun-ah~ mana senyumnya?”

Nyaa! Nyaa! Nyaa!”

Beri salam pada Sungmin-ah~”

Sungmin menghela napas. Mengenali sosok tinggi dengan rambut hazel yang diterpa angin, mata obsidian yang fokus menatap video dalam layar smartphone, wajah pucat dan senyum tampan yang terlihat bahagia.

Itu Cho Kyuhyun.

Kutukan ibunya dari surga.

“Kau tidak bosan menonton itu?” Sungmin menghampiri Kyuhyun, ikut menyandarkan lengannya pada pagar pembatas. “Kau sudah berkali-kali menontonnya di rumah.”

File aslinya berupa kaset video rekaman yang ditemukan seorang paman dari keluarga Cho di kamar Hanna omonim. Ada catatan dengan tulisan tangan di permukaan kotak pembungkusnya.

.

Untuk dua anak lelaki kami yang manis, Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin.

Semoga kalian berdua bahagia.

.

Mereka menontonnya bersama malam itu juga. Video rekaman sekitar 15 atau 16 tahun yang lalu, saat pertama kalinya Kyuhyun dan Sungmin bertemu. Hanya berisi adegan tidak asing yang pernah mereka lihat dari album foto. Tapi tentu saja, foto dan video kan beda. Dalam video mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana Kyuhyun yang masih berusia 1,4 tahun merangkak pelan di atas ranjang sebelum meraih dan menggenggam tangan Sungmin yang berusia 5 bulan.

Tap!

Sungmin menarik napas. Kyuhyun kembali menekan tombol replay setelah videonya berhenti, mengulang adegan yang sama lagi.

Kyuhyun benar-benar maniak.

Kau harus lihat bagaimana dia mati-matian merekam layar televisi—yang sedang memutar video itu—dengan ponselnya, berusaha keras mempertahankan posisi agar setiap adegan terekam dengan baik sampai akhir. Kaset videonya memang berupa film yang tak bisa dicopy dalam komputer.

Ditambah lagi, Kyuhyun memutar video rekaman itu dengan ponselnya setiap akan pergi tidur.

Dasar orang gila.

Grep!

Sungmin menggenggam jemari Kyuhyun tanpa aba-aba. Menatap datar wajah kaget kekasihnya yang tersentak.

“M-Min?”

“Apa video itu lebih menarik daripada aku?”

Kalimat itu digunakan Ryeowook untuk menarik perhatian Yesung yang terlalu tenggelam dalam komposisi lagunya. Tapi Sungmin tak yakin dia sanggup melakukan ekspresi yang persis sama. Ryeowook membulatkan matanya sampai terlihat bersinar dan menggembungkan pipi sambil mengerucutkan bibir. Sungmin merasa dirinya pasti terlihat mengerikan jika melakukan itu.

“Yang di dalam video juga kamu, Min.” Kyuhyun tertawa kecil, membalas genggaman tangan Sungmin dan mengelus tangan mungil itu dengan ibu jarinya. “Lihat, wajahmu tidak banyak berubah.”

“Aku tidak ingin menontonnya lagi.” Sungmin berpaling saat Kyuhyun menyodorkan ponsel ke arahnya.

Kyuhyun tersenyum maklum. Dengan penuh pengertian mengunci layar dengan tangan kiri dan memasukkan ponsel itu ke saku celana.

“Kenapa?”

Sungmin tak merespon.

“Apa karena seharusnya kita memutar video itu setelah menikah?”

“Hwangji ahjussi bilang memang itu yang diinginkan Hanna omonim.” Sungmin menjawab lirih.

Kyuhyun tertawa lagi. Kali ini menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Sungmin. “Hei, kau sendiri juga penasaran sebelum kita menonton video itu untuk pertama kalinya.” Telunjuk kirinya menusuk pipi Sungmin gemas. “Dan sekarang kau menyesal, Min?”

Sungmin menjauh tanpa melepas tangan kanannya yang masih bertautan dengan Kyuhyun. “Kau juga seharusnya menyesal.”

“Tentu saja tidak,” bantah Kyuhyun ringan. “Aku justru kesal karena orangtua kita mencoba menyimpan kejutan-kejutan semacam itu. Lebih baik mereka terus terang dan menjodohkan kita sejak kecil. Dengan begitu aku tidak akan pernah melihat orang lain selain dirimu.”

Sungmin tersenyum. “Tapi aku tidak merasa mereka salah,” sahutnya tenang. “Kita jadi tahu bagaimana rasanya menyukai orang lain dan membandingkannya dengan perasaan kita sekarang.”

“Apa ada orang di masa lalu yang lebih kau sukai daripada aku?” Mata Kyuhyun menyipit.

“Aku tidak akan memilihmu jika aku lebih menyukai orang lain, Kyu.”

Kyuhyun terpaku sejenak sebelum tersenyum lebih lebar lagi. Rona merah menjalar di pipi pucatnya. “Aku mencintaimu.” Kyuhyun mengecup jemari Sungmin lembut. “Lebih dari siapapun.”

Terkadang Sungmin merasa Kyuhyun konyol dan terlalu cheesy seperti tokoh utama pria dalam drama roman picisan, tapi justru tingkahnya itu yang membuat Sungmin sering kehilangan fokus.

“Yah, aku juga.” Sungmin tersenyum tipis.

“Mau datang ke aula nanti siang?” bisik Kyuhyun dengan senyumnya yang hangat. “Aku akan menyanyi untukmu jika kau datang.”

“Konser KRY?” Sungmin memiringkan kepalanya. “Aku tak yakin bisa datang atau tidak.”

Kyuhyun mengecup pipi Sungmin. “Jangan bercanda, Min.”

“Kau tidak akan menyanyikan lagu itu kan?”

Kyuhyun mengerjap. “Lagu apa?”

Sungmin menyeringai manis. “Marry You.”

Kyuhyun terbelalak.

“Aku mencoba memainkannya dengan piano di ruang klubmu kemarin. Manis sekali.” Sungmin mengulum senyumnya. “Dapat inspirasi darimana?”

Kyuhyun menutup wajahnya dengan tangan. Ampun, itu komposisi barunya. Siapa yang membocorkannya pada Sungmin? Yesung hyung? Ryeowook?

“Ryeowook hyung.” Sungmin seolah menjawab pertanyaan batin Kyuhyun.

“Aku tahu.” Kyuhyun menjentikkan jarinya kesal. “Yesung hyung perlu membelikannya lakban.”

“Jangan kejam begitu.” Sungmin tertawa pelan. “Lagipula bukankah lagu itu terlalu cepat dinyanyikan di usia belasan?”

Kyuhyun menghela napas. “Jangan mulai lagi, Min,” desahnya putus asa.

Tawa Sungmin semakin berderai. Hal yang sangat langka dan manis, tapi malah membuat Kyuhyun ingin terjun ke bawah bila mengingat apa yang membuat kekasihnya itu tertawa.

Oke… flashback sedikit.

Setelah Kyuhyun melamar Sungmin waktu itu, mereka berdua segera mengunjungi suatu gereja dan menemukan fakta mereka masih di bawah umur untuk mengungkap sumpah pernikahan. Pasturnya juga bilang mereka masih punya waktu panjang untuk mencari pengantin wanita masing-masing.

Crap.

Itu gereja tempat Hyukjae dan Lee Sooman dipaksa menikah, ya ampun. Kyuhyun bisa mencium aroma busuk konspirasi Lee Sooman dari jauh.

Kyuhyun tidak akan terlalu ambil hati jika saja Sungmin tidak menyuruhnya menyimpan kembali cincin mereka dan berkata,

Kurasa kita masih perlu memikirkan banyak hal untuk menikah, Kyu. Apa kau bisa menunggu sampai kita dewasa? Aku tidak ingin buru-buru.”

Sungmin mengatakan semuanya dengan senyum manis yang irresistible, tapi menyiksa.

Dia sudah menerima lamaran Kyuhyun tadi, tadinya. Tapi nasihat pastur itu sepertinya sukses mengubah mood Sungmin.

Kyuhyun punya hasrat kuat untuk membenturkan kepalanya ke dinding.

“Kyu?” Sungmin menautkan alis saat Kyuhyun menendang-nendang pagar pembatas sekuat tenaga. “Kau baik-baik saja?”

“I-iya.” Kyuhyun nyengir serba salah, baru sadar dengan apa yang dia lakukan.

“Kau marah ya?”

“Tidak.” Kyuhyun membuang muka. “Lagipula kau sudah mau kembali satu sekolah denganku. Itu saja sudah cukup kok.”

“Kyu, aku—”

“Aku tahu, Min. Aku tahu.” Kyuhyun mengangkat sebelah tangannya. “Kau lelah dengan formalitas. Dengan pertunangan, pernikahan, dan entah apapun itu. Kau ingin pacaran dulu seperti remaja lain dan bersenang-senang dengan bebas.”

Sungmin menatap khawatir. “Kau keberatan?”

“Bukannya aku keberatan, Min.” Fokus mata Kyuhyun kembali pada Sungmin, dan dia jadi ragu untuk mengatakannya. “Aku hanya—”

Grep!

Wangi Coeur de Vanille menyapa indra penciuman Kyuhyun. Parfum hadiah yang sebenarnya tidak ingin dipakai Sungmin, tapi Kyuhyun iseng menyemprotkannya ke seragam Sungmin tadi pagi.

“Apa?” Sungmin mendongak dari dada Kyuhyun. Niatnya ingin menghibur Kyuhyun, tapi instingnya berubah waspada saat tatapan Kyuhyun mulai aneh.

“Tidak.” Kyuhyun tersenyum lebar, dengan sigap menahan Sungmin yang ingin melepas pelukannya. “Wanginya masih ada.”

Kyuhyun menarik kakinya tangkas saat Sungmin hampir menginjaknya.

“Salahmu, kan?” Sungmin menatap sengit.

Kyuhyun tersenyum menggoda, sekilas menghirup wangi leher Sungmin. “Lagipula cocok untukmu, Min. Manis.”

Lidahnya mengelus titik sensitif disana dengan lembut.

Panas.

Sungmin menjauhkan lehernya dari Kyuhyun, belum terbiasa dengan rasa aneh yang menghentak debar jantungnya.

“Aku bawa bubuk merica dari kelas kuliner tadi,” ancam Sungmin serius saat Kyuhyun mencoba kembali mendekat.

Kyuhyun mengerjap sebelum terkekeh geli. “Halo, Min. Aku Kyu, pacarmu.”

“Bubuk merica tidak pandang bulu, Kyu.”

Kyuhyun tergelak keras, tapi dia tetap mengangkat kedua tangannya. “Oke, oke. Aku menyerah.”

Tatapan Sungmin melunak, terlihat lega.

“Ngomong-ngomong Donghae hyung mengira kita sudah menikah.” Sungmin bergumam pelan. “Dia bahkan memberi ucapan selamat padaku.”

Kyuhyun melotot. “Serius?!”

Sungmin mengangguk. “Hanya karena aku pakai cincin di jari manis tangan kanan.”

Kyuhyun hampir tersedak. Cincin perak dengan hiasan four-leaf clover dari kaca plastik berwarna biru. Sungmin bersikeras membelinya karena penjualnya bilang cincin seperti itu langka.

“Bahkan itu bukan couple ring,” desis Kyuhyun kesal.

Kyuhyun sempat mencak-mencak di depan penjualnya yang mengatakan ‘ini limited edition lho, kakak’ yang membuat Sungmin makin berbinar-binar ingin membelinya. Kyuhyun bersumpah tidak akan melewati jalan itu lagi jika ingin mengajak Sungmin ke Lotte World lain kali. Pasti penjual itu tidak punya pacar, masa cincin pasangan saja tidak jual? Derita batin Kyuhyun yang gagal beli couple ring karena bujuk rayu penjual sialan.

“Hanya replika semanggi berdaun empat, itu tidak akan memberimu keberuntungan.” Kyuhyun mengacak rambut pirang platinum Sungmin gemas. “Buang saja, Min. Kita cari yang lain.”

“Tidak mau.” Sungmin menggembungkan pipinya. “Lagipula aku merasa beruntung kok.”

Kyuhyun yang jantungan melihat keimutan overload Sungmin yang mendadak hanya bisa bertanya gugup, “K-kenapa?”

“Karena aku memiliki Kyu,” Senyum Sungmin merekah indah, bahkan mata rubahnya juga ikut bersinar, “jadi aku merasa beruntung.”

Oh, lihat siapa yang cheesy sekarang. Sepertinya Kyuhyun butuh donor jantung.

Bruk!

Sungmin terbelalak. “Kyu? Kyuhyun!” Dia menepuk-nepuk panik tubuh Kyuhyun yang ambruk ke arahnya. “Kyu! Kok pingsan sih?!”

oOo

“Pe-permisi.”

Seingat Sungmin dia tidak pernah kekurangan kalsium, tapi kenapa tubuhnya bisa mungil begini? Napasnya sudah hampir habis saat berjuang memperebutkan roti kari di antara kerumunan siswa yang berebut.

Ini sudah hampir bel selesai istirahat, ya Tuhan. Apa begini rasanya di kantin sekolah negeri? batin Sungmin merana.

Grep!

Sungmin nyaris terjatuh jika tidak ada tangan yang tangkas menahan lengannya.

“Hyukjae hyung?”

“Kau belum makan?” Hyukjae menarik Sungmin menjauh dari kerumunan. “Jangan jajan jam segini lagi, Sungmin-ah. Kantin pasti penuh dengan anggota klub basket yang baru selesai latihan.”

“Roti… kari.”

“Hm?”

“Roti kariii…” Sungmin menatap memelas sampai berkaca-kaca. Dia capek sekali, sungguh.

Grepp!

Hyukjae memeluk Sungmin dengan mata berbinar-benar. Siapapun yang membuat kelinci kecil ini kesusahan di alam liar benar-benar tidak bisa dimaafkan! batin Hyukjae menggebu.

“Dimana Kyuhyun?”

“Roti kari, hyuuung.”

Hyukjae menggelengkan kepalanya prihatin. “Oke, sayang. Biar hyung jadi Kyuhyunmu sementara, ya?” ucapnya sambil mengusap punggung Sungmin menenangkan. “Mau berapa roti?”

“Tiga.”

Hyukjae segera melesat, tubuh jangkungnya menembus kerumunan dengan mudah. Sungmin jadi agak iri.

“Ini.”

Sungmin mengerjap. Dalam waktu dua menit Hyukjae sudah kembali. Benar-benar profesional.

“Terimakasih banyak, hyung.” Sungmin menerima plastik yang disodorkan Hyukjae dengan takjub, apalagi saat menyadari Hyukjae juga membeli roti untuk dirinya sendiri. “Bagaimana kau bisa melakukan itu?”

“Apa? Berebut makanan dengan orang sebanyak itu?” Hyukjae memamerkan gummy smilenya. “Tentu saja pengalaman, Sungminnie. Pengalaman. Kau harus lihat bagaimana aku dan ibuku berebut baju diskonan. Kami hebat sekali!”

Sungmin tertawa geli. Seolah es yang biasa menaungi ekspresinya meleleh tanpa sisa. Tidak heran Donghae dan Kyuhyun menyebut Hyukjae seperti matahari.

Aaah… imuuuutt… andaikan Hae bisa seimut ini, batin Hyukjae gemas melihat wajah tertawa Sungmin.

“Kau suka sekali roti kari ya?” tanya Hyukjae ramah setelah tawa Sungmin mereda. “Sampai beli tiga.”

Sungmin menggeleng. “Bukan aku, hyung,” jawabnya dengan senyum manis. “Kyu yang kelaparan sampai pingsan. Dia lupa sarapan tadi pagi.”

Hyukjae menegang.

“Maksudmu… kau meninggalkannya di UKS?”

Sungmin menatap heran. “Memangnya kenapa, hyu—”

Hyukjae sontak menarik Sungmin dan berlari ke UKS tanpa buang waktu lagi.

oOo

“Aah~ Kyuhyunnie~”

Desahan itu terdengar keras. Seorang wanita berumur matang dengan rok mini dan kemeja seksi yang dilapisi jas putih sedang melarikan jemarinya pada kulit dada Kyuhyun yang—entah bagaimana—terbuka.

Hyukjae berteriak panik. “SEONSAENGNIM!”

Brukkk!

“Ouch!”

Hyukjae melotot.

Sungmin—yang tenang dan manis itu—baru saja melempar plastik rotinya sekuat tenaga tepat di kepala guru penjaga UKS.

Seumur hidup. Belum pernah. Seorang Lee Sungmin. Semarah. Ini.

“MENYINGKIR DARI KYUHYUN!”

Jantung Hyukjae copot. Ingin lari ke pelukan Donghae. Ke pelukan ibu. Siapapun. Sumpah air matanya sampai menggenang walaupun bukan dia yang dibentak.

“Ma-maaf.” Si guru UKS memucat, menangis tanpa sadar. Dengan gemetar turun dari ranjang Kyuhyun.

Bruk!

Dia jatuh tersungkur di hadapan Sungmin karena tak bisa mengendalikan high-heelsnya dengan benar. Sekitar 10 detik tertekan di bawah death glare Sungmin, akhirnya wanita itu bangkit kembali dan berlari keluar dengan sedu sedan yang cukup keras.

“Kyu!” Tatapan dingin Sungmin berubah cemas, buru-buru menghampiri Kyuhyun dan mengecek kondisinya.

Masih pingsan. Tidak ada kissmark. Permukaan bibir kering. Tatanan rambut normal. Sabuk celana masih terpasang.

Sungmin menarik napas lega.

Sepertinya wanita itu baru sempat membuka kemeja Kyuhyun saat Sungmin dan Hyukjae datang.

“Syukurlah Kyu baik-ba—” Sungmin mengerjap bingung ke arah Hyukjae yang memeluk kaki ranjang sambil menangis gemetaran. “K-kau kenapa, hyung?”

“Eommaaaa… Haeeee…”

“EUNHYUKKIE!” Entah mendapat sinyal darimana tiba-tiba Donghae datang membuka pintu UKS dengan brutal. “Hyuk?! Kau kenapa?! Jangan bilang kau diperkosa Song seonsaengnim?!”

Mata Donghae berputar nyalang mencari si tersangka. Saat dia melihat Kyuhyun dengan kemeja terbuka, darahnya seketika mendidih.

“BRENGSEK KAU, CHO KYU—”

“Hyung!” Sungmin menahan Donghae cekatan. “Justru Kyuhyun yang nyaris diperkosa… ng… Song seonsaengnim?”

Donghae mengerjap kaget. “Ah, begitu ya?” Pemuda ikan itu menatap penuh rasa bersalah. “Maaf aku salah paham, Sungmin-ah.”

“S-sebaiknya ja-jangan pernah datang ke UKS lagi.” Hyukjae bicara patah-patah karena isakan. “Gu… ru penjaga UKSnya me-mengerikan…”

“Hyuk, apa tindakan Song seonsaeng terhadap Kyuhyun begitu mengerikan sampai kau menangis begini?” Donghae memeluk Hyukjae lembut. “Cup… cup… Eunhyuk baby~ oppa disini untukmu, sayangku~”

Jitakan Hyukjae langsung mendarat di jidat Donghae.

“Oppa?! Memangnya aku adik perempuanmu?!” bantah Hyukjae sengit.

“Tapi itu juga panggilan imut untuk kekasih.” Donghae mencoba membujuk dengan puppy eyesnya.

Hyukjae merona tapi buru-buru membuang muka. “Apapun selain oppa!”

Donghae tersenyum nakal. “Yeobo?” Dia melompat menjauh dari Hyukjae, menghindari aksi yang lebih berbahaya dari sekedar jitakan.

“Yah! Hae!” Hyukjae mengejar Donghae keluar UKS.

Sungmin tersenyum mengamati interaksi pasangan hiperaktif itu sambil mengancingkan kemeja Kyuhyun, bahkan sampai kancing paling atas.

“Min…” Bibir Kyuhyun bergerak.

Sungmin menoleh. “Hm?”

“Aku mimpi buruk.”

Sungmin menatap datar. “Kau yakin mimpi buruk? Bukan mimpi basah?”

Mungkin Kyuhyun akan melotot dan mencak-mencak jika kondisinya tidak sedang lemah.

“Sungguh, mimpi buruk.” Kyuhyun menarik ujung blazer Sungmin pelan. “Ada singa mencakar-cakar dadaku sampai robek dan berdarah-darah.”

“Iya, singa betina.” Sungmin menghela napas. “Makan sekarang, Kyu? Roti karimu sudah datang.”

“Suapi aku.”

Sungmin menghela napas lagi. Membantu Kyuhyun bersandar dengan posisi yang cukup tegak. Menyobek rotinya sedikit dan menyodorkannya ke bibir Kyuhyun.

“Tubuhmu lemah sekali.” Sungmin menatap prihatin. “Baru begini saja sudah pingsan.”

“Jangan bilang aku lemah.” Kyuhyun mencoba menatap tajam tapi gagal. “Aku pemegang sabuk hitam taekwondo, ingat? Kau bahkan belum sampai levelku.”

Sungmin mendengus samar. “Tapi aku menjaga kesehatanku lebih darimu,” tegasnya yang tak bisa dibantah. “Bagaimana kau bisa lupa sarapan sih?”

“Aku terlalu bersemangat keluar rumah pagi-pagi demi menjemputmu.”

Mata Sungmin melebar. “Dan saat istirahat kau langsung ke atap sekolah dan menonton video itu lagi.” Sungmin menggelengkan kepalanya tak percaya. “Kau tidak makan sama sekali.”

Kyuhyun mengunyah roti karinya dalam diam. Tatapan Sungmin membuatnya merasa bersalah.

PIPIPIPI!

Sungmin menyambar ponsel Kyuhyun tanpa izin.

“Ya, Yesung hyung? Kyu tak bisa tampil hari ini, kondisinya tidak memungkinkan. Kau duet dengan Ryeowook hyung saja, oke? Atau ajak Donghae hyung.”

Pik!

Kyuhyun melongo. “Min, kau—” Terpaksa bungkam lagi karena Sungmin melayangkan tatapan tajamnya.

“Aku pacarmu, Cho Kyuhyun. Bukan baby sitter.” Sungmin menyumpal potongan roti terakhir ke mulut Kyuhyun. “Apa begini caramu mencintai seseorang? Terlalu mementingkan orang itu sampai tidak peduli pada diri sendiri?”

Ya, memang. Kyuhyun ingin bilang begitu tapi tatapan Sungmin tak mengizinkannya.

“Dulu kau sendiri yang bilang ‘laki-laki harus jaga kesehatan’, kan? Tapi kenapa kau begini?” Mata Sungmin berubah sedih. “Aku kecewa padamu, Kyu.”

Hening.

Kyuhyun mengakui dia terlalu tenggelam dalam euforia akhir-akhir ini. Mendapatkan Sungmin sebagai miliknya dan membalas perasaannya masih terasa seperti mimpi. Jujur Kyuhyun baru pernah merasakan hari-hari penuh kebahagiaan tanpa konflik sama sekali. Dia jadi lupa diri.

“Maaf, Min.”

Cup!

Kyuhyun tertegun. Mendapati rasa lembut bibir Sungmin melekat malu-malu di bibirnya.

Ini pertama kali Sungmin menciumnya duluan meski hanya sekilas.

“Kyu…” Sungmin menatap serius dengan pipi memerah. “Jangan buat aku khawatir lagi, ya?”

Ya, Tuhan. Degup jantung Kyuhyun menghentak liar, nyaris meledak. Euforia yang familiar itu kembali memenuhi dadanya. Apa tidak masalah jika dia kembali lupa diri? Apa tidak masalah jika dia—

Bibir pasangan itu kembali menyatu, Kyuhyun yang berinisiatif kali ini. Dan langkah yang diambil Kyuhyun tidak mungkin hanya berlangsung singkat.

Bruk!

Entah bagaimana kini posisi berbalik, Sungmin terkunci di ranjang dengan Kyuhyun yang mengurungnya. Bibir pinkishnya terbuka mencari oksigen, sayang Kyuhyun kembali menutupnya dengan liar.

“Ukh… Kyu…” Sungmin berontak lemah.

Udara di sekitar mulai aneh. Detak jantung keduanya semakin tidak normal, semakin terdesak. Ujung jemari Kyuhyun mengabsen kancing seragam Sungmin, perlahan meloloskannya beberapa, mengekspos leher putih yang menjadi target berikutnya.

“K—”

Jangan panggil namanya! Jangan!

“Hentikan!”

Kyuhyun membeku. Bibirnya terangkat dari noda merah yang tercetak di kulit halus Sungmin. “Min…?”

Sungmin tidak menangis. Tapi matanya memancarkan ketakutan, sangat. Bahkan tubuh mungilnya gemetar. Sungmin kelihatan kacau, berantakan, dan rapuh.

“Min?” Kyuhyun terbelalak cemas. Apa aku salah? Apa aku— “Maaf… maafkan aku, Min.”

Diangkatnya tubuh rapuh itu, memeluknya erat di dada. Menutupi bagian yang terbuka dengan kedua lengannya.

“Apa aku terlalu terburu-buru? Terlalu kasar?”

Sungmin tak merespon.

“Apa aku menakutimu?”

Hening cukup lama sebelum Kyuhyun merasakan gelengan Sungmin menggesek kemejanya.

“Aku hanya… terkejut.” Suara creamy itu seperti ditelan angin. “Aku tidak apa-apa.”

“Maaf…” Bahu Kyuhyun merosot penuh rasa bersalah.

Sungmin melepaskan diri dari dekapan Kyuhyun. Sosoknya membuat Kyuhyun terpaku. Rambut pirang platinum yang berantakan, pipi yang merona, mata karamel yang sayu, bibir pinkish yang basah, seragam yang merosot sampai bahu dengan beberapa tanda kepemilikan yang menghias permukaan kulit putih pualam.

Menggoda.

Tapi tak bisa disentuh.

Ujung jemari Kyuhyun gemetar saat berusaha menggapai Sungmin. Membenahi seragamnya hati-hati, mengancingkan kemejanya kembali dengan baik.

“Maaf.”

Kyuhyun mengusap rambut Sungmin, merapikan tiap helainya dengan lembut dan perlahan.

“Maaf.”

Kedua telapak tangan Kyuhyun menangkup wajah Sungmin, menatap mata rubah indahnya dalam.

“Maaf.”

Kyuhyun mengecup dahi Sungmin penuh kasih.

“Maafkan aku.”

Sungmin memejamkan matanya.

Tidak… dia tidak marah. Sama sekali. Dia juga tidak menyalahkan Kyuhyun. Dia hanya belum beradaptasi dengan suasana asing seperti ini.

Debar jantungnya terasa deras seperti air sungai saat hujan.

Tak bisa dikontrol.

oOo

Tok! Tok!

“Tuan muda Sungmin?”

Sungmin berusaha menahan kantuk saat menyeret langkahnya ke arah pintu. Ini minggu pagi. Jendela belum dibuka tapi terlihat sinar mentari yang agak tinggi dari kaca ventilasi.

Cklek!

“Ah, ini titipan dari tuan Kyuhyun,” ucap maid itu sambil menyodorkan benda berwarna baby pink pada Sungmin. “Tuan Kyuhyun menunggu di air mancur taman kota jika tuan muda mau menemuinya.”

Hati Sungmin berdetak.

“Terimakasih.” Sungmin tersenyum manis dan mengambil titipan Kyuhyun, membuat pipi maid yang masih baru itu memerah saat tangan mereka bersentuhan sekilas. “Dan tolong sampaikan pada Byun ahjussi tidak perlu siapkan sarapan. Aku ingin makan di luar saja.”

“B-baiklah, tuan muda.”

Sungmin menutup pintu tanpa menyadari gadis pelayannya masih berdiri gugup dan menatapnya penuh harap.

“Fujifilm Instax Mini 8.” Sungmin menimang kamera baby pink di tangannya, dia pernah melihat Ryeowook membawa kamera serupa tapi dengan warna biru muda. “Kyuhyun repot-repot sekali.”

Aku tidak suka selca.”

Eh? Kenapa, Min?”

Tidak penting. Lagipula aku tidak punya akun social media yang mengharuskanku mengupload foto.”

Tapi kau bisa menatanya di album foto, kan?”

Terlalu merepotkan membawanya ke tempat cuci foto.”

Kau bisa print sendiri.”

Sama saja merepotkan.”

Kalau begitu aku akan membelikanmu kamera polaroid untuk kencan berikutnya.”

Kyu, aku—”

Jangan menolak, Min. Mungkin kita satu-satunya pasangan di Korea Selatan yang belum pernah selca bersama.”

Kyuhyun memang selalu menuruti semua keinginan Sungmin, tapi di sisi lain dia bisa menjadi sangat pemaksa. 13 panggilan yang diabaikan Sungmin semalam tidak membuat Kyuhyun menyerah.

Air mancur taman kota?

Sungmin menghela napas. Dia hanya ingin break satu dua hari karena hatinya belum siap. Langkah nekat Kyuhyun di UKS kemarin siang membuat Sungmin tak bisa tidur semalaman.

Apa dia tidak bisa menunggu sampai aku tenang sedikit? Sungmin meremas kain piyamanya di bagian dada, benar-benar manusia keras kepala.

Sungmin meletakkan kameranya di meja nakas, tepat di sebelah cincin clover biru dan parfum vanila yang dibelikan Kyuhyun dari kencan sebelumnya.

“Hari ini… kencan ketiga ya?”

Pemuda manis itu mengacak rambutnya sekilas sebelum berjalan menuju kamar mandi.

oOo

Kyuhyun menatap air mancur di depannya setelah beberapa kali berjalan mondar-mandir. Tadi dia sempat tidak sengaja menabrak anak kecil dan membuat balon anak itu terbang dan tersangkut di pohon. Gadis-gadis yang tadinya terpesona melihatnya sampai melongo melihat Kyuhyun susah payah memanjat pohon demi mengambil balon tadi, belum lagi ulat bulu yang berkumpul disana membuat Kyuhyun kelimpungan mirip monyet berkutu.

“Min…” desah Kyuhyun nelangsa, sudah satu jam dia menunggu. “Jangan bilang kau tidak akan datang. Segitu marahnya padaku?”

Ckrek!

Kyuhyun mengerjap saat mendengar suara shutter kamera dari arah samping. Matanya menemukan wajah Sungmin yang sebagian terhalang kamera.

Dia datang.

Kyuhyun terpana. Bahkan kertas polaroid yang keluar dari kamera Sungmin terlihat seperti slow motion bagi Kyuhyun.

“Kau kacau sekali,” komentar Sungmin sembari mengibas-ngibaskan kertas polaroidnya supaya gambar disana lebih cepat muncul. “Baru dari hutan?”

“Kau lama sekali.” Kyuhyun cemberut.

“Salahmu sendiri menunggu seseorang yang tidak jelas akan datang atau tidak.” Sungmin tersenyum memperhatikan foto di tangannya—Kyuhyun dengan rambut hazel berantakan yang dihiasi daun, bahkan ada ranting kecil di celah kerah jaketnya. “Hei, Kyu. Kau terlihat sangat natural.”

“Jangan memotret sembarangan, Min.” Kyuhyun berusaha merebut foto itu dari tangan Sungmin, tapi Sungmin lebih cepat menghindar. “Kau tahu kamera itu digunakan untuk kencan kita saja.”

“Kau pelit—” Sungmin pura-pura cemberut, “—dan juga pemaksa.”

“Kalau aku pemaksa aku tidak akan capek-capek bersabar menunggumu disini, Min. Aku pasti sudah menjemputmu dan menyeretmu keluar dari kamar sejak pagi tadi.” Jemari Kyuhyun terangkat, berniat mengusap rambut Sungmin tapi kekasih mungilnya itu tersentak mundur dengan mata membulat lebar.

Kyuhyun terdiam.

“Min?”

“I-iya?”

Kyuhyun menarik tangannya, menatap Sungmin lekat. “Soal kemarin, maaf aku—”

“Tidak perlu minta maaf, Kyu.” Sungmin menggeleng cepat. “Kau tidak salah.”

Kyuhyun menghela napas. “Kau berkali-kali bilang begitu, tapi sikapmu berubah. Semalam kau bahkan tidak menjawab pesan atau mengangkat teleponku sama sekali.”

“Aku hanya—” Sungmin menunduk, “—perlu waktu untuk menyesuaikan diri denganmu.”

Pernyataan itu menyentak Kyuhyun. “Min…” Kyuhyun hanya bisa menarik napas resah. “Apa… kau ingin break sebentar?”

Sungmin menatap ragu.

Di luar sifatnya yang terkadang pemaksa, mungkin saja Kyuhyun sendiri juga sering memaksakan diri untuk menyesuaikan keinginan Sungmin. Seperti pernikahan yang tertunda itu, misalnya? Sungmin menggigit bibirnya penuh rasa bersalah.

Bruk!

Sungmin oleng, matanya terbelalak saat kamera di tangannya nyaris tergelincir. Beruntung Kyuhyun menahan bahu dan tangannya cepat.

“Hei, jangan berlari di jalan umum!” Kyuhyun menegur pemuda yang menabrak Sungmin dengan wajah kesal.

Sungmin melihat gitar di punggung pemuda itu. Pantas saja bahunya berdenyut ditabrak benda sekeras itu.

“Maaf, aku buru-bu—” Pemuda itu terpana sejenak. “Sungmin?”

Sungmin terkejut.

“Hei, kau Sungmin kan?” Pemuda itu tersenyum begitu cerah.

Kyuhyun menautkan alisnya waspada, entah kenapa ada perasaan terancam yang membuatnya memeluk bahu Sungmin lebih erat.

Sementara Sungmin sedang mengingat-ingat siapa pemuda yang menyebut namanya ini. Jangkung, kurus, kulit putih pucat, rambut hitam, mata gelap berkantung. Sungmin tidak ingat sama sekali.

“Kau sama sekali tidak berubah!” tambah pemuda itu dengan mata makin berbinar. “Kau benar Sungmin kan? Sungmin yang dulu naksir ibuku?”

Sungmin terbelalak.

Secara reflek menggenggam tangan Kyuhyun dan menyeretnya pergi cepat-cepat.

“Loh? Sungmin! SUNGMIN!” Pemuda itu syok karena ditinggal tiba-tiba. “Yah! Tunggu!”

Sungmin memejamkan matanya erat.

Jangan mengejarku. Jangan bicara padaku. Jangan—

Grep!

Habislah sudah.

Plakkk!

Kyuhyun menepis kasar cekalan pemuda itu dari tangan Sungmin. Dengan sikap defensif berdiri di depan Sungmin, menghalanginya dari pandangan pemuda itu. “Aku tidak tahu siapa kau, tapi bisakah kau menjauh dari Sungmin? Sepertinya Sungmin tidak ingin berurusan denganmu,” ancamnya dengan sinar mata membunuh.

Pemuda itu terlihat speechless. “Aku… aku hanya…”

Sungmin memandang penuh rasa bersalah. Dia memang berniat menghindari pemuda itu, tapi dia tak menyangka Kyuhyun menanggapinya terlalu serius. “Dia temanku, Kyu.”

Kyuhyun tampak terkejut. “Sungguh?”

Sungmin mengangguk. Ragu-ragu keluar dari balik punggung Kyuhyun dan menyapa pemuda tadi. “Halo, hyung? Lama tidak bertemu.”

“MINNIE-YAAAAH!”

Kyuhyun terbelalak. Pemuda jangkung itu memeluk Sungmin gemas sampai tubuh mungilnya terangkat. Dan nama macam apa itu? ‘Minnie-yah’?! Mendadak darah Kyuhyun mendidih seperti air rebusan.

“Lama sekali kita tidak berte—”

Grepp!

Kyuhyun menarik Sungmin dari pelukan pemuda itu. “Jangan menyentuhnya sembarangan.” Kyuhyun menatap sengit.

Mata hitam berkantung itu mengerjap, sebelum menatap heran ke arah Sungmin. “Siapa dia? Pacarmu?”

Sungmin mengangguk.

Speechless lagi. Kali ini bahkan mulutnya sampai menganga lebar. “Whoa… kau dengan laki-laki sekarang?”

“Apa itu urusanmu?” Sungmin menatap sebal. Dia menarik Kyuhyun lebih dekat dan memaksa Kyuhyun mengulurkan tangannya. “Kenalkan namanya Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun menautkan alis ke arah Sungmin. Hei… dia bukan anak kecil yang kenalan saja harus dipaksa.

Pemuda itu menjabat tangan Kyuhyun dengan senang hati. “Aku Jung Joonyoung. Salam kenal.”

Aku tidak tanya, batin Kyuhyun jutek. Tapi dia tetap berusaha tersenyum seadanya, kebiasaan sopan santun karena didikan orangtua.

“Aku partner ciuman pertama Sungmin,” tambah Joonyoung bangga.

Kyuhyun terbelalak syok.

Sungmin menutup wajahnya. Seratus persen menyesal tidak terus kabur saja dari makhluk blak-blakan ini.

“Sudah cukup kenalannya.” Sungmin memisahkan tangan Kyuhyun dan Joonyoung. “Senang bertemu lagi denganmu, hyung. Sampai jumpa lagi. Bye!”

“Sungmin!”

Sungmin menoleh kesal. “Apalagi?”

“Nomor ponselmu?” Joonyoung nyengir tanpa dosa.

Sungmin menghela napas. Mengeluarkan ponselnya dan menghampiri Joonyoung. “Sudah cukup, kan?”

“Sebenarnya tidak.” Joonyoung tersenyum lebar. “Tapi aku sendiri juga sedang buru-buru. Kita bisa bertemu lagi besok? Aku memaksa.”

Sungmin terpaksa mengangguk.

“Oke, sampai besok!” Joonyoung melambaikan tangannya ceria.

Sungmin balas melambaikan tangannya, tanpa sadar senyumnya terkembang dengan sendirinya.

Kyuhyun menatap tidak rela.

oOo

“Kukira kau straight.”

Sungmin mendengus. “Kau mengatakannya seolah aku sudah lama jadi gay dan pernah pacaran dengan Joonyoung hyung.”

“Aku tidak bilang begitu.” Kyuhyun melebarkan matanya sok innocent.

Sungmin menatap kesal.

“Tapi aku senang kau minta perlindungan dariku.” Kyuhyun tersenyum.

Sungmin menautkan alis. “Maksudmu?”

“Kau menggenggam tanganku erat-erat sedari tadi.” Kyuhyun mengerling ke arah tangan mereka yang bertaut.

Sungmin terkejut, tapi dia tidak melepas genggamannya. “Lalu kenapa? Kau keberatan?”

“Tidak.” Kyuhyun menggeleng sembari mengulum senyumnya. “Kenapa kau berusaha kabur darinya? Apa dia orang yang menakutkan di masa lalu?”

Sungmin menunduk, menyembunyikan ekspresi wajahnya di balik poni. “Aku takut kau menertawakanku.”

“Huh?” Kyuhyun mengerjap kaget. “Kenapa aku menertawakanmu?”

“Lupakan.”

Kyuhyun terdiam, mencari jawaban sendiri bukan hal sulit bagi otak jenius Kyuhyun.

“Apa dia cantik?”

“Hn?” Sungmin mengerjap bingung.

“Cinta pertamamu itu.” Kyuhyun menghela napas. “Ibunya Joonyoung-ssi. Apa dia cantik?”

Sungmin tampak defensif sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.

Saat pertama kali Sungmin menceritakan soal cinta pertamanya yang ibu rumah tangga, Kyuhyun bisa menutupinya dengan tertawa keras-keras dan menggoda Sungmin habis-habisan. Tapi sekarang tidak, tidak jika Kyuhyun terancam berhadapan langsung dengan orang itu.

“Aku lebih baik darinya kan?” lirih Kyuhyun yang masih bisa didengar Sungmin.

“Kau tidak cantik, tidak keibuan, tidak anggun dan tidak feminin, tapi ya kau lebih baik.”

Kyuhyun menutup wajahnya. Yang benar saja, masa Sungmin membandingkannya dengan ciri-ciri perempuan dewasa?

“Kalau Joonyoung-ssi?”

Ckrek!

Kyuhyun melongo.

Sungmin memotretnya, lagi.

“Yang pertama wajah natural Kyuhyun. Yang kedua—” Sungmin memperhatikan gambar yang mulai muncul samar-samar di permukaan kertas film, “—wow, wajah memelas Kyuhyun.”

“Lee Sungmin.” Kyuhyun mencubit pipi Sungmin gemas. “Hentikan itu.”

“Kau juga hentikan.” Sungmin menepis tangan Kyuhyun dari wajahnya. “Bertanya soal Joonyoung hyung itu konyol. Dia bukan siapa-siapaku.”

Mata Kyuhyun melebar. “Seo Eunseo juga bukan siapa-siapaku tapi kau tetap menginterogasiku tentangnya,” balas Kyuhyun praktis. “Apa itu berarti kau konyol, Min?”

Sungmin terdiam, telak.

“Aku tidak menginterogasi,” Sungmin mencoba membantah.

“Kau menginterogasi,” tekan Kyuhyun. “Dan kau juga menyalahkanku karena tak pernah menceritakan soal gadis i—”

Ckrek!

“Yang ketiga, wajah menyebalkan Kyuhyun.”

“Min! Berhenti memotretku!” protes Kyuhyun kesal.

Tapi Sungmin hanya tertawa dan berlari menjauhi Kyuhyun.

Pemuda berkulit pucat itu tersentak saat Sungmin menghilang di belokan jalan.

“Min!”

Kyuhyun tak melihat Sungmin dimanapun. Oh, please ini bukan film Alice in Wonderland yang tokoh utamanya mengejar kelinci yang lari terburu-buru lalu menghilang di sebuah lubang.

“Sungmin!” Kyuhyun mulai panik.

Bukan tanpa alasan. Kyuhyun tahu Sungmin jarang keluar rumah karena berbagai macam tugas belajar dan les privat yang diikutinya. Bisa jadi dia tidak hafal jalan disini dan tersesat—Kyuhyun pernah mengalami hal itu beberapa tahun yang lalu, dia tersesat di festival taman kota karena tak sengaja berpisah jalan dengan Donghae dan Hyukjae.

“Lee Sung—”

Ckrek!

Kyuhyun menoleh dengan mata membesar.

“Sungmin…” gumam Kyuhyun dengan tarikan napas lega .

Sungmin tersenyum di balik kameranya, tangan kiri pemuda mungil itu memegang dua cotton candy yang entah dia dapat darimana.

“Wajah—”

“Wajah kebingungan Kyuhyun. Wajah panik Kyuhyun. Wajah mengenaskan Kyuhyun. Terserah kau mau bilang apa.” Kyuhyun menginterupsi kesal. “Tapi jangan menghilang seperti tadi lagi, Min!”

Kyuhyun ingin marah tapi Sungmin menyodorkan satu kembang gulanya dengan senyum polos.

“Aku membelikannya untukmu, Kyu,” ucapnya manis.

Matahari semakin terik dan Kyuhyun merasa hatinya yang sekarang cepat cair kembali meleleh seperti es krim.

“Ini menyebalkan.” Kyuhyun mengambil gula kapasnya dengan wajah cemberut. “Aku tidak bisa marah padamu.”

“Kau yang seperti itu mirip ibuku.” Sungmin membuka plastik bening yang membungkus gumpalan kapas merah muda. “Ibuku juga tak pernah bisa marah padaku, tak peduli kesalahan apapun yang aku lakukan.”

Kyuhyun menatap Sungmin yang mulai menikmati permen kapasnya.

“Dan aku menyukai orang yang mirip ibuku.”

Kyuhyun merunduk, menghampiri bibir kecil Sungmin dan mengangkat cotton candynya agar orang-orang tak melihat apa yang mereka lakukan di balik kapas manis itu.

“Aku tidak tahu kau mirip siapa, Min.” Kyuhyun mengusap sayang bibir pinkish Sungmin yang memerah. “Tapi aku juga menyukaimu.”

Sungmin menunduk, berusaha menyembunyikan pipi meronanya tapi Kyuhyun mengangkat dagunya lembut.

“Min, ayo selca.” Pemuda berkulit salju itu tersenyum menggoda.

Sungmin berusaha menghindar tapi bunyi shutter kamera terdengar lebih cepat.

Ckrek!

Kyuhyun tersenyum puas melihat hasilnya. “Wajah bahagia Kyuhyun.”

“Tidak… itu wajah menyebalkan Kyuhyun.” Sungmin cemberut.

Kyuhyun mengecup bibir Sungmin sekilas. Tertawa riang dan merangkul kekasih mungilnya erat. “Ayo, Min. Kali ini aku akan mengajarimu cara tersenyum di depan kamera.”

Mata Sungmin membulat.

Astaga… rasanya dia ingin kabur saja.

oOo

Kyuhyun mengepalkan tinjunya kesal.

Kata ‘sampai besok’ yang diucapkan Jung Joonyoung bukan sekedar basa-basi. Kyuhyun melihat pemuda bermata panda yang menyebalkan itu sedang mengobrol dengan Sungmin di depan gerbang sekolah. Tsk… darimana dia tahu Sungmin bersekolah disini? Apa dia menelepon Sungmin semalam? batin Kyuhyun kacau.

“Saingan baru?” Yesung menepuk bahu Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus. “Dia bilang dia partner ciuman pertama Sungmin, padahal mereka tidak punya hubungan apa-apa.”

“Terlihat jelas sekali.” Yesung menatap bosan. “Dia menyukai Sungmin secara sepihak dan—”

“Dan dia menantangmu, Kyu~” sambung Ryeowook yang menggelayut manja pada lengan Yesung. “Sepertinya dia akan jadi rival yang lebih berat dari Hae hyung.”

“Menantangku?” Kyuhyun menyeringai sinis. “Dalam mimpinya saja.”

Pemuda berkulit pucat itu melangkah cepat menghampiri Sungmin dan Joonyoung, membuat telinganya mendengar semakin jelas percakapan mereka.

“Minnie-yah! Kenapa kau jadi cuek begini sih? Padahal dulu kau sangat manis dan menggemaskan, selalu memanggilku Joonnie hyung~ Joonnie hyung~”

“Aku tidak akan bertingkah seperti bocah umur 5 tahun.” Sungmin menatap datar. “Dan kembalikan cincinku, hyung.”

“Apa ada perampokan disini?” Kyuhyun berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang. “Kenapa cincinmu bisa ada padanya?”

“Dia berusaha mengambilnya karena tidak punya uang.”

“Sungmin!” Joonyoung terkesiap. “Tega-teganya kau…”

“Bisa kau kembalikan?” Kyuhyun membuka telapak tangannya. “Min merengek-rengek saat minta dibelikan cincin itu. Aku tidak mau mendengarnya menangis karena kau mengambil—”

Duakk!

“Aku tidak merengek, dan aku juga tidak menangis.” Sungmin menatap kesal ke arah Kyuhyun yang hanya meringis kecil berkat tendangan Sungmin di kakinya. “Jangan mengarang cerita, Kyu.”

Joonyoung mengerjap takjub sebelum tergelak keras. “Hahahaha… image pangeranmu benar-benar di luar dugaanku, Minnie-yah!” tawanya yang membuat Kyuhyun menautkan alis. “Atau jangan-jangan bukan dia orangnya?”

“Memang dia orangnya.” Sungmin memutar bola matanya malas. “Pangeran kutukan dari ibu.”

Kyuhyun terbelalak bingung. “H-hei! Apa maksud—”

“Saat Sungmin jatuh cinta pada ibuku,” Joonyoung menginterupsi dengan senyum geli, “Kyeongsuk ahjumma melarangnya melanjutkan perasaan itu karena sudah ada pangeran tampan yang menunggunya di masa depan. Dia juga meminta Sungmin untuk tidak jatuh cinta pada siapapun lagi demi sang pangeran.”

Rahang Kyuhyun nyaris jatuh rasanya. “A-apa…”

“Kau tahu Sungmin sangat penurut. Tentu saja dia menuruti keinginan ibunya dengan berusaha tidak jatuh cinta pada siapapun. Tapi dia masih merasa aneh tentang nasibnya yang akan berakhir dengan seorang pangeran karena kalian kan sama-sama lelaki.” Joonyoung terus bercerita meski sibuk menghindar dari Sungmin yang sepertinya ingin membungkamnya. “Waktu kecil aku menyukai Sungmin, jadi aku menciumnya dan menawarkan diri untuk jadi pangerannya sementara.”

Jangan tanya seperti apa ekspresi Kyuhyun sekarang. Dia seperti baru dilempar dari jurang.

“Kau menyukaiku?” Sungmin tertegun. “Aku tidak pernah tahu soal itu.”

“Tentu saja aku tidak bilang, Minnie-yah~” Joonyoung bernyanyi riang. “Kau akan menolak tawaranku jika kau tahu aku benar-benar menyukaimu.”

Grep!

Joonyoung tersentak. Kerah kemejanya dicengkram Kyuhyun hingga napasnya nyaris tercekik. “A-apa yang kau…”

“Kau masih menyukainya?” Mata obskurit Kyuhyun berkilat berbahaya. “Apa sampai sekarang kau masih menyukainya? Asal kau tahu aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya dariku.”

“Kyu…” Sungmin menarik lembut tangan Kyuhyun saat Joonyoung mulai terbatuk sesak.

“K-kau berlebihan…” Joonyoung berkata lemah sambil memegangi dadanya yang masih membutuhkan lebih banyak oksigen. “Aku tidak pernah berniat untuk merebut Sungmin darimu.”

Kyuhyun menatap waspada. “Jadi, apa yang kau inginkan?”

“Yang kuinginkan?” Joonyoung menegakkan tubuhnya dan tertawa mengejek. “Berterimakasihlah padaku, Cho Kyuhyun. Berkat usahaku kau jadi lebih mudah mendapatkan hati Sungmin. Kau tahu, membelokkan orientasi seksual seseorang itu jauh lebih sulit daripada membuatnya sekedar jatuh cinta padamu.”

Clueless.

“Bunuh dia, Kyu.” Sungmin mendorong punggung Kyuhyun ke arah Joonyoung geram.

“Minnie-yah~ akui saja dulu kau sedikit menyukaiku tapi tidak mau mengakuinya karena ingat larangan ibumu.”

“Kau percaya diri sekali, hyung.” Sungmin memandang tak percaya. “Aku bahkan melemparmu dengan papan catur setelah kau mencuri ciuman pertamaku, apa itu merusak otakmu?”

“Seharusnya kau sedikit menyesal, Lee Sungmin! Kau pernah membahayakan nyawa anak umur 6 tahun!”

“Kau melakukan pelecehan pada anak umur 5 tahun! Kenapa tidak kau saja yang menyesal, Jung Joonyoung?”

Joonyoung terbelalak. “Yah! Kau sendiri selalu melihat ibuku dengan wajah memerah, aku tidak bisa menjamin fantasi apa yang ada di dalam otakmu soal ibuku!”

Sungmin tersentak. “Kau pikir semua orang punya otak mesum sepertimu, hyung?! Aku tidak pernah—”

“Cukup, cukup.” Kyuhyun menengahi Sungmin dan Joonyoung yang hampir menerkam satu sama lain. “Yang sudah berlalu biarkan berlalu, oke? Jangan ingat-ingat lagi soal itu.”

Sejujurnya Kyuhyun sendiri juga sedang mengalami syok hebat di dalam =,=

Hening.

“Rrr…” Joonyoung mengusap tengkuknya salah tingkah. “Kita lupakan saja?”

“Yah, kurasa.” Sungmin melanjutkan dengan suara yang nyaris berbisik. “Kau membuat masa kecil kita terlihat mengerikan.”

“Tapi itu fakta—”

“Berhenti bicara.” Sungmin menatap tajam. “Lupakan, oke?”

“Oke.” Joonyoung nyengir innocent.

“Ayo pulang, Kyu.” Sungmin menarik Kyuhyun yang masih membatu dengan tatapan tidak fokus, entah apa yang anak itu pikirkan. “Kyu?”

“Eh?” Kyuhyun mengerjap.

“Kau melamun?”

“Ti-tidak…” Kyuhyun balas menggenggam tangan Sungmin. “Ayo pulang.”

“Sampai jumpa, hyung.” Sungmin menoleh sekilas ke arah Joonyoung.

“Yap, sampai jumpa.” Joonyoung melambaikan tangannya dengan senyum lebar.

Kyuhyun mengayunkan genggaman tangannya dengan Sungmin setelah mereka menjauh dari Joonyoung.

“Jadi… pangeran?” Kedua sudut bibirnya tertarik lebar. “Itu yang Kyeongsuk omonim katakan tentangku?”

Apa itu yang ada dalam pikiran Kyuhyun sejak tadi? Sungmin mendongak menatap Kyuhyun, tapi matanya menyipit karena sinar matahari menghalangi pandangannya untuk mengamati ekspresi pemuda berkulit pucat itu.

“Tidak buruk juga jadi pangeran.”

Mataharinya benar-benar silau. Sungmin tak sempat menghindar saat Kyuhyun menyentuh bibirnya tiba-tiba, menekan dan menyesapnya ringan.

“Ya, kan? Tuan putri?” Senyum itu terlihat menggoda.

Sungmin tak bisa membaca mata Kyuhyun dengan jelas. Napas yang berhembus, juga wangi mint yang begitu dekat mengacaukan pikirannya. Dia tak berani merespon. Tapi hatinya memberikan peringatan ada yang tidak beres dengan Kyuhyun.

Kyuhyun membelai tengkuknya lembut dan mulai menciumnya lagi.

Bermesraan di sekolah merupakan hal yang paling dihindari Sungmin, tak peduli dalam keadaan sesepi apapun. Tapi tidak kali ini. Tidak jika detak jantung dalam dada mereka yang saling menempel tidak terdengar seirama. Debar jantung Kyuhyun terdengar lebih cepat, kacau, gelisah.

“Apa tuan putri…” Bibir Kyuhyun bergerak lembut di atas permukaan bibir Sungmin, “… memilih pangerannya hanya karena mematuhi aturan yang sudah ditetapkan?”

Sungmin tersentak.

Awan bergerak menghalangi matahari dan membuat sinarnya meredup. Kali ini Sungmin dapat melihat dengan jelas tatapan penuh emosi Kyuhyun yang berkecamuk. Ada ketakutan disana yang membuat sesuatu dalam dada Sungmin ikut bergolak.

Saat perasaannya jatuh pada Jung Yoomi, itu benar-benar di luar keinginan Sungmin. Jika bisa memilih, lebih baik Sungmin jatuh cinta pada teman sekelasnya, atau beberapa noona cantik dari sekolah dasar yang sering datang demi melihatnya di TK, atau anak perempuan tetangga sebelah yang seumuran dengan Sungmin, atau siapapun yang terkesan lebih normal daripada jatuh cinta pada wanita berusia jauh lebih tua yang sudah bersuami dan berputra.

Dan soal Kyuhyun…

Sejak kecil Sungmin merencanakannya, Sungmin memaksakan dirinya, Sungmin ingin jatuh cinta pada Kyuhyun.

Tapi ada satu hal.

Satu hal.

“Kau melarangku jatuh cinta padamu.”

“Eh?” Kyuhyun mengerjap, memberi sedikit jarak pada pelukannya agar dapat menatap Sungmin lebih jelas.

“Kau melarangku jatuh cinta padamu.” Sungmin tersenyum tipis. “Itu aturan juga kan, Kyu?”

Mata Kyuhyun melebar.

“Aku sudah berusaha mematuhi aturan itu, asal kau tahu. Tapi pada akhirnya aku tetap—”

Kehangatan Kyuhyun mencekat suara Sungmin. Pemuda mungil itu memejamkan mata. Merasakan dengan jelas kali ini bukan tindakan frustasi seperti sebelumnya. Jadi dia memutuskan untuk memiringkan kepalanya dan membalas ciuman Kyuhyun.

“Aku tetap mencintaimu?”

Sungmin merasakan senyuman Kyuhyun di bibirnya. Memutuskan untuk tak merespon pertanyaan barusan karena dia tahu kekasihnya tak sebodoh itu untuk menunggu jawaban yang sudah jelas.

Tiga menit yang menguras oksigen itu berlalu. Sungmin mengatupkan bibirnya, melepaskan diri dari Kyuhyun tapi tangan besar kekasihnya itu menangkup kedua pipinya—menahannya agar tak terlalu jauh.

“Maaf sudah meragukanmu.” Kyuhyun menyandarkan keningnya di kening Sungmin.

“Hm…” Sungmin bergumam lirih. Mata karamelnya menatap mata Kyuhyun yang sedang terpejam. “Lagipula eomma tak pernah memberikan perintah atau aturan, Kyu. Aku mematuhinya karena aku menyayanginya, bukan karena terpaksa.”

Kyuhyun tertawa dengan suara velvetnya yang merdu. “Kedengarannya kau menyukaiku karena rasa sayangmu pada Kyeongsuk omonim?” Setengah merajuk, tapi ada nada lega yang tersirat disana.

“Sebesar apapun rasa sayangku pada ibuku,” Sungmin membalas pelukan Kyuhyun hati-hati, menenggelamkan wajahnya di kemeja pemuda itu, “jujur saja saat aku kembali padamu setelah pertunangan kita putus, aku sama sekali tak memikirkan soal eomma.”

“Kau hanya memikirkanku?” Kyuhyun membuka matanya lebar-lebar. Fakta itu terasa luar biasa baginya.

Sungmin mengangguk di dada Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum bahagia. Seperti ada festival kembang api dalam hatinya, rasanya meledak-ledak. “Aku mencintaimu, Min~” Kedua tangannya mengangkat tubuh mungil Sungmin dengan mudah dan memutarnya di udara.

Sungmin tertawa kecil. “Kau sudah mengatakannya berkali-kali.”

“Kalau begitu ayo menikah?” Kyuhyun menatap dengan mata berbinar-binar.

Sebenarnya Sungmin tak tega menolaknya, tapi dia tetap menggeleng. “Setelah kencan ke 137, oke?”

“Yang benar saja, Min!” Kyuhyun terbelalak protes.

Sungmin hanya tertawa dengan ringannya dan kembali menggenggam tangan Kyuhyun. Ekspresinya, gesturnya, caranya tertawa, hanya dengan melihatnya saja membuat dada Kyuhyun terasa penuh.

Isn’t he lovely made from love?

“Kau tahu, Min?” Kyuhyun membawa tautan jemari mereka ke bibirnya, sekilas menjilat pergelangan tangan Sungmin seduktif. “Kau bisa saja terus menolak, tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu kabur dariku.”

“Kyu, kau benar-benar—” Sungmin tersenyum tak percaya, “—pangeran kutukan ibuku.”

oOo

Sometimes I run. Sometimes I hide.

Sometimes I’m scared of you.

But all I really want is to hold you tight.

Treat you right, be with you day and night.

Baby, all I need is time.

Pemuda manis itu membenahi letak hoodie telinga kelinci putihnya yang—menurutnya—merepotkan. Hadiah kencan ke-13 dari Kyuhyun. Sungmin tidak mengerti kenapa Kyuhyun selalu memberinya hadiah yang manis, padahal dia ingin jaket Armani, gitar elektrik, atau bahkan mungkin PSP kesayangan Kyuhyun.

“Selamat datang, tuan Sungmin~” Maid keluarga Cho yang membukakan pintu tak bisa menyembunyikan ekspresi gemasnya melihat penampilan Sungmin. “Tuan Kyuhyun sedang di kamarnya.”

Sungmin berusaha menenggelamkan wajahnya di balik hoodie. Ya ampun, ini memalukan. Tatapan wanita itu membuatnya merasa seperti bocah balita. Mendadak Sungmin mempertimbangkan untuk membelikan Kyuhyun jaket berang-berang super imut yang sedang diincar Ryeowook.

“Dia sibuk mengecek laporan perusahaan lagi?” Sungmin bertanya dengan wajah bosan. “Apa dia begitu tidak percaya pada kemampuan Hwangji ahjussi?”

Maid itu tertawa kecil. “Tuan Kyuhyun bersikeras ingin melakukannya. Tuan muda bilang sebagai latihan karena di masa depan nanti dia akan menghandle dua perusahaan besar. Cho Corporation dan Lee Corporation.”

“Lagi-lagi bertingkah seperti ‘suami yang bertanggung jawab’.” Sungmin mendengus. “Mungkin Kyuhyun lupa dia akan menikahi seorang ‘suami’ bukannya seorang ‘istri’.”

“Karena tuan muda Kyuhyun sangat menyayangi tuan muda Sungmin, bukan?” Wanita paruh baya itu berkata lembut. “Karena rasa sayangnya yang begitu besar, dia jadi ingin bertanggung jawab atas semuanya.”

Puitis dan cliché.

Itu yang ada dalam benak Sungmin, tapi mana mungkin Sungmin tega mengatakannya terang-terangan.

Tapi Kyuhyun memang seperti itu. Umurnya hanya setahun lebih tua dari Sungmin, tapi pikirannya sudah seperti bapak-bapak. Rencana masa depan yang tersusun dalam otaknya itu luar biasa. Mungkin dia bahkan sudah menghitung anggaran pembelian popok dan bubur bayi jika mereka ingin mengadopsi anak setelah menikah.

“Kyu?” Sungmin membuka pintu pelan-pelan.

Suasana yang hening membuat Sungmin melangkah masuk hati-hati. Yang pertama kali tertangkap oleh mata Sungmin adalah dinding kamar Kyuhyun yang tadinya biru polos kini dihiasi barisan foto-foto polaroid dari kencan mereka selama ini yang digantung dengan penjepit pada sebuah tali putih.

Sungmin memperhatikannya lekat-lekat dan menyadari—entah sejak kapan—dia tidak lagi keberatan melakukan selca dengan Kyuhyun. Senyumnya yang awalnya kaku berubah natural. Dan Sungmin juga baru sadar, wajahnya tidak terlalu buruk jika melakukan aegyo.

“Kuharap tidak ada orang lain yang memasuki kamar ini.” Sungmin menghela napas. “Ini memalukan.”

Tubuh mungilnya berbalik ke belakang. Ke arah ranjang ukuran king size tempat Kyuhyun terkapar di tengah-tengah tumpukan kertas yang menggunung. Sungmin mencondongkan tubuhnya, mengamati wajah Kyuhyun yang terlelap.

Benar-benar kelelahan?

Mungkin kencan yang ke-14 harus ditunda besok pagi. Sungmin tidak keberatan. Dia duduk di ranjang Kyuhyun dan mulai mengambil file yang belum tersentuh. Membantu sedikit tidak masalah, kan?

“Min…”

Mata Sungmin membulat. Bisa gawat kalau Kyuhyun bangun. Meski dalam kondisi selelah itu bisa dipastikan dia akan segera berganti pakaian dan memaksakan diri pergi kencan. Makhluk perfeksionis yang mengerikan.

Sungmin memiringkan kepalanya, mengintip ekspresi Kyuhyun yang masih terpejam dengan napas naik turun teratur. “Hanya mengigau,” gumam Sungmin lega.

“… Min.”

Sungmin merasakan hatinya berdetak saat melihat wajah Kyuhyun dari jarak sekian senti. Pemuda manis itu perlahan kembali menegakkan tubuhnya sebelum jantungnya meledak. Dekat-dekat dengan Kyuhyun menghasilkan efek yang tidak baik. Sungmin tak bisa membayangkan dia menikah dengan Kyuhyun dan memandangi wajah itu dari jarak dekat setiap pagi.

Tapi bukankah itu tidak buruk?

“… me… ngan… Min…”

Sungmin menautkan alis. Mengamati ekspresi Kyuhyun lagi. Normal. Tapi tadi Kyuhyun jelas-jelas menyebut namanya. Dia tidak sedang mimpi basah atau apa, kan? =,=

“Kah… ku…”

Sungmin mendekatkan telinganya ke bibir Kyuhyun.

“Menikahlah… denganku, Min.”

Deg!

Astaga, Kyuhyun… Sungmin menggelengkan kepalanya keras, berusaha menetralisir debar jantungnya yang semakin kencang. Orang ini benar-benar keterlaluan, dalam keadaan terlelap saja dia bisa nyaris ‘membunuh’ Sungmin.

“Apa tidak bisa menunggu setidaknya sampai kita umur 20-an, Kyu?” Sungmin menghela napas. Tanpa sadar memainkan cincin clover biru yang masih melingkar di jari manisnya—hadiah kencan pertama mereka setelah saling menyatakan perasaan.

Huh… tidak pas.”

Joonyoung hyung, aku tidak mengerti apa yang kau lakukan. Tapi cepat kembalikan cincinku.”

Kau tahu tidak, Minnie? Jika cincin wanita pas di kelingking pasangan prianya itu berarti mereka soulmate.”

Jangan bicara ngawur, hyung. Aku bukan wanita.”

Yah… siapa tahu itu juga berlaku pada pasangan sesama lelaki, kan?”

Sungmin menatap ragu, perlahan melepas cincinnya dan meraih tangan kanan Kyuhyun. Dia bukan wanita, jadi dia mengincar jari manis Kyuhyun.

Tidak bisa masuk.

Bersikeras memaksa cincinnya masuk lebih jauh, tapi malah tersendat di buku jari. Sungmin menghela napas kecewa, kembali menarik lepas cincinnya dari jari manis Kyuhyun. Kali ini matanya melirik ke arah kelingking.

Masa sih?

Sungmin menggigit bibir bawahnya, masih belum terima mendapat posisi ‘wanita’ dalam hubungan ini. Pemuda manis itu merentangkan jari-jari telapak tangannya, membandingkannya dengan tangan Kyuhyun. Tanpa perbandingan pun sebenarnya sudah jelas tangan Sungmin lebih kecil dari tangan Kyuhyun. Bukankah Sungmin selalu merasakannya saat mereka bergenggaman tangan? Kyuhyun selalu membuatnya seakan tenggelam.

Sungmin menghela napas, menyerah. Mencoba memasang cincinnya di kelingking Kyuhyun.

Pas.

Pemuda mungil itu tercekat.

Soulmate~ Soulmate~ Soulmate~ Sungmin merasa ada bayangan Joonyoung menari-nari dalam kepalanya sambil mengatakan kata terkutuk itu berulang-ulang dengan dua pom-pom di tangan.

Pangeran tampanmu sudah datang, sayang~ Kali ini bayangan ibunya sedang berdansa dengan ayahnya di surga, melempar senyumnya yang membuat Sungmin sulit menolak. Apalagi yang kau tunggu?

Berbahagialah dua putra kami yang tersayang~ Bahkan bayangan Yeunghwan abonim dan Hanna omonim juga ikut-ikutan. Berbahagialah sampai akhir hidup kalian~

Ayo menikah, Min. Yang terakhir ini bayangan Kyuhyun.

Sungmin mengacak rambut pirang platinumnya, sekilas terlihat frustasi tapi ada senyum lembut yang terkembang di wajahnya.

Dia tidak bisa menghindar lagi.

Sungmin mengeluarkan kamera instan hadiah kencan ketiga, memotret wajah terlelap Kyuhyun dengan cincin clover yang pas melingkar di kelingkingnya. Sekilas menulis sesuatu di bagian bawah foto dan menempelkannya di jidat Kyuhyun dengan selotip.

Suasana hening setelah Sungmin bangkit dan menutup pintu kamar Kyuhyun.

Meninggalkan si pemuda berkulit salju dengan cincin yang masih terpasang dan foto polaroid tertempel di dahinya. Jika kau mendekat mungkin kau bisa membaca tulisan semut Sungmin disana.

Kyu, your future w̶i̶f̶e̶ husband is waiting.

~ Min.

oOo

Fin

CLICK HERE TO POST COMMENT

Advertisements