Falling Without You (Chapter 14)

BRAKK!

Kyuhyun mencekik Donghae di tembok itu. Deru napas dan pipi merahnya memancing Kyuhyun meninju bagian diafragma sekuat tenaga. Donghae batuk. Darah. Merah pekat yang menghapus saliva tipis yang tertinggal disana. Mungkin sisa saat dia bersama Sungmin?

“BRENGSEK!”

Mata berkabutnya tak mampu melihat ekspresi kesakitan Donghae dengan jelas. Dia terus menghantam, menendang, apapun yang bisa meluapkan amarahnya saat ini.

Tak ada ampun.

Tak ada ampun bagi yang berani menyentuh Sung—

“CHO KYUHYUN, HENTIKAN!”

Min?

Cekalannya terlepas. Emosinya membeku, seperti ditahan dengan paksa. Donghae meloloskan diri, meraih bahu Sungmin seolah minta perlindungan.

Mata rubah itu memandang Kyuhyun penuh kecewa. Seharusnya Kyuhyun sudah bisa menduganya, bagaimanapun Sungmin tak pernah membentaknya sekeras tadi.

“Kenapa?”

Kyuhyun tak tahu sejak kapan suara velvetnya berubah jadi begitu parau.

Sungmin tampak defensif, tatapannya separo menyalahkan separo waspada. Gestur yang semakin melukai Kyuhyun.

Kenapa kau melindunginya?

Kenapa kau membiarkannya menciummu?

Kenapa kau menatapku seperti itu?

Visualisasinya yang sudah berkabut bertambah keruh, bulir-bulir bening mendesak keluar dari balik pelupuk mata.

“Kyu?” Sungmin melembut.

Jangan lihat.

Kyuhyun berpaling cepat. Lututnya terasa lemah hingga nyaris jatuh, tapi Kyuhyun masih sanggup berlari.

This is how I break apart, when I finally hit the ground.

oOo

Falling Without You

What if I stay forever? What if there’s no goodbye? Can we fall together and collide with each other?

by Kiri-chan

Main Pair : Kyuhyun/Sungmin

Warning : ada beberapa crack pair sebagai konflik dalam cerita, it’s SLASH! YAOI! Shounen-ai! Whatever a BoyxBoy FanFiction called! Siapapun yang keberatan bisa menerapkan asas DON’T LIKE DON’T READ bagi fanfiction ini.

~ Chapter 14 ~

Collide

oOo

You’ve never opened your heart to me, not even once. I feel like I’m looking at a wall, you know that?

Melodi menyedihkan terdengar mengiris dari piano ruang klub KRY.

Ryeowook hanya diam setengah melamun, sementara Yesung sudah memasang raut wajah kesal sedari tadi. “Kau bukan Cho Kyuhyun yang kukenal.”

Udara hening sejenak.

“Yang selama ini kau kenal memangnya seperti apa, hyung?” Suara sarkastik itu terdengar menyebalkan.

“Biasanya dia bukan makhluk melankolis yang berkantung mata tebal sebab menangis semalaman seperti kau sekarang,” sindir Yesung tanpa ampun.

Kyuhyun mendengus. “Aku sudah berusaha mengompresnya dengan air es, oke? Pelayan-pelayan di rumahku sampai kalang kabut melihat tuan mudanya yang tampan jadi begini.”

“Dia Cho Kyuhyun.” Ryeowook berkata tenang. “Sifat narsisnya itu bukti kuat kalau dia original.”

“Kebodohannya itu juga bukti kuat,” tambah Yesung sinis.

Rrrr… rrrr… rrrr…

“Sungminnie.” Ryeowook melirik ponsel Kyuhyun yang bergetar di dekat piano. “Dia menelepon lagi. Kau belum mau mengangkatnya?”

Kyuhyun tak merespon. Jemarinya mulai kembali sibuk dengan alunan ballad dari notasi pianonya.

“Ryeonggu, mungkin Kyuhyun tidak hanya bodoh tapi juga tuli.”

“HYAH! AKU TIDAK TAHAN LAGI!” Ryeowook membanting majalah yang dia baca, dengan gerakan tak terduga tangannya menyambar ponsel Kyuhyun. “Halo? Sungminnie?”

Kyuhyun melotot.

“APA YANG KAU LAKUKAN?” Kyuhyun merebut ponselnya panik. “Ha-halo?”

Tuuuuttt… tuuutttt… tuuuttt…

“GYAHAHAHAHAHA!” Ryeowook terbahak keras.

“Aku tahu kau bodoh.” Yesung bergumam dingin. “Tapi apa sebegitu bodohnya sampai tidak melihat vibrasi ponselmu sudah mati saat Ryeonggu mengangkatnya?”

Merah padam menyebar sampai telinga Kyuhyun. “Si-sialan…”

“Intinya kau ingin bicara dengannya kan, Kyuhyun?” Ekspresi Ryeowook melembut. “Kau bilang dia tak berhenti meneleponmu sejak kau kabur dari mansionnya kemarin. Jadi apalagi yang kau tunggu?”

“Ini tidak semudah yang kau katakan,” lirih Kyuhyun lemah. “Kau tidak pernah ada di posisiku.”

“Itu hanya kata-kata orang pengecut,” cela Yesung terang-terangan.

“Orang yang tidak tahu apa-apa memang hanya bisa omong besar.” Kyuhyun membalas sengit. “Saat ini aku tidak butuh nasihatmu, hyung.”

Yesung melotot. Kyuhyun memang kurang ajar, tapi tidak pernah sekurang ajar barusan. “K-kau—”

“Sudahlah, hyung.” Ryeowook menahan lengan Yesung lembut. “Kyuhyun benar, kita memang tidak bisa memahami perasaannya saat ini. Bagaimanapun kau dan aku tidak pernah mengalami apa yang Kyuhyun alami sekarang, hyung. Beri dia waktu.”

Yesung melunak. Sedikit termenung saat membayangkan bagaimana rasanya jika melihat Ryeowook berciuman dengan orang la—tidak, dia tidak bisa membayangkan itu. “Maaf, Kyuhyun.”

Kyuhyun syok. Sepertinya baru kali ini mendengar Yesung minta maaf. “Aku maklum, hyung.” Kyuhyun mengibaskan tangannya. “Hidupmu kan seperti dongeng. Bangun-bangun ketemu pangeran, menikah, lalu happily ever after.”

Yesung memerah kesal, tapi Ryeowook malah terkikik kecil. “Mungkin itu yang disebut keberuntungan ya,” lirih Ryeowook dengan senyum lembut di wajahnya. Mau tidak mau senyum itu menular pada Yesung juga.

“Argh… aku mau keluar.” Kyuhyun berpaling sebal. “Aura pink kalian menyakiti mataku.”

Klek!

“Kyuhyun.”

Kyuhyun mematung.

“Bisa ikut aku sebentar?”

Pemuda Cho itu menelan ludah. Oke, dia bingung harus berbalik atau ikut keluar dengan orang yang berdiri di depan pintu ruang KRY ini.

oOo

I didn’t know at first, I liked the empty place which were yours. Why is it so hard to get over you?

“Aku belum menyerah.”

Kyuhyun hanya memandang punggung orang itu dengan rasa bersalah. “Jangan begini, Hyukjae hyung.”

“Sungmin sudah bersama Donghae, bukan?”

DEG!

Jantungnya serasa diremas. Memori kemarin kembali berputar cepat di benak Kyuhyun, membuatnya kembali sesak. “Donghae hyung yang mengatakannya padamu?”

Hyukjae mengangguk. Tubuh jangkungnya masih membelakangi Kyuhyun, jadi dia tak melihat bagaimana Kyuhyun mengepalkan tinjunya dengan aura membunuh.

Lee Donghae sialan itu.

“Jadi, Kyuhyunnie…”

Percakapan menggantung sekian menit karena Hyukjae terdengar ragu dan Kyuhyun terlalu sibuk dengan emosinya sendiri.

“… bagaimana jika kita kembali saja?”

Kepalan tangan Kyuhyun melemah. Ayolah, dia sudah berpikir matang-matang soal ini. Saat dia jatuh karena Sungmin, akan ada Hyukjae yang menangkapnya. Bukankah itu rencananya sejak awal?

“Maaf.”

Bahu Hyukjae menegang. Siapapun dapat menebak betapa syoknya Hyukjae tanpa melihat ekspresi wajahnya langsung. “Ke-kenapa?”

“Karena aku mencintai Sungmin.”

Jawaban tegas itu mengheningkan keduanya hingga beberapa waktu.

“Tapi, Kyuhyun…” Hyukjae kembali bicara meski dia masih memunggungi Kyuhyun. “Apa masalahnya denganku? Sungmin sudah bersama orang lain, bukan?”

Kyuhyun merasa hatinya tertohok telak. Darahnya mendidih emosi, tapi dia berusaha menetralisir semuanya dengan menarik napas dalam. “Kau tahu, hyung?” lirihnya pelan. “Saat mengatakan aku mencintai Sungmin, yang kumaksud adalah aku mencintai semua tentangnya. Bahkan aku mencintai ruang kosong yang dia tinggalkan dalam hatiku.”

DEG!

Hyukjae membeku.

Bahkan aku mencintai ruang kosong yang dia tinggalkan dalam hatiku?

“Ini patah hati terparah yang pernah aku rasakan, hyung.” Kyuhyun berkata lembut. “Aku tidak bisa mengatakan ini tidak buruk. Ini bahkan sangat buruk. Tapi aku hanya akan semakin menyiksa diriku sendiri jika menggunakan orang lain untuk menggantikan Sungmin.”

Kyuhyun mengangkat kepalanya, berusaha tersenyum lebih lebar. “Meski menyakitkan, tapi aku tidak akan membohongi perasaanku sendiri.” Langkahnya mendekat ke arah Hyukjae. “Kau juga begitu kan, hyung?”

Tangan Kyuhyun meraih bahu Hyukjae, menuntunnya berbalik yang membuatnya bisa melihat wajah Hyukjae yang sudah penuh air mata. “Kau mencintai Donghae hyung, kan?”

Air mata itu membuncah semakin banyak.

“Selama sekian tahun ini, aku merasa sangat lelah.” Kyuhyun tersenyum pahit. “Aku memilikimu, tapi tak pernah bisa seutuhnya memilikimu. Hatimu tak pernah sepenuhnya lepas dari Donghae hyung. Dan baru kusadari aku tak pernah merasa benar-benar bahagia. Kau merasakan hal yang sama, kan?”

Hyukjae tak menjawab karena tangisnya mulai berubah jadi isakan.

“Jika dulu aku tidak terlalu bodoh, aku tidak akan merebutmu dari Donghae hyung.” Kyuhyun menepuk-nepuk bahu Hyukjae yang gemetar. “Dulu aku tahu benar kau memaksakan diri untuk jadi kekasihku. Tapi saat itu aku tidak peduli, yang kutahu aku menyukaimu dan ingin menjadikanmu milikku. Maafkan aku, hyung. Aku benar-benar bodoh.”

“Kau memang bodoh.” Hyukjae tertawa di tengah tangis. “Dan kebodohanmu menular padaku.”

Kyuhyun terkekeh mendengar itu. “Sekarang kau lebih cengeng dari Donghae hyu—”

PIPIPIPIPI!

Kyuhyun dan Hyukjae tersentak. Sepertinya Ryeowook ‘berbaik hati’ mengganti mode getar ponsel Kyuhyun dengan ringtone super nyaring.

[Min calling]

Lagi-lagi jantungnya berdegup kencang. Kyuhyun menggeleng keras, berusaha menekan habis-habisan harapannya yang mulai melambung tinggi. Tapi sebenarnya wajar jika Kyuhyun merasa begitu, bagaimanapun Sungmin tak pernah seperhatian dan… uhuk… sekeras kepala ini hanya demi bicara dengan Kyuhyun sebelumnya.

“Sungmin, kan?” Siapapun bisa tahu itu Sungmin bahkan hanya dengan melihat ekspresi Kyuhyun sekilas. “Kenapa tidak kau angkat?”

“Aku…” Kyuhyun tersenyum pedih saat bunyi ponselnya berhenti, “… tidak ingin menghadapinya dalam keadaan lemah. Mungkin nanti, setelah aku bisa mengucapkan selamat dengan baik. Mungkin.”

“Donghae dan Sungmin… ya?” Mata Hyukjae menggelap. “Aku tidak tahu sejak kapan mereka… entahlah. Tapi baru kali ini aku melihat wajah Donghae begitu bahagia.”

“Dia mengatakannya terang-terangan padamu?” Kyuhyun mendecih. “Dasar norak.”

“Sebenarnya dia tidak mengatakannya langsung padaku.” Rahang Hyukjae mengeras. “Pagi ini aku mendengarnya menelepon Sungmin di kelas. Donghae memanggilnya ‘honey’, ‘chagiya’, dan—”

“TETAP SAJA NORAK.”

Hyukjae sampai mematung karena kaget. “K-Kyuhyun…”

Kyuhyun tak menjawab, masih sibuk menendang-nendang tembok tak berdosa di dekatnya.

Hyukjae menghela napas. “Selamanya kau tidak akan bisa mengucapkan selamat pada Sungmin dengan baik jika begini caranya.”

oOo

When you walked out on me, I regret the day you told me it was over. Won’t you come back to me?

Fajar baru saja menyingsing, tapi si narsis Kyuhyun sudah berdiri di depan cermin meski masih berbalut piyama biru dan rambut berantakan.

Wajah tampan khas aristokrat. Mata dingin yang menghanyutkan. Ekspresi yang sekilas tampak arogan.

Kyuhyun menghela napas.

Tak akan ada yang menduga di balik topeng sempurna itu ada pecundang yang sudah kalah.

Tuk!

Kyuhyun mengerjap. Suara batu kecil yang membentur bingkai jendela.

Tuk!

Hyukjae hyung?

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Kenapa dia datang sepagi ini? Ada perlu apa?

Tuk!

Kyuhyun membuka jendelanya. Di dahan pohon Dogwood Bunchberry yang berlapis salju tipis, wajah putih dengan rambut pirang platinum itu tampak bercahaya terbias sinar mentari pagi.

“Min?” Kyuhyun terpana.

Tuk!

“Aw!” Kyuhyun reflek menutup dahinya yang terkena lemparan kerikil. “Apa maksudnya ini, Min?”

Sungmin menatap datar, tanpa ekspresi. Tapi entah bagaimana Kyuhyun dapat melihat pemuda mungil itu sedang kesal.

“Aku—” Sungmin bergumam yang masih cukup jelas terdengar, “—sudah tidak tahan lagi.”

Tatapan datarnya berubah tajam yang membuat Kyuhyun menelan ludah tanpa sadar.

“Bukannya merasa berdosa sudah menghajar anak orang sampai babak belur, kau malah kabur tanpa penjelasan.”

Sungmin memasukkan tangan ke dalam saku jaket, mendadak diam saat menyadari persediaan kerikilnya sudah habis.

“Total 27 kali—” Sungmin meraup lapisan salju dari beberapa ranting dan menggumpalnya menjadi bola kecil, “—aku meneleponmu, tapi tidak kunjung kau angkat.”

Pluk!

Kyuhyun menggigil sekilas saat lemparan salju Sungmin tepat mengenai wajahnya.

“Jadi, Kyu…” Sungmin berdiri dari duduknya, membuat Kyuhyun terbelalak melihat sosok mungil Sungmin berdiri tegak di antara batang pohon sebagai pijakan. “Aku memutuskan untuk menemuimu langsung saja.”

Kyuhyun panik saat Sungmin melompat tanpa aba-aba. Tubuhnya reflek maju ke depan secepat yang dia bisa, menangkap Sungmin ke dalam pelukan.

Bruk!

Punggungnya membentur lantai kamar. Butiran salju melayang turun dari rambut Sungmin yang berada di atasnya, menggelitik hidungnya dengan sensasi dingin. “Kenapa kau jadi ceroboh begini, Min?!” Kyuhyun membentak khawatir.

Sungmin masih menatap datar saat jemari Kyuhyun menyentuh rambutnya, pipinya, bahunya, membersihkan sisa-sisa salju disana. “Apa salahku?”

“Melompat seperti itu berbahaya, bagaimana kalau kau jatuh?!” Kyuhyun masih menggeram kesal. “Jangan lakukan la—”

“Kau tahu bukan itu maksudku, Kyu!” Sungmin menginterupsi marah. “Aku tanya apa salahku sampai kau tak mau menjawab teleponku sama sekali?!”

Kyuhyun terhenyak. Ini kedua kalinya dia melihat Sungmin marah sejak hari pertama pertunangan mereka dulu. “Ponselku—”

“Rusak? Pulsamu habis? Ringtonenya tidak berbunyi?” Sungmin mencekik kerah piyama Kyuhyun. “Jangan membodohiku, Cho Kyuhyun.”

Rahang Kyuhyun mengeras tanpa sadar. Aku yang menderita disini, kenapa dia yang marah-marah? batinnya mulai sebal. “Ya sudah, telepon Donghae hyung saja sana.”

“Hah?” Sungmin terperangah bingung.

“Sudah tahu aku tidak mau mengangkat teleponmu, kenapa tidak menelepon orang lain saja? Misalnya Donghae hyung?” Kyuhyun menatap tajam.

Tatapan itu menyulut emosi Sungmin lagi. “Apa maksudmu membawa nama Donghae hyung?” Sungmin mencengkeram kerah Kyuhyun lebih kuat. “Ingin melempar kesalahan pada orang lain?”

Kyuhyun tersentak marah. “Inilah kenapa aku tidak mau mengangkat teleponmu!” Kyuhyun mendorong tubuh Sungmin darinya. “Sekarang kau jadi menyebalkan!”

Sungmin terdiam, menatap Kyuhyun yang sekarang berdiri dengan wajah merah dan napas terengah-engah. “Menyebalkan bagaimana?”

Kyuhyun tercekat, respon dingin Sungmin membuatnya tak bisa berpikir logis. “K-kau…” Telunjuknya menuding wajah Sungmin yang masih terduduk di lantai. “Kau bilang kau straight, tapi kau mencium Donghae hyung!”

Sungmin menatap datar. “Orientasi seksual orang bisa berubah.” Dia bisa melihat Kyuhyun kembali tersentak. “Itu bukan hal yang aneh. Lagipula dia yang menciumku, bukan aku yang—”

“Keluar.”

Sungmin mendongak. “Apa?”

Kyuhyun mengepalkan tinjunya kuat-kuat, ekspresi gelapnya tersembunyi di balik poni. “Keluar dari sini,” ucapnya geram, “Lee Sungmin.”

Tak ada respon sampai Sungmin memeluk lututnya dengan mata terus menatap Kyuhyun. “Tidak mau.”

Dua pasang mata mereka bertemu, tapi Sungmin nyaris tak mengenali mata obskurit dingin yang dulu biasa bersinar lembut penuh kehangatan. Bulu kuduknya meremang samar saat langkah Kyuhyun mendekat dengan satu lutut menekuk mensejajarkan posisi mereka.

“Kau akan menyesal.” Jemari pucat itu mengangkat dagu Sungmin pelan.

Sungmin terdiam. Dari tadi dia merasa dingin di sekujur tubuh tapi kini rasa panas menyergap bibirnya. Mungkin Kyuhyun semalaman tidur dengan pemanas ruangan menyala? Sungmin tidak tahu. Dia hanya merasa suhu tubuhnya tertular naik saat bibir Kyuhyun terus menekan bibir mungilnya. Satu kali, dengan lembut. Lalu satu kali lagi, lebih kuat. Sungmin nyaris kehabisan oksigen selama 3 menit sebelum dia berhasil mendorong Kyuhyun dengan napas terengah.

“Hentikan.” Tangan Sungmin menahan bahu Kyuhyun segenap tenaga karena pemuda Cho itu nyaris menangkap bibir pinkishnya lagi saat Sungmin berpaling. “Hentikan, Kyu.”

“Sudah kubilang—”

Bruk!

Sungmin terjatuh ke lantai dengan Kyuhyun mencekal kedua pergelangan tangannya. Seringai iblis itu terpantul di bola matanya dengan jelas.

“—kau akan menyesal.”

To my eyes that sees everything to be dark, you’re the only one that shines brightly.

I want to have you in the end no matter what.

oOo

“Kau kelihatan lebih baik dari kemarin-kemarin.” Wanita paruh baya itu menghidangkan roti telur panas yang segera disantap Hyukjae. “Kau sudah kembali dengan Kyuhyun?”

“Kami putus.”

Han Sunhwa tertegun, wanita itu meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menatap tajam. “Bagaimana bisa? Bukankah pertunangan anak itu sudah berakhir?”

“Kyuhyun mencintai Sungmin.” Hyukjae menyambar roti kedua. “Kami berpisah baik-baik. Harga diriku juga tidak terlalu hancur kok, dia yakin sekali aku masih mencintai Donghae.”

Tak ada percakapan lagi selama beberapa menit. Hanya terdengar kunyahan roti dan tegukan susu yang terlalu keras. “Eomma, kau—” Hyukjae menyeka sisa susu di sudut bibirnya, “—tidak akan menjodohkanku dengan sembarang orang kaya lagi, kan?”

“Gajiku naik.” Sunhwa menyendok supnya dengan sikap tenang. “Kurasa kita tetap bisa bertahan hidup tanpa bantuan orang kaya sekalipun.”

“Sebentar lagi aku lulus sekolah.” Hyukjae menggenggam tangan kiri ibunya. “Aku akan cari kerjaan bagus dan mendapatkan banyak uang. Jangan khawatir, oke?”

Wanita itu terdiam sejenak, matanya mulai berkilau oleh air mata saat bibirnya tersenyum tulus. “Ditinggalkan ayahmu membuatku lupa jika aku masih memiliki putra yang bertanggung jawab sepertimu, Hyuk.”

Hyukjae balas tersenyum lebar sampai gusi merah mudanya terlihat. Dia berdiri dari duduknya dan menarik ibunya ke dalam pelukan. “Aku mencintaimu, eomma.” Bibirnya mencium kening wanita itu lama.

Sunhwa memejamkan matanya sejenak. “Eomma juga mencintaimu.”

“Aku berangkat dulu, eomma.” Hyukjae meraih tas di dekat kursi makan. Sepatunya menunggu di depan pintu, membuat Hyukjae tertegun. Rasanya sudah lama ibunya tidak menyiapkan barang-barangnya seperti ini.

“Hyuk…”

Hyukjae menoleh pelan. “Kenapa, eomma?”

“Eomma minta maaf, ya?” Wanita itu tersenyum lemah. “Maaf sudah membuatmu banyak menderita.”

Hyukjae merasa pelupuk matanya berair. Mungkin Kyuhyun benar, dia lebih cengeng dari Donghae sekarang. “Eomma tidak perlu minta maaf.” Gummy smilenya kembali mengembang. “Aku sayang eomma.”

Pemuda jangkung itu melambai sebelum keluar dari rumahnya dengan langkah riang.

“Kau kelihatan senang.”

Hyukjae mendengus melihat wajah ikan itu kembali menyapanya di pagi hari. “Kenapa masih mengekoriku? Berangkat sekolah dengan pacarmu saja sana!”

Donghae balas mendengus lebih keras. “Kita kan tetangga, apa boleh buat.” Pemuda itu kembali menatap ponselnya. “Kenapa Sungmin tidak membalas pesanku sih?”

Hyukjae menyeringai. “Dia pasti tidak berminat denganmu. Rasakan!”

“Apa-apaan itu?” Donghae melotot. “Kau cemburu?”

“Cemburu padamu?” Hyukjae menjulurkan lidahnya. “Maaf saja ya! Aku hanya masih tidak percaya Sungmin yang manis itu mau denganmu. Tsk… seleranya buruk sekali! Kyuhyun jelas jauh lebih ba—”

Buk! Buk! Buk!

“ARGH! APA YANG KAU LAKUKAN, BOCAH IKAN?!” Hyukjae melindungi kepalanya dari tas Donghae. “Aku hanya bicara fakta!”

Dua pemuda itu berjalan dengan langkah bersungut-sungut. Tidak ada lagi yang mau bicara. Bahkan sampai halte bus, Donghae masih saja sibuk memandangi ponselnya dengan wajah kesal.

Hyukjae melirik sekilas. “Sungmin masih belum membalas?”

“Bukan urusanmu!” sentak Donghae.

Hyukjae melotot tersinggung. “YAH! Aku kan hanya bertanya!” Pemuda jangkung itu berkacak pinggang marah. “Asal kau tahu Sungmin itu masih perhatian pada Kyuhyun! Kemarin dia menelepon Kyuhyun di sekolah tapi Kyuhyun tidak mau mengangkat! Aku yakin Sungmin akan terus—”

“BERISIK!” Donghae membentak keras. “KAU INI CEREWET SEKALI SEPERTI IBU-IBU PENGGOSIP!”

Hyukjae terperangah. “YAH! BERANINYA KAU MENGHINAKU DENGAN WAJAH JELEKMU ITU, IKAN BADUT!”

“APA KAU TIDAK PUNYA CERMIN DI RUMAH, IKAN TERI?!”

BUAKK! BUAKK! BUAKK!

Orang-orang yang menunggu di halte cepat-cepat menyingkir saat dua ikan itu saling menendang dan menjambak satu sama lain dengan buas.

oOo

Even if you leave me like this, you can’t escape me. Let go of all your doubts and accept fate—

that you are my destiny.

“Kenapa kau melakukan ini?”

“Kau pikir—” Telunjuk Kyuhyun mengusap bibir Sungmin yang total basah, “—apa yang akan kulakukan bersama tunanganku di kamarku?”

Kyuhyun tersenyum manis yang entah mengapa malah membuat Sungmin merinding.

“Kupikir kita sudah berpisah?”

“Tapi kau datang mengejarku sampai kesini.” Kyuhyun melepas scarf pink pastel Sungmin perlahan. “Pasangan bercerai saja bisa rujuk, apalagi kita yang baru bertunangan.”

“Kau ingin kita kembali?”

DEG!

Kyuhyun tak mengerti kenapa Sungminnya bisa selalu tegas dan lurus seperti ini. Seolah masalah perasaan bukan hal berat baginya.

Kenapa hanya aku yang kacau begini?

Kau tak punya perasaan apapun padaku?

“Kau suka Donghae hyung, kan?” Kyuhyun tak tahu tenaga darimana yang membuatnya bisa melontarkan pertanyaan itu. “Bagaimana mungkin aku ingin kembali dengan seseorang yang menyukai orang lain?”

“Aku juga tidak mau begitu.” Sungmin menatap datar. “Makanya dulu aku minta pisah.”

DEG!

Cekalan Kyuhyun melemah, Sungmin berhasil bangkit dan mendorong tubuh yang menghimpitnya selagi Kyuhyun lengah.

“Bukankah kau suka Hyukjae hyung?” Sungmin merapikan kemeja dan jaket putihnya yang agak kusut. “Lalu kenapa tiba-tiba ingin kembali padaku?”

Mata rubah sewarna karamel Sungmin seolah menohoknya kini, Kyuhyun sampai menunduk karena tak kuat memandangnya lama-lama. “Aku tahu aku ini pengecut.”

Sungmin mengerjap, tanpa sadar wajahnya mendekat ke arah Kyuhyun. “Takut apa?” tanyanya lembut.

Kyuhyun meleleh. Bibirnya mencuri ciuman kecil di bibir Sungmin yang membuat pemuda manis itu tersentak pelan. “Takut ditolak?”

Ctak!

Jemari Sungmin menyentil dahi Kyuhyun keras.

“Hei! Sakit, Min!”

“Bukannya kau yang duluan menolakku?” Sungmin menghiraukan protes Kyuhyun. “Dulu kau bilang ‘jangan jatuh cinta padaku’. Apa-apaan itu?”

Kyuhyun melongo. “Kenapa membahas hal itu? Kau kan memang tidak mencintaiku.”

Sungmin mendengus samar. “Memang tidak.” Matanya melirik Kyuhyun yang tampak terluka. “Tapi ekspresi jelekmu itu membuatku jadi ragu sendiri.”

“Yah! Maksudmu apa?!” Kyuhyun terperangah syok.

“Apa begitu menyakitkan bila aku tak punya perasaan apapun padamu?”

Kyuhyun tersentak. “Kau mau mengasihaniku?” Mata Kyuhyun mendingin lagi. “Jangan mempermainkan aku, Min! Aku tidak butuh—”

“Kau yang mempermainkan aku!” Sungmin membentak keras. “Kau bilang sudah punya kekasih, kau bilang kita akan berpisah nantinya, kau bilang aku tidak boleh mencintaimu, kau bilang aku hanya adikmu, tapi kenapa sikapmu begini?!”

Kyuhyun tercengang. Dia dapat melihat mata marah Sungmin yang sedikit berkaca-kaca, tapi pemuda mungil itu keburu memalingkan wajahnya.

“Aku penasaran pada Donghae hyung, jadi aku mendekatinya. Aku hanya ingin berteman dengannya, tapi dia malah sungguh-sungguh menyukaiku. Aku harus bilang apa?”

Sungmin mengusap kasar matanya dengan lengan jaket.

“Aku berdebar saat kau menciumku pertama kali. Aku tidak mengerti. Aku tidak pernah menyukai lelaki dan tidak seharusnya aku berdebar saat hari kepergian orangtua kita.”

Tapi kristal-kristal bening itu tidak mau berhenti mengalir.

“Lalu saat Donghae hyung menciumku, ekspresimu itu membuatku sakit. Aku tak bisa tidur karena kau tak mau menjawab teleponku. Lalu aku datang ke sekolahmu tapi Ryeowook hyung bilang kau pergi dengan Hyukjae hyung. Aku mencoba menelepon sekali lagi tapi kau tak juga menjawab.”

Dada Kyuhyun mencelos. Dia tidak tahu Sungmin datang ke sekolah. Kenapa Yesung hyung dan Ryeowook hyung tidak bilang apa-ap—

“Kata Yesung hyung mungkin kau sedang sibuk bermesraan dengan Hyukjae hyung, entah kenapa aku jadi marah. Lalu Yesung hyung bilang, memarahimu dengan kata-kata tidak akan mempan jadi aku harus melemparimu dengan batu.”

Rahang Kyuhyun nyaris jatuh. Yesung hyung sialan!

“Aku… kesal.” Bulir-bulir bening berjatuhan semakin banyak. “Aku tidak suka bertengkar denganmu, tapi kau benar-benar menyebalka—”

Kalimat itu berhenti saat bibir penuh Kyuhyun kembali mengunci bibir mungilnya. Sungmin hanya terdiam kaku dengan ujung jari sedikit gemetar.

I can feel you. I’m falling, falling faster.

oOo

“Ini salahmu kita jadi ketinggalan bus! Biaya taksi mahal tahu!”

“Bukannya kau duluan yang memancingku?!”

“Tapi kau duluan yang menendangku!”

“YAH! KAU MEMANG #$%^&*(%$#%!”

Supir taksi memandang spion dengan tatapan menderita. Ya Tuhan… penumpangnya hanya dua remaja SMA, tapi kenapa dunianya seolah hampir runtuh? Dengan tidak sabar diinjaknya rem sekuat tenaga saat bangunan sekolah yang dituju sudah di depan mata.

Ckiiiitttt!

Bruk!

Cuppp!

Eh?

Dua ikan hiperaktif itu sontak terdiam dengan mata melotot. Bibir yang—tidak sengaja—bertautan megap-megap mirip ikan kekurangan air. Perlu sekian menit sampai dua-duanya sadar dengan posisi mereka.

“Sudah sampai, nak.” Supir taksi memalingkan wajahnya yang memerah, sudut bibirnya sedikit tertarik. Sepertinya dia fudanshi O.O

Donghae dan Hyukjae lebih merah padam lagi. Keduanya saling menjauh, terduduk kaku dengan tangan saling menyentuh bibir masing-masing.

H-Hyaaa! Kenapa jadi begini?!

oOo

Even though love increases as much as time’s weight. Even though pain is heavy.

Still, I feel like you’ll love me.

Tapi ini seperti mimpi. Kyuhyun menyesap bibir tipis itu untuk yang ke sekian kalinya, meyakinkan diri jika Sungmin yang ada di depannya ini sungguh nyata.

“Saat ini,” Suara velvet Kyuhyun berbisik lirih, “apa hatimu berdebar?”

Mata rubah yang terbuka tenang itu membuat Kyuhyun kembali ragu. Sungmin memang selalu tenang, bahkan terlalu tenang.

Sungmin mengangguk singkat. “Aku ingin kau minta maaf karena sudah membuat hatiku begini.”

Alis Kyuhyun bertaut.

Hei, ayolah jantungnya hampir meledak sekarang, tapi kenapa bocah manis di depannya ini hanya duduk tegak tanpa ekspresi?

“Kau serius dengan kata-katamu, kan?” Kyuhyun menyentuh pipi Sungmin yang lembab oleh bekas air mata, sekilas Kyuhyun mengerjap takjub. “Hei, aku tidak berkhayal. Kau benar-benar menangis tadi.”

Wajah datar Sungmin berubah kesal. “Tsk… apa yang kau pikir—”

Tiba-tiba saja napas hangat Kyuhyun mendekat, bibirnya menyeka hati-hati jejak air mata di pipi Sungmin.

“Kyu…?”

“Hm?”

Sungmin meremas ujung jaketnya gugup saat lidah Kyuhyun bermain di bulu matanya. “Kau tak perlu melakukan ini.”

“Kenapa?” Tampaknya Kyuhyun tak terlalu mendengarkan, beberapa kali dia mengecup pipi marshmallow Sungmin dan menjilatnya lembut.

“He-hentikan…”

Deg!

Kyuhyun terdiam. Tak yakin telinganya mendengar suara creamy Sungmin yang… gemetar?

Pemuda Cho itu menjauhkan wajahnya, terpana melihat pipi Sungmin yang merona merah muda.

“Manis.” Kyuhyun bergumam tanpa sadar.

Rona pipi Sungmin memekat semerah mawar. Jemarinya bergerak ke arah leher—berniat menutupi ekspresinya dengan scarf—tapi dia baru menyadari Kyuhyun sudah melempar scarf pink pastel favoritnya itu entah kemana.

Kyuhyun terkekeh kecil melihat tingkah imut Sungmin. “Apa yang perlu kau sembunyikan dariku, hm?” Kyuhyun menangkup pipi semerah apel itu dengan kedua tangannya. “Kau sudah terlalu sering menyembunyikan banyak hal.”

Alis Sungmin bertaut protes. “Kyu! Aku tidak—”

“Sssh, Min…” Telunjuk Kyuhyun menempel lembut di bibir Sungmin. “Aku juga tidak suka bertengkar denganmu. Jadi bisakah kita berhenti berdebat?”

Sungmin terdiam. Sejenak memejamkan matanya, kalah. “Aku menyukaimu, Cho Kyuhyun.”

Tak ada respon sampai mata rubahnya terbuka.

“Suka?” Jemari Kyuhyun menelusuri pipi halus Sungmin yang merona samar. “Hanya itu?”

“Memang hanya itu.” Mata jernih Sungmin bersinar menggemaskan. “Jika kau meninggalkanku dan mengabaikanku lagi, perasaanku tidak akan lebih dari itu.”

Kyuhyun mengerjap terkejut.

“Atau jika kau menyukai orang lain lagi,” Sungmin memiringkan kepalanya 45 derajat, “aku yang akan angkat kaki dari sini.”

1 detik… 2 detik… 10 detik.

“Kyu?” Sungmin mengerjap karena Kyuhyun tak kunjung merespon.

“Darimana kau belajar aegyo, Min?” Kyuhyun masih mematung dengan ekspresi terpesona. “Berhenti membuatku meleleh.”

“Kau tidak mendengar kata-kataku sama sekali?” Sungmin menghela napas kesal.

Kyuhyun tersenyum lembut. “Soal meninggalkanmu dan mengabaikanmu, aku tidak akan sanggup melakukannya lama-lama karena itu sama dengan menyiksa diriku sendiri. Dan bagaimana mungkin aku bisa menyukai orang lain lagi?” Dikecupnya kening Sungmin sepenuh hati. “Aku sangat mencintaimu, Min.”

Senyum manis Sungmin merekah. Kyuhyunnya yang lembut dan hangat sudah kembali.

Grep!

“Min?” Detak jantung Kyuhyun bernyanyi kacau saat Sungmin memeluknya erat.

“Soal Donghae hyung,” Wajah imut Sungmin tenggelam di piyama Kyuhyun, “aku sudah menolaknya setelah dia menciumku waktu itu. Tapi dia tetap bersikeras jadi kekasihku sebelum aku punya kekasih sungguhan.”

“Hn… dia memaksa sekali ya?” Kyuhyun membelai lembut helaian pirang platinum Sungmin. Mata gelapnya berkilat dengan seringai mengerikan. “Tenang saja, Min. Aku akan segera menyelamatkanmu dari cengkraman monster ikan itu.”

oOo

Yang seperti ini mungkin namanya nostalgia.

Seolah ‘Hyukjae yang belum mengenal Kyuhyun’ dan ‘Donghae yang belum mengenal Sungmin’ sedang mengadakan semacam reuni. Dengan dada yang berdebar, juga pipi yang memanas. Perasaan yang familiar kembali datang.

Apa aku masih menyukai orang ini?

Keduanya merutuk dalam hati. Mengingat perjuangan mati-matian mereka untuk menghapus perasaan masing-masing. Bagaimana bisa perasaan itu kembali seenaknya hanya dengan satu ciuman sederhana?

“Rrr… Hyuk?”

“Y-ya?” Hyukjae tersentak. Suara Donghae terdengar lain di telinganya. Lebih dalam dan lembut, membuat jantungnya berdebar riuh.

“Kelas kita ketinggalan di belakang.”

Hyukjae melotot. Baru menyadari mereka sudah melewati 3 kelas lain. “K-kenapa kau tidak bilang dari tadi?”

“Aku juga baru sadar, Hyuk.”

Mereka berbalik arah dengan ekspresi malu-malu. Semua orang dapat melihat aura pink yang menguar kemana-mana.

Hyukjae memejamkan matanya, berusaha mencari rasa sakit hatinya saat diputuskan Kyuhyun, rasa cemasnya saat Kyuhyun ditunangkan, juga hatinya yang berdebar saat Kyuhyun tersenyum dan menatap lembut.

Dia nyaris saja tenggelam dalam euforia namun jantungnya menghentak saat Donghae menggenggam tangannya.

“Ma-maaf!” Donghae ikut tersentak, reflek melepas genggaman tangannya yang membuat Hyukjae kecewa. “Aku sering menggenggam tangan Sungmin seperti itu, jadi maaf kebiasaan.”

Hyukjae terhenyak. Hatinya terasa perih melihat Donghae yang menatap ponsel dengan puppy eyes andalannya, sepertinya masih menunggu balasan pesan dari Sungmin.

Hyukjae memalingkan wajahnya cepat.

Untuk kali ini, Hyukjae mengakui dia cemburu.

oOo

You melt me like a white snow. You’re shining, you’re gleaming, and your warmth slowly wraps around my heart.

Ini musim salju.

Pemanas ruangan tidak sanggup melawan hawa dingin yang berhembus dari jendela yang belum ditutup. Butiran-butiran salju melayang masuk dibawa angin. Tapi Kyuhyun merasa hangat. Mata bening Sungmin yang sewarna darjeeling tea, bibir merah mudanya yang sewarna kelopak sakura musim semi, kilau senyumnya yang membuat Kyuhyun meleleh. Kyuhyun tak peduli dengan angin dingin yang terus bertiup. Sungmin bahkan lebih hangat dari selimut, jaket, dan scarf yang ditumpuk.

“Kyu?”

Mata Sungmin membulat saat mendengar napas Kyuhyun yang naik turun teratur di bahunya. Dia lelah? pikir Sungmin dengan bibir tersenyum lembut. Dengan hati-hati melepas tangannya yang memeluk Kyuhyun. Pemuda pucat itu melenguh sedikit, seperti tidak rela jika Sungmin menjauh darinya.

“Jangan pergi… Min.”

Sungmin menghela napas. “Kau belum mau tidur setelah begadang semalaman?”

Kyuhyun tak mengeluarkan sepatah katapun saat Sungmin mengalungkan satu lengan berbalut piyama biru itu ke bahunya, susah payah mengangkat Kyuhyun kembali ke tempat tidur.

“Mata pandamu mengerikan.” Sungmin merebahkan kepala Kyuhyun di bantal dengan benar sebelum menarik selimut tebal. “Bengkak sekali, jangan-jangan kau menangis semalaman?”

“Kau memang tidak pernah menjaga perasaanku.” Suara lirih Kyuhyun terdengar berat. “Waktu itu juga… kau memberitahu ayahku saat aku menangis. Apa kau tidak tahu harga diri laki-laki, Min?”

Sungmin tertawa ringan yang terdengar lebih merdu dari denting piano yang biasa dimainkan Kyuhyun. Tangan halusnya menyapa poni hazel pemuda berkulit pucat itu. “Aku tahu harga dirimu tinggi, Kyu. Oleh karena itu aku berusaha keras agar kau tetap menepati janjimu dengan Hyukjae hyung.”

Kyuhyun tersenyum. “Aku tahu aku memang pecundang.” Pelupuk matanya semakin mengatup seiring belaian jemari Sungmin di rambutnya. “Kau tak keberatan dengan orang sepertiku, Min?”

“Orang yang merebut kekasih orang lain lalu mengkhianati si kekasih setelah mendapatkannya.” Sungmin memiringkan kepala, lagi-lagi memamerkan aegyo yang seolah memaksa Kyuhyun kembali membuka mata. “Kau mengkhianatinya karena aku. Apa aku juga menanggung dosa disini, Kyu?”

Senyum angelic itu membuat wajah Sungmin tak pantas menanggung dosa apapun. Kyuhyun tertawa pelan. “Aku lebih buruk dari yang kau pikir, Min.”

“Wanita itu…” Sungmin menatap teduh. “Apa namanya Seo Eunseo-ssi?”

Kyuhyun menegang, matanya membulat lebar saat menebak-nebak kemana arah pembicaraan ini.

“Wanita itu tidak mencintai Donghae hyung, kan?” Sungmin meneruskan kalimatnya dengan lembut seolah tak ingin mengganggu perasaan Kyuhyun. “Dia merebut Donghae hyung dari Hyukjae hyung karena dia mencintaimu. Kau mengetahui kenyataan itu tapi tak pernah mengatakan kebenarannya pada Hyukjae hyung dan Donghae hyung.”

Tak ada respon selama beberapa menit sampai jemari Kyuhyun meremas ujung jaket Sungmin dan tersenyum miris. “Yesung hyung… sialan. Aku sudah mengancamnya untuk tidak memberitahu orang lain.”

“Mungkin karena aku bukan orang lain bagimu.” Sungmin menyangkal dengan nada bercanda yang manis. “Lagipula bukan Yesung hyung, tapi Ryeowook hyung.”

“Astaga, Ryeowook hyung.” Tawa Kyuhyun tenggelam di balik jaket Sungmin. “Aku tidak menyangka.”

Sungmin ikut tertawa. Tertawa bersama Kyuhyun, bukan menertawakan Kyuhyun dan masa lalunya yang bodoh.

Mereka seperti anak-anak. Terbawa perasaan oleh masalah. Saling menjauh dalam diam tapi merasa kehilangan. Bertengkar sampai menangis. Kembali berbaikan dengan cara yang sangat manis. Tertawa bersama.

Dan begitu bebas.

Bertahun-tahun terjerat dalam peraturan, berkali-kali mengutuk takdir, berjuang keras untuk melarikan diri. Namun lambat laun mereka menyadari, sebenarnya tidak perlu mencari jalan keluar. Terus jatuh dan bertubrukan dengan takdir juga bukan masalah.

Freedom can be frightening if you never felt it.

“Kau tahu hal terbesar yang kusesali setelah kepergian orangtua kita, Min?” Kyuhyun mendongak dengan suara lirih yang tercekat.

Sungmin tak menjawab. Mungkin sudah tahu jawabannya, tapi Kyuhyun tetap bersikeras menyuarakannya.

“Aku kurang bersyukur.”

Sungmin mencium kening Kyuhyun, seolah memohon agar kekasihnya itu tak lagi membahas apapun yang telah berlalu. “Aku juga merasakan hal yang sama,” lirih Sungmin lembut. “Tapi kita sudah melupakannya, kan?”

“Hm…” Kyuhyun tersenyum kecil. Jemarinya menahan tengkuk Sungmin saat pemuda manis itu berniat kembali menegakkan tubuhnya. “Min… aku merasa sangat lelah.”

Sungmin balas tersenyum. “Ya, aku juga lelah.”

Dengan ‘ketidakbebasan dan penderitaan hidup’ yang kita buat sendiri.

Kyuhyun membuka selimutnya, membiarkan Sungmin masuk dan menariknya ke dalam dekapan hangat. Wangi floral bercampur currant dan raspberry manis itu memeluk indra penciuman Kyuhyun, seperti aroma terapi yang menenangkan. Saat ini, hanya ada dia dan Sungmin. Tidak ada masalah keluarga, tidak ada konflik antar teman, tidak ada tugas sekolah, tidak ada pekerjaan, tidak ada pertemuan bisnis dengan presiden direktur atau general manager ini itu.

Perlahan Kyuhyun memejamkan mata dengan wajah tersenyum.

Ini kebebasan yang selalu kita impikan, bukan?

oOo

Sungmin tak membalas pesannya sampai bel pulang sekolah berbunyi.

Donghae merasa ada yang tidak beres, Sungmin tak pernah mengabaikannya seperti ini. Total 15 pesan dia kirim seharian, semuanya delivered. Tapi tak ada satupun yang dibalas.

“Apa begitu sibuknya?” Donghae mencari kontak dan menekan nama Sungmin.

Matanya menggelap. Baru ingat kenapa dia tidak menelepon Sungmin meskipun pesannya tak kunjung dibalas. Hyukjae selalu mengawasinya di kelas dengan mata yang aneh, dan mata itu seolah menahan Donghae untuk tidak menekan tombol call.

Kenapa dia keberatan? Apa karena cemburu?

Dan kenapa juga aku masih memikirkannya?

Donghae menggelengkan kepalanya keras, berusaha mengusir bayang-bayang Hyukjae yang sudah tidak perlu untuknya.

Pik!

“Sungminnie?” Senyum Donghae merekah. “Akhirnya kau mau men—”

“Kau norak sekali, hyung.”

Donghae membeku.

“15 pesan, astaga. Kau seperti ibu-ibu yang khawatir saat anaknya pergi kemping.”

Rahang Donghae mengeras. “K-Kyuhyun…”

“Aku tidak akan marah-marah, hyung. Min sedang tidur jadi aku tidak berani mengeraskan suaraku.” Kyuhyun menghela napasnya sekilas. “Asal kau tahu, walaupun mode silent memang mengunci getar dan dering ponsel yang mengganggu, tapi tetap saja cahaya yang terus-terusan bersinar dari saku jaket Min membuatku susah tidur. Apa kau bisa berhenti mengirim pesan dan menelepon, hyung? Tidak baik mengganggu private time orang lain.”

“Apa maumu, Cho Kyuhyun?”

Suara itu terdengar begitu gelap oleh amarah, sampai Kyuhyun sendiri terdiam beberapa saat.

“Hanya mempertahankan orang yang kucintai.”

“Setelah aku mulai jatuh padanya dan melupakan Hyukjae?” Donghae mengepalkan tinjunya kuat. “Bagus sekali, tuan Cho.”

Hening lagi.

“Dengar, hyung.” Suara Kyuhyun terdengar datar. “Aku tahu kau sentimen denganku. Kebetulan orang yang kita sukai selalu sama. Kebetulan juga, orang yang kau sukai selalu lebih tertarik padaku.”

Donghae murka. “CHO KYUHYUN! KAU—”

“Tapi itu hanya prasangkamu semata, hyung.”

Donghae tercekat.

“Sulit bagiku merebut Hyukjae hyung darimu. Aku perlu berjuang mati-matian sampai dia melupakanmu. Dia terlalu mencintaimu. Bahkan sampai sekarang aku yakin dia masih mencintaimu meskipun mungkin dia tidak menyadarinya,” tegas Kyuhyun serius. “Dan saat aku melihatmu mencium Sungmin, sial… aku benar-benar ingin membunuhmu saat itu.”

“KAU PIKIR AKU TIDAK INGIN MEMBUNUHMU SAAT KAU MEREBUT EUNHYUK DARIKU, HAH?!” Donghae berteriak sekuat tenaga. “KAU YANG MEMULAI SEMUA INI, CHO KYUHYUN!”

“Apa kau ingin membunuhku sekarang?”

Suara tenang Kyuhyun menyekat Donghae.

“Apa kau ingin membunuhku sekarang? Karena aku merebut Sungmin?”

Donghae kehilangan kata-kata.

“Tadi kau memanggilnya ‘Eunhyuk’ lagi.”

Donghae merasa jari-jemarinya gemetar, wajahnya pias.

“Kau masih mencintainya kan, hyung?”

Donghae menegakkan tubuhnya, mati-matian berusaha kembali tegar. “Jangan mengguruiku, Cho.”

“Aku lega mendengarnya, hyung.”

“Hah?”

“Aku lega mendengar kau bilang ingin membunuhku karena merebut Hyukjae hyung. Dulu kau tak pernah bilang apa-apa. Kau selalu menahan segalanya di dalam karena rasa bersalah. Aku senang kau bisa mengeluarkan perasaanmu juga pada akhirnya.”

Donghae tidak tahu harus merespon apa. Pikirannya buntu.

“Tapi kau tidak perlu merasa bersalah, hyung. Kau tidak salah. Seo Eunseo-ssi yang salah sudah menipumu.”

Donghae menggeretakkan giginya. “Kau ingin menghiburku, Cho? Kau tidak perlu repot-repot melakukan i—”

“Lepaskan Sungmin.” Kyuhyun menginterupsi tajam. “Atau kau akan menyesal.”

oOo

Kyuhyun menon-aktifkan ponsel Sungmin dengan wajah puas. Kalau Donghae masih berani mengganggu Sungmin setelah ini, Kyuhyun sendiri yang akan turun tangan. Hembusan napas Sungmin menerpa lehernya saat Kyuhyun meletakkan ponsel pink itu di meja nakas.

“Dia benar-benar menyukaimu.” Kyuhyun menggeram kesal, namun akhirnya tersenyum juga saat memperhatikan wajah damai Sungmin lekat. “Tapi apa boleh buat. Memangnya siapa yang sanggup menolak pesonamu, Min?”

Jemarinya menyapa garis indah wajah Sungmin. Dahinya, matanya, hidungnya, bibirnya. Aish… bagaimana cara Chunhwa abonim dan Kyeongsuk omonim membuat bocah malaikat semanis ini, huh? Kyuhyun terkekeh karena pikiran konyolnya sendiri.

“Yah… tidak akan lagi yang bisa menyamaimu, Min.” Kyuhyun mengusap-usap pipi Sungmin yang mirip kulit bayi. “Tidak akan ada Sungmin chibi, karena kau sudah terlanjur memilihku.”

“Kyuhyun chibi juga tidak.”

Kyuhyun tersentak saat mata rubah itu mendadak terbuka. “K-kau tidak tidur?”

“Kau yang perlu tidur disini.” Sungmin menghela napas. “Bukan aku.”

“Aku tidak jadi mengantuk gara-gara Donghae hyung.” Kyuhyun cemberut dengan wajah kekanakan. “Salahmu memberikan nomormu padanya.”

Sungmin memejamkan matanya cuek, dia tahu Kyuhyun tidak serius. “Terserah kau sajalah.”

Kyuhyun mendengus. “Sama sekali tidak manis.”

“Kalau begitu kenapa tidak kembali pada Hyukjae hyung saja? Dia kan manis.”

Mata Kyuhyun membulat syok. “Min, kau—”

Tapi Sungmin tertawa setelah itu yang membuat Kyuhyun kembali cemberut. “Aish… balas dendam, eh?”

“Salahmu sendiri yang terus-terusan mengungkit soal Donghae hyung.” Sungmin bangkit dan menyamakan posisi duduknya dengan Kyuhyun. “Aku tak punya perasaan apapun padanya, Kyu. Sungguh. Tidak sepertimu yang punya perasaan pada Hyukjae—”

Entah untuk yang ke berapa kali, Kyuhyun tak dapat menahan diri untuk tidak membungkam bocah menggemaskan itu dengan bibirnya. Menyesap kuat rasa manis disana untuk sekian detik sebelum melepasnya perlahan. “Apa kita tidak bisa berhenti bertengkar seperti anak kecil, Min?”

Mata rubah itu memandangnya innocent. Atau mungkin… blank? “Apa kau tak bisa berhenti mengejutkanku seperti itu, Kyu?” Sungmin menunduk dengan pipi merona.

Kyuhyun tertawa pelan. Jemarinya mengangkat dagu Sungmin, mempertemukan manik mata karamel manis itu dengan mata obskuritnya. “Ini hal ringan bagi sepasang kekasih, Min.” Seringai setannya terulas dengan tatapan seduktif. “Biasanya justru lebih dari ini.”

Sungmin mengerjap. “Apanya yang lebih dari—”

Rasa hangat dan lembut yang mulai terasa familiar kembali mendominasi bibir pinkishnya. Bahu Sungmin menegang, tapi dia berusaha untuk memejamkan mata secara kooperatif saat Kyuhyun membelai tengkuknya menenangkan. Beberapa waktu Sungmin hanya terdiam pasif sampai sesuatu yang lembab mengusap bibirnya beberapa kali seolah meminta akses lebih dalam. Sungmin mencengkeram kuat lengan piyama Kyuhyun, mencoba menghiraukan jari-jemarinya yang gemetar. Bibir mungilnya terbuka perlahan, mengizinkan Kyuhyun mengeksplorasi lebih jauh. Mengajarinya cara bergabung dalam permainan.

Pasokan oksigen semakin menipis dan perlu segenap tenaga untuk mendorong Kyuhyun menjauh. Sungmin menarik napasnya susah payah. Kyuhyun kali ini benar-benar keterlaluan.

“Kau masih perlu banyak belajar, Min.” Kyuhyun tersenyum geli saat mengecup bibir Sungmin yang sudah semerah strawberry. “Kau punya seumur hidup untuk itu.”

Sungmin menatap protes yang membuat Kyuhyun tertawa lepas. Kyuhyun sendiri tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya. Bahkan hanya dengan bersikap pasif Sungmin masih begitu adiktif, dan awesomely breath-taking. Kyuhyun merasa sulit untuk berhenti.

“Kyuhyun sialan…”

Kyuhyun terdiam. “Min…?”

“A-apa?” Secara reflek Sungmin memundurkan tubuhnya saat Kyuhyun mendekat dengan seringai iblis yang semakin melebar.

“Kau sexy saat memaki. Jadi jangan lakukan itu jika kau tak ingin aku lepas kendali, Min.”

Well, itu terdengar seperti ancaman mengerikan. Sungmin langsung menganggukkan kepalanya sekuat tenaga. Dia masih bocah di bawah umur (?), please.

Pluk!

Sungmin mengerjap saat tangan Kyuhyun mendarat di kepalanya dan mengacak rambutnya penuh sayang.

“Bercanda.” Kyuhyun tersenyum lebar. “Ah, tidak. Aku serius tapi kau tak perlu takut begitu. Aku tidak akan memakanmu jika kau tidak mengizinkannya, sayang.”

Bahkan anak kecil pun tidak akan percaya.

Sungmin membeku di ranjang sampai tak menyadari Kyuhyun bangkit dan berjalan ke arah lemari. Matanya spontan terbelalak melihat Kyuhyun melepas piyamanya. “Kau mau kemana?” Pertanyaan itu terdengar normal jika tidak melihat ekspresi horor Sungmin yang pucat. Untung Kyuhyun tidak menoleh sama sekali.

“Hanya makan pagi.” Kyuhyun melepas celananya setelah mengenakan kemeja. “Memangnya kau tidak lapar, Min?”

Sungmin lebih memilih menatap langit-langit. Tidak ada yang aneh melihat sesama lelaki berganti pakaian, kecuali Kyuhyun. “Aku ingin makan di luar.”

“Huh?” Kyuhyun baru menoleh setelah menarik resleting jeansnya. “Restoran?”

“Café.” Sungmin tersenyum tipis. “Lalu taman bermain, lalu game center, lalu akuarium, lalu… ng…”

Hati Kyuhyun berdebar riang. Sungmin mengingat-ingat semua tempat yang dulu pernah mereka kunjungi bersama. “Lalu?” Kyuhyun mendesak dengan senyum menggoda.

Sungmin masih berpikir sampai Kyuhyun berdiri di sisi ranjang, tepat di hadapannya.

“Lalu…” Kyuhyun tersenyum lebih lebar, “… gereja.”

Mata Sungmin membulat lebar.

Helai poni hazel Kyuhyun menyentuh poni pirang platinum Sungmin saat bibir merahnya meraih bibir pinkish pemuda mungil itu.

Kyu? Sungmin mengerjap. Dia dapat merasakan rengkuhan kuat memeluk pinggangnya posesif, dan detak jantung Kyuhyun mulai terdengar semakin jelas.

Deg… deg… deg…

Seperti irama lembut yang biasa Sungmin dengar saat hujan turun.

Seperti suara jarum detik jam saat Sungmin menunggu ibunya menjemput di sekolah dasar.

Pelan, tapi teratur.

Dan api yang aneh mulai membakar sekujur tubuhnya, memaksa batinnya meneriakkan nama.

Kyuhyun… Kyuhyun…

“Min…” Suara velvet Kyuhyun terdengar lebih berat saat ciuman itu berakhir. “Soal hidup bersama…” Tangannya menyodorkan kotak silver yang terbuka, ada sepasang cincin platina berbatu safir—cincin pertunangan mereka dulu.

“… aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” Kyuhyun menelan ludah, berusaha menghilangkan rasa gugup. “Usia kita memang belum cukup, tapi…”

Sungmin mendongak, sinar teduh mata obskurit Kyuhyun seolah menarik jiwanya tenggelam jauh di dalam sana.

Kyuhyun menegakkan bahunya, menatap tegas. “Ayo kita menikah.”

Pandangan Sungmin mengembun, dan senyum malaikat itu kembali terkembang di paras manisnya.

“Oke.”

They’re falling, and there’s no holding back.

oOo

Fin

CLICK HERE TO POST COMMENT

Advertisements