Officially Missing You

“LEE DONGHAE IDIOOOT!”

Sayup-sayup terdengar teriakan gadis yang berlari sambil menangis meraung-raung.

Itu gadis ke-18 yang ditolak Donghae minggu ini.

“Kau tidak berubah, masih kejam dengan perempuan.”

Nada meremehkan barusan menyentak Donghae. “K-kau…”

Gadis dengan seragam SMA Seoul itu menunjukkan seringai manis. “Well, I’m back, Donghae-yah.”

oOo

Falling Without You

by Kiri-chan

Disclaimer : this fanfiction is mine, only the character names are taken from South Korean boyband Super Junior.

Warning : Donghae-centric, rather focused on HaeHyuk, slight!KyuMin, nggak ada YeWook, lagi-lagi open ending (?), Shounen-ai, DON’T LIKE DON’T READ!

~ Sidestory ~

Officially Missing You

oOo

Donghae pikir dia tidak akan bertemu orang itu lagi. Tidak akan pernah lagi. Masih berharap orang itu mati di sungai Seine atau tergantung di menara Eiffel. Dimanapun boleh, asal dia tidak kembali!

“Ini siswi baru pindahan dari Perancis. Tolong sambut dia dengan baik.”

“Apa kabar, teman-teman? Namaku Seo Eunseo. Karena ini tahun terakhir di SMA, ayo kita berjuang sama-sama ya!”

Berjuang sama-sama KEPALAMU!

Donghae ingin menyumpal mulut gadis itu dengan kaos kaki Hyukjae!

Ah? Ngomong-ngomong soal Hyukjae…

Donghae melirik pelan-pelan.

Oke, tidak ada ekspresi di wajah monkey manis itu, kecuali dua bola matanya yang nyaris keluar. Kalau Hyukjae syok melihat gadis itu, berarti dia masih cinta Donghae kan? Analisis tanpa dasar itu membuat si ikan nemo tersenyum bangga tanpa sadar.

“Nah, Seo Eunseo-ssi, kau bisa duduk di bangku kosong sebelah Lee Donghae.”

Donghae menganga.

Holy shit!

oOo

“Hyung!”

“Jangan ganggu aku, kepalaku sakit!”

“Hyuuung!”

Donghae membeku, baru sadar siapa yang menarik-narik blazernya sedari tadi. “S-Sungmin?”

Pemuda mungil itu tertawa manis. Hyah, kenapa dia jadi semakin manis sih?

“Kau… kau kembali kesini?” Donghae mengguncang tubuh petite Sungmin yang mengenakan seragam SMA Seoul. “Kenapa? Sejak kapan?”

“Sejak tadi pagi. Aku masuk kelas yang sama, jadi tidak perlu adaptasi lagi.” Sungmin masih tersenyum dengan dua jari membentuk tanda peace.

Oh, ya ampun. Dia. Imut. Sekali.

Donghae mencubit pipi Sungmin. “Sejak kapan belajar aegyo?”

“A-aku tidak melakukan aegyo!” Sungmin menyingkirkan cubitan Donghae susah payah.

Saat itu Donghae menyadari ada berlian biru disana.

“Tangan kanan?” Donghae melotot. “Kau sudah menikah?!”

Sungmin hanya tersenyum lembut. Tatapan matanya itu nyaris menarik Donghae tenggelam—Oh, tidak! Jangan lagi! Donghae buru-buru memalingkan wajahnya. “Se-selamat kalau begitu.”

Sungmin mengulurkan tangannya.

Donghae mengerjap bingung, tapi tetap menjabat tangan Sungmin.

“Terimakasih, hyung.”

Huh… lagi-lagi senyum manis tanpa dosa itu.

“Kau cocok sekolah disini.” Donghae menepuk-nepuk bahu Sungmin. “Seragam Sapphire High terlalu elite untukmu.”

Sungmin menatap datar. “Bilang saja kau senang aku kembali, hyung.”

“Lee Sungmin-ssi?”

Donghae menegang. Nenek sial itu! Hueh! Apa maunya tiba-tiba muncul disini?!

“Kau benar Lee Sungmin-ssi?” Gadis itu memiringkan kepalanya dengan manis. “Aku Seo Eunseo. Beberapa kali aku melihatmu di media—”

“Dia stalker!” Donghae buru-buru merangkul bahu Sungmin sebelum dia menyambut uluran tangan Eunseo. “Atau psikopat! Setelah ini dia akan mengaku punya penyakit kudis sampai hampir mati dan mendesakmu menuruti semua keinginannya!”

Eunseo tertawa lembut. “Donghae-yah memang suka bicara aneh-aneh.”

“YAH! AKU TIDAK—”

“Aku tahu noona.” Sungmin tersenyum tenang. “Aku pernah mendengar tentang noona dari Kyuhyun.”

Sekilas Eunseo tampak terkejut tapi dia segera menguasai ekspresinya dengan baik. “Ya, kami cukup dekat.”

Donghae melongo kaget. “Pembohong!”

“Tidak, tidak. Ini sungguhan.” Eunseo tertawa ringan. “Tanyakan pada Kyuhyun kalau tidak percaya.”

Srett!

Donghae menyeret Sungmin jauh-jauh dari Eunseo dan berbisik di telinganya. “Jangan dengarkan dia! Otaknya tidak waras!”

“Tapi aku masih perlu bicara dengannya, hyung.” Sungmin berontak kecil.

“Yah! Apa yang perlu kau bicarakan dengan—”

“Lee Donghae.”

DEG!

Dia melepas Sungmin dari rangkulannya dan menoleh pelan-pelan. Berhadapan dengan Hyukjae saat bersama Sungmin dan Eunseo sekaligus, Donghae merasa seperti sedang double selingkuh.

“Ada apa, Hyuk?” tanya Donghae hati-hati.

Tapi di luar dugaan, ekspresi Hyukjae terlihat biasa saja. “Jungsoo seonsaeng memanggilmu.”

Alis Donghae bertaut.

Apaan?

Hanya begitu saja?

“Ya, aku segera kesana.” Donghae menekuk wajahnya jutek. “Duluan, Sungminnie.”

Sungmin mengangguk dan tersenyum membalas Donghae, juga Hyukjae yang membungkuk sopan ke arahnya.

Donghae melewati Eunseo begitu saja. Tapi kepalanya terus menoleh ke belakang, penasaran kenapa Sungmin dan Eunseo masih berhadapan.

Sampai tangan Hyukjae mendorong kepala Donghae agar menatap ke depan dengan benar. “Apa begitu sulit mengalihkan tatapanmu darinya?”

Donghae mengerjap. “Siapa?”

“Aku tidak tahu yang mana.” Suara Hyukjae terdengar dingin.

Donghae menjauh dari Hyukjae dua langkah. “Seharusnya kau tahu, aku tidak pernah menyukai gadis mengerikan itu.”

Entah kenapa Hyukjae merasa terpojok, nada suara Donghae terkesan seperti menyalahkannya. Tapi justru itu yang membuatnya semakin kesal. “Kalau Sungmin?” Hyukjae melempar pertanyaan lain.

Donghae terlihat acuh. “Aku tidak mungkin punya kesempatan untuk menyukai Sungmin kalau dari dulu kau percaya aku tidak menyukai Seo Eunseo.”

Mulut Hyukjae menganga sebentar. “Aku sedang malas bertengkar denganmu, oke?”

“Aku juga…” Donghae menjulurkan lidahnya mengejek. “… malas denganmu.”

Setelah itu, Donghae buru-buru kabur sebelum terjadi baku hantam.

oOo

“Gadis itu kembali?!”

“Kau mengagetkanku!” Donghae memegangi dadanya syok. Kyuhyun meneriakinya tepat setelah dia keluar dari ruang konseling.

“Yah! Aku serius bertanya!” Kyuhyun mengguncang bahu Donghae. “Seo Eunseo kembali?!”

“Memang benar.” Donghae menyingkirkan tangan Kyuhyun. “Tapi apa itu penting untukmu? Sikapmu berlebihan.”

Wajah Kyuhyun memucat. “B-bukan begitu mak—”

“Ah, Sungminnie!” Donghae tak lagi menggubris Kyuhyun saat Sungmin menghampiri mereka.

Sungmin mengangguk sekilas, tanpa senyum. Matanya terlihat dingin saat menoleh ke arah Kyuhyun.

“Kita perlu bicara,” tegasnya saat menarik lengan blazer Kyuhyun.

Donghae menautkan alis. Hei, dia baru menemukan Sungmin yang bersinar penuh senyum belum lama ini, tapi kenapa sekarang dia berubah kembali dingin?

“Ada masalah apa, Min?” Kyuhyun bertanya khawatir.

Tapi Sungmin bahkan tak menatap wajahnya sama sekali. “Ikut saja.”

Mencurigakan.

Donghae menatap kepergian Sungmin dan Kyuhyun dengan mata menyipit tajam.

Memang ada apa sebenarnya?

Aku penasaran!

Dan dia memutuskan untuk membuntuti Sungmin dan Kyuhyun diam-diam.

oOo

“Aku bertemu dengannya.”

Suara Sungmin terdengar jelas dari balik semak-semak tempat Donghae bersembunyi.

“Siapa?”

Ekspresi ragu Kyuhyun juga terlihat cukup jelas.

“Seo Eunseo-ssi.”

Kyuhyun terbelalak kaget sebentar, sebelum kembali bertanya was-was. “Apa yang kalian bicarakan?”

Mata rubah Sungmin menatap tajam, sepertinya dia malas dengan reaksi Kyuhyun yang bertele-tele. “Dia bilang kau melakukan ciuman pertamamu dengannya.”

Donghae nyaris terlonjak di tempatnya. Daun-daun sedikit bergoyang tapi untung tidak ada satupun dari Kyuhyun atau Sungmin yang menyadarinya.

Apa-apaan nenek sial itu?!

Dia berusaha menipu Sungmin?!

Apa dia mengincar Kyuhyun sekarang?!

Spekulasi Donghae terbungkam saat melihat wajah Kyuhyun memucat.

“Apa itu benar?” Sungmin terlihat sudah tahu semuanya, hanya saja dia masih menginginkan konfirmasi tegas dari Kyuhyun.

“Itu…” Kyuhyun menunduk, “… tidak benar.”

“Katakan itu sambil menatap mataku.”

Kyuhyun mendongak, menatap mata Sungmin. “Itu tidak—”

“Kau berbohong, Cho Kyuhyun.”

Donghae merinding sekilas karena suara beku Sungmin yang menusuk.

“Aku tidak berbohong!” Kyuhyun berteriak putus asa. “Dia yang menciumku tanpa izin! Aku bahkan sama sekali tidak menganggapnya sebagai sebuah ciuman!”

Donghae terhenyak syok.

Ja-jadi… dulu nenek sial itu menyukai Kyuhyun? Tapi kenapa dia malah mendekatiku?

“Terlalu banyak hal yang kau sembunyikan, Kyu.” Suara Sungmin melunak. “Kau tahu tidak menyenangkan mendengar ini dari orang lain. Aku bahkan berpikir kau sempat jadi kekasih—”

Donghae melotot saat Kyuhyun membungkam Sungmin dengan ciuman penuh.

D-dasar setan mesum!

“Maaf.” Kyuhyun berujar lirih. “Aku tidak menceritakan padamu karena aku sendiri juga tidak ingin mengingatnya.”

Donghae ingin tertawa melihat tatapan memelas Kyuhyun. Baru kali ini dia melihat bocah evil itu dengan ekspresi melodrama, seolah dia akan mati jika Sungmin tak mempercayainya.

“Kau sering lari dari kenyataan.” Sungmin menghela napas. “Aku tak pernah menyinggungmu soal ini, tapi bukankah lebih baik kau memperbaiki kesalahanmu daripada lari?”

“Min… apa maksud—”

“Aku bicara soal hubungan Donghae hyung dan Hyukjae hyung.”

Donghae mengerjap kaget. H-hei kenapa aku dan Hyuk jadi ikut terbawa-bawa?

“Kau lihat sampai sekarang mereka belum kembali bersatu, bukan?”

Raut wajah Kyuhyun menegang. Dia menunduk sembari bergumam, “Itu… salah Seo Eunseo.”

“Tapi kau ikut campur tangan di dalamnya, meskipun hanya secara tidak langsung.”

DEG!

Donghae terbelalak.

Kyuhyun tampak sepucat kertas. “Aku… tidak ingin memperburuk keadaan dengan—”

“Keadaan akan lebih buruk. Itu pasti, Kyu.” Sungmin menginterupsi tegas. “Tapi bukankah ada kemungkinan mereka dapat memaafkan satu sama lain jika kau mengungkap kebenaran?”

Jantung Donghae berdebar kencang. Ada perasaan takut yang aneh meski dia tak dapat mencerna situasi saat ini.

“Kyu?” Sungmin menyentuh lengan Kyuhyun karena kekasihnya itu tak kunjung merespon.

Kyuhyun masih diam. Ekspresinya kali ini tak dapat terlihat dari tempat Donghae bersembunyi.

“Aku akan melakukannya.”

“Eh?” Mata Sungmin melebar.

“Aku akan mengatakannya pada Hyukjae hyung dan Donghae hyung.”

Ada jeda sejenak.

“Min…”

“Hm?”

“Meskipun seluruh dunia ini membenciku, kau akan tetap di sampingku kan?”

Sungmin mengerjap terkejut sebelum tertawa kecil. “Tentu saja, bodoh.”

Tidak ada suara lagi setelah itu. Saat Donghae mengintip, ternyata mereka berdua sedang berpelukan dalam diam. Dan saat Kyuhyun mulai menundukkan wajahnya mendekati Sungmin, Donghae berpaling.

Pikirannya kacau.

Soal hubungannya dengan Hyukjae yang retak, bukankah murni karena kesalahan Seo Eunseo?

Tidak mungkin Kyuhyun—

Donghae menggelengkan kepalanya keras.

Dari dulu Kyuhyun memang menyebalkan, dan sudah pasti dia membuat beberapa kesalahan. Jadi tidak heran jika—

“Hyung?”

Donghae terlonjak ke belakang.

“Sejak kapan kau disitu?”

Apa aku harus menyangkal? Bola mata Donghae bergerak gelisah. Sudah terlanjur tertangkap basah. “Aku hanya… aku hanya…”

“Kau mendengar semuanya, hyung?” Nada suara Kyuhyun masih terdengar sama, tapi Donghae dapat melihat wajah pemuda Cho itu memucat.

“Ya.” Donghae menelan ludahnya sekilas. “Aku mendengar semuanya, Kyuhyun.”

Kyuhyun terdiam.

“Jadi…” Donghae berdiri sembari membersihkan daun-daun yang menempel di celananya. “Apa aku boleh tahu apa maksud pembicaraan tadi? Sepertinya itu menyangkut diriku.”

Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin, erat.

“Donghae hyung, aku…” Suara velvetnya seolah dihembus angin, nyaris tak terdengar. “Kau tahu dulunya aku sangat menginginkan Hyukjae hyung, bukan?”

Donghae tersentak. “Aku bukannya tidak mengetahui hal itu, hanya saja…” Pemuda itu menatap ragu, “… kenapa kau mesti membahas hal ini?”

“Seo Eunseo, gadis itu…” Kyuhyun tampak goyah sejenak, “Gadis itu tidak menyukaimu, hyung.”

Donghae terdiam agak lama. “Jadi siapa orang yang dia sukai? Apa itu kau?”

Genggaman Kyuhyun pada tangan Sungmin menguat saat pemuda pucat itu mengangguk. “Dia merebutmu dari Hyukjae hyung bukan karena dia menyukaimu, tapi karena dia tahu aku menginginkan Hyukjae hyung.”

Donghae menatap lurus. Dia tidak ingin menyimpulkan apa-apa, sungguh. “Jadi… apa kau tahu kenyataan itu sejak awal, Kyuhyun?”

Orang yang biasanya meledak-ledak seperti Lee Donghae, sekalinya bersikap dingin akan terlihat mengerikan.

“Awalnya aku tidak tahu, hyung. Kukira dia memang menyukaimu.” Kyuhyun menunduk dalam-dalam. “Tapi gadis itu menyatakan perasaannya padaku setelah kau berpisah dengannya.”

Donghae tampak mencerna kalimat Kyuhyun sejenak. “Begitu?” Donghae mengangkat bahunya sedikit, berusaha terlihat cuek. “Aku masih tidak mengerti apa maksudnya kau ikut ‘campur tangan secara tidak langsung’ dalam rencana gadis itu. Kau tidak melakukan apa-apa kan? Kenyataan gadis sialan itu menyukaimu atau menyukaiku itu bukan masalah be—”

“Masalahnya, hyung…” Kyuhyun menginterupsi dengan wajah putus asa. “Sebenarnya aku tahu rencana gadis itu sejak awal, tapi aku tidak mengatakan apa-apa pada ka—”

GREP!

Kyuhyun terbelalak. Tinju itu berhenti tepat di antara kedua matanya, tertahan cekalan Sungmin.

“Sungmin-ah…” Mata merah itu membuatnya tak tampak seperti Donghae yang biasanya berwajah innocent. “Kau mau membelanya?”

Meskipun posturnya lebih mungil, Sungmin jelas lebih kuat karena Donghae bukan orang yang pernah belajar bela diri. Tapi tatapan penuh amarah pemuda itu berhasil membuat Sungmin sedikit gemetar.

“Min…” Kyuhyun menyentuh bahu Sungmin pelan. “Jangan halangi Donghae hyung. Memang itu yang sewajarnya dia lakukan.”

Rahang Sungmin mengeras. Sepertinya masih tidak rela membiarkan pukulan Donghae lepas.

Chagiya…” Kyuhyun meremas bahu Sungmin lembut, berusaha membujuk. “Tidak apa-apa.”

BUAKKK!

Bogem mentah itu melayang tepat setelah Sungmin menyingkir. Kyuhyun terhempas ke belakang, batuk darah. Belum sempat mengatur napas, Donghae sudah menarik kerah seragam Kyuhyun dan menghajarnya bertubi-tubi.

Donghae tak peduli lagi. Dia memang begini. Dia hanya bocah pemarah yang emosinya gampang meledak meski sudah berusaha menahannya mati-matian. Dia bukan orang yang bisa lama-lama bersabar mendengarkan penjelasan yang sudah bisa dia tebak intinya apa.

BUAKK! BUAKK! BUAKK!

Mata rubah Sungmin bersinar geram. Pemuda mungil itu tampak mati-matian menahan posisinya tetap diam di tempat. Jika bukan Kyuhyun yang meminta, mungkin Sungmin sudah menerjang Donghae sedari tadi.

“Haah… haah… haah…”

Napas Donghae terdengar lebih terengah-engah dari Kyuhyun yang terkapar di bawahnya. Wajah Kyuhyun nyaris tak berbentuk karena lebam, tapi pemuda itu masih tampak lebih tegar dari Donghae yang sudah terlihat kewalahan. Wajar saja karena Kyuhyun sudah biasa ditempa kekerasan dan dihajar habis-habisan oleh ayahnya dulu.

“Apa sudah selesai?”

Jika bukan karena dirinya juga sedang dikuasai emosi, mungkin nada dingin Sungmin barusan sudah membuat tengkuk Donghae merinding. “Cho Kyuhyun, kau…” geram Donghae susah payah, “… kau pecundang.”

Tawa Kyuhyun membuatnya terbatuk darah. “Aku tahu… hyung.”

“Seharusnya… seharusnya kubiarkan saja kau ditindas senior-senior preman itu saat kita masih SMP dulu.”

“Mungkin… memang lebih baik begitu.” Kyuhyun menarik napas banyak-banyak. “Dengan begitu aku tidak akan pernah mengenalmu… dan Hyukjae hyung.”

“Kau…” Tinju Donghae kembali terangkat.

Brakk!

“Cukup, Hae!”

Donghae terkejut. Memang Sungmin yang mendorongnya menyingkir dari tubuh Kyuhyun. Tapi yang berteriak barusan itu… “H-Hyuk…?”

Sosok kurus itu mendekat dengan napas yang terlihat berat. Wajahnya basah dan merah karena air mata.

“Hyuk…” Donghae membuka mulutnya lemah. “Hyuk, kau mendengar semuanya?”

Hyukjae berjongkok di hadapan Kyuhyun. Tatapan terlukanya itu membuat siapapun ingin berpaling karena tidak tega.

“Terimakasih.”

Kyuhyun terbelalak mendengar kata itu terucap dari mulut Hyukjae.

“Terimakasih karena sudah mengakui semuanya, Kyuhyun.”

“Kau…” Kyuhyun bertanya masih dengan mata membulat lebar. “Kau tidak marah padaku, hyung?”

Hyukjae berdiri dari posisinya. “Tentu saja aku marah, dasar kau bocah menyebalkan.” Langkahnya mendekat menghampiri Donghae. “Tapi Hae sudah melampiaskan semua amarahku padamu. Aku jadi tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.”

Donghae merasa pandangannya berbayang saat Hyukjae mengulurkan tangan padanya.

“Bisa berdiri?” tanya pemuda itu lembut.

Donghae membeku. Dia tidak ingat kapan terakhir Hyukjae bicara padanya dengan nada begitu lembut. Dia nyaris tidak ingat.

“Hae?”

Kapan terakhir suara itu memanggilnya dengan sebutan ‘Hae’?

“Kau baik-baik saja?”

Kapan terakhir mata itu menatapnya dengan cemas dan khawatir?

“Ha… e?”

Grep!

Kapan terakhir dia memeluknya seperti ini?

“Eunhyukkie…” Suara Donghae seolah mengambang di udara.

“Hm?” Hyukjae menyahut pelan.

“Apa kau masih membenciku?”

Hyukjae tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, “Mungkin masih.”

“Begitu ya?” Donghae tersenyum pahit.

“Semakin aku membencimu—”

Donghae tersentak saat lengan Hyukjae melingkupi tubuhnya. Membalas pelukannya, hangat.

“—semakin aku memikirkanmu, Hae.”

.

.

.

.

.

To me, it’s only you. I’m hurting because of you.

I try to forget you but I can’t. Hating you is too hard, it’s too hard.

I’m upset that you don’t even know,

I’m officially missing you.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

oOo

Extra : Seo Eunseo’s Side

“Kau masih melihatnya?” Donghae mendekat ke samping Eunseo. “Sudahlah, hentikan saja. Dia tidak akan mempedulikanmu.”

Eunseo tersentak. “D-Donghae? Apa yang kau—”

“Tak peduli berapa kalipun kau menangis karenanya, tak peduli seberapa banyak kau berkorban untuknya, dia tidak akan peduli. Satu-satunya yang dia lihat hanya orang yang dia sukai.” Donghae menghela napas, ikut mengawasi Kyuhyun yang sedang merangkul dan menggoda Sungmin di seberang koridor sana. “Jadi percuma saja kau terus mencintainya sampai mendendam begitu. Dia tidak akan pernah melihatmu.”

Eunseo tercekat, sepertinya kalimat itu berhasil menohoknya telak.

“Meskipun kau sudah jadi orang jahat demi dia,” Donghae melirik Eunseo yang mulai berkaca-kaca, “Dia tidak akan menyadari itu. Jadi jangan harap dia akan datang memelukmu dan minta maaf. Lupakan saja. Salahmu sendiri mau-maunya berkorban pada iblis.”

Saat Donghae berbalik pergi, air mata Eunseo sudah mengalir.

oOo

Fin

CLICK HERE TO POST COMMENT

Advertisements