Falling Without You (Chapter 13)

I wanna always be with you.

I wanna hold you tight right now.

I swear I will wipe your tears.

I’ll give you everything I have.

Kata-kata manis Kyuhyun membekukan Sungmin. Isakannya menghilang, berganti mata rubah yang melebar terkejut.

Kyuhyun hanya bisa menenggelamkan wajahnya yang seputih lilin pada helaian rambut halus Sungmin.

Ini sudah keluar jalur.

Tapi apa yang bisa Kyuhyun lakukan? Ekspresi jujur Sungmin, tatapan rapuhnya, air matanya, dan suasana duka bercampur panik yang kacau ini berhasil membuat Kyuhyun mengungkapkan segalanya. Segala yang dia tahan dan simpan rapat-rapat di dalam hatinya.

Jemari Kyuhyun yang mendekap tubuh mungil Sungmin mulai gemetar pelan.

“Kyu…” Suara creamy khas Sungmin berbisik merdu meski sedikit serak. “Terimakasih.”

Pertahanan Kyuhyun runtuh. Bulir-bulir bening menetes lagi saat lengannya memeluk tubuh mungil Sungmin lebih erat. Jantungnya berdetak cepat, gelisah.

Hanya bisa berharap semoga ‘terimakasih’ yang Sungmin maksud bukan ungkapan perpisahan.

oOo

Falling Without You

So I gave parting to you as a gift and turned my back, I’m falling without you.

Kyuhyun/Sungmin’s FanFiction

by Kiri-chan

Warning : ada beberapa crack pair sebagai konflik dalam cerita, it’s SLASH! YAOI! Shounen-ai! Whatever a BoyxBoy FanFiction called! Siapapun yang keberatan bisa menerapkan asas DON’T LIKE DON’T READ bagi fanfiction ini.

~ Chapter 13 ~

Without You

oOo

Dua pemuda berpakaian hitam saling bertautan tangan setelah meletakkan bunga lili pada tiga peti yang berjejer, memberikan salam terakhir pada yang terkasih.

“Tuhan memberkati kalian. Appa, eomma, Chunhwa abonim.”

“Appa, aku menyayangimu, abonim dan omonim juga. Selamat jalan.”

“Kami akan selalu mendoakan kalian.”

Kyuhyun merasa pelupuk matanya memanas lagi. Masih tercetak jelas dalam ingatan ketika terakhir kali mereka bercanda dan tertawa bersama. Saat ayahnya mengusap kepalanya, saat ibunya kembali cerewet dan memberinya nasihat-nasihat menyenangkan, saat ayah Sungmin mulai terlihat bijak di matanya, pada saat terakhir itu mereka semua menghilang.

Air mata Kyuhyun turun segaris, namun tubuhnya masih tegak berdiri. Setegak saat tiga jenazah orangtuanya diantar dengan sirine ambulan, saat itu Kyuhyun dan Sungmin hanya bertautan tangan dengan pandangan kosong ketika menyaksikan itu memang benar orangtua mereka.

“Mereka akan baik-baik saja, Kyu.” Sungmin meremas jemari Kyuhyun sekilas. “Bagaimanapun mereka pergi bersama-sama.”

“Kau benar, Min.”

Apa kita juga akan baik-baik saja?

Pertanyaan itu tersangkut di tenggorokan Kyuhyun. Namun pita suaranya tetap tenang tanpa getar sedikitpun. Dia tak punya keberanian. Sungmin tampak lebih beku dari sebelumnya, dan Kyuhyun tidak ingin menambah beban di pundak mungil pemuda itu dengan kecemasannya yang berlebihan.

“Kau akan kembali pada Hyukjae hyung?”

Kyuhyun tersentak. Tak menyangka pertanyaan lugas itu akan datang begitu cepat.

“Kita tak sempat jujur selama mereka masih hidup, Kyu.” Sungmin menatap lurus pada orangtua mereka yang sudah terbaring tenang. “Jika kita tak jujur sekarang, kapan lagi?”

Pernyataan itu menohok Kyuhyun, telak. Hubungannya dengan Sungmin tak lebih dari sekedar kompromi. Sudah direncanakan dengan matang bahwa mereka akan berpisah pada akhirnya setelah mengambil alih kuasa orangtua. Dan berdiri di depan orangtuanya saat ini membuat Kyuhyun merasa dirinya sangat jahat. Lebih jahat lagi karena dia sudah melibatkan Sungmin dalam rencananya.

“Maaf.” Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. “Maafkan aku.”

Dia menunduk penuh penyesalan.

“Pertunangan kami memang bukan hal yang tulus.” Kyuhyun berkata sesak. “Tapi aku bersumpah aku tak pernah main-main saat mengatakan akan bertanggung jawab atas Sungmin.”

Tatapan beku Sungmin tampak goyah sejenak.

“Aku akan menjaganya, melindunginya, dan membahagiakannya—”

seumur hidupku.

Sungmin tersentuh melihat sosok tunangannya yang masih membungkuk 90 derajat di depan orangtua mereka. Kyuhyun begitu baik, terlalu baik.

“Aku sudah bahagia, Kyu.”

Kalimat itu menarik Kyuhyun kembali tegak, dan dia menemukan senyum paling manis yang sanggup melelehkan hatinya meski udara sedang diliputi suasana duka.

“Kau sudah memberiku kebahagiaan itu, kebebasan itu, dan hal-hal menyenangkan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.” Sungmin menatap lembut. “Kyu, kau orang paling baik yang pernah kukenal.”

Jika mereka masih hidup, pasti ayah ibunya sudah habis-habisan menggoda Kyuhyun yang sekarang bersemu semerah tomat matang.

“Dan kau tak perlu mencemaskanku, Kyu.”

Sungmin melepas jemarinya dari genggaman Kyuhyun.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, melindungi diriku sendiri—”

Wajah Kyuhyun berubah pias.

“—dan mencari kebahagiaanku sendiri.”

Alarm peringatan berdering keras di otak Kyuhyun. Tangannya terkepal kuat tanpa sadar. Mati-matian berharap perasaan tak nyaman yang melesak dalam hatinya ini tak berarti apa-apa.

“Kita sampai disini saja, Kyu.”

DEG!

Jantung Kyuhyun berdebar keras, tapi dia seolah mati rasa. Bibirnya masih setengah terbuka, syok. Entah sejak kapan Sungmin melepas cincin platina berbatu safir di jari manis kirinya, karena dia sudah menarik tangan Kyuhyun lembut dan meletakkan cincin itu disana.

Kyuhyun tahu akan begini jadinya.

Tapi dia tidak tahu rasanya begini mengerikan. Lebih buruk daripada mimpi buruk.

“Kyu?” Sungmin menatap bingung karena Kyuhyun tak kunjung merespon.

Kyuhyun menelan ludahnya. Berusaha keras menahan tubuhnya agar tidak limbung. “A—”

“—hahahahaha…”

Sungmin mengerjap. Kyuhyun tiba-tiba saja tertawa sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Walaupun tawa itu lemah tapi terdengar keras karena begitu heningnya suasana, dan Kyuhyun sukses menjadi pusat perhatian kerabat dan relasi yang datang.

“Kyu, kau kena—”

“Kau memang benar, Min.” Kyuhyun menginterupsi. Telapak tangan kanan masih belum menyingkir dari wajahnya. “Kita memang seharusnya berpisah.”

Ini lucu sekali.

Kyuhyun menciumnya, memeluknya, dan terang-terangan meminta Sungmin untuk tetap bersamanya. Tapi setelah semua totalitas itu Sungmin malah meminta untuk berpisah?

Kyuhyun ingin tertawa keras-keras.

Jadi begini rasanya ditolak?

“Aku akan pindah ke Sapphire Senior High.”

Kyuhyun mematung. Dirinya seolah dipaksa menelan kabar buruk secara beruntun.

“Disana pelajaran manajemennya bagus. Aku harus banyak belajar untuk mengurus perusahaan ayahku. Aku tidak sejenius dirimu yang bisa menguasai segala hal hanya dengan penjelasan satu dua kali.” Nada suara Sungmin terdengar ringan. “Jadi, Kyu—”

Sungmin memiringkan kepalanya, bingung harus bagaimana karena Kyuhyun masih terus menutup wajahnya.

“—sampai jumpa ya?”

Menyakitkan.

Kyuhyun yang biasa akan bersikap posesif dan menahan siapapun yang diinginkannya untuk tetap tinggal. Tapi ini Lee Sungmin. Seseorang yang Kyuhyun menjanjikannya kebebasan, untuk melakukan apa saja, mengatakan apa saja, dan mengejar apapun yang dia inginkan.

Perpisahan ini keinginan Sungmin.

Kyuhyun bisa apalagi? Dia tidak akan tega membebani Sungmin dengan perasaannya yang egois.

Aku sudah bilang akan memberikan segalanya padamu, Min. Segalanya. Bahkan termasuk perpisahan ini.

Kyuhyun berbalik membelakangi Sungmin. Samar-samar terlihat liquid bening merembes di sela jemarinya yang menutup mata.

“Selamat tinggal,” lirihnya sebelum melangkah pergi.

I thought I finally found my love. But eventually, we’re not meant to be.

Become alone again.

oOo

“Kau sudah kalah, Hyuk.”

Ini sudah seminggu Hyukjae mengecek kelas Kyuhyun setelah berita kematian orangtua Kyuhyun dan Sungmin. Kyuhyun belum juga muncul di sekolah. Donghae masih saja berdiri di sampingnya, meski kali ini dengan pandangan sayu, bukan senyum sinis yang biasanya.

“Kau tak bisa lagi menahan Kyuhyun,” lanjut Donghae pelan. “Soal cinta, Kyuhyun lebih mencintai Sungmin. Soal rasa kasihan juga, Sungmin sekarang… lebih…”

Hyukjae merasa hatinya berat. Kalau hanya soal itu Hyukjae juga tahu.

“Kau berisik.” Hyukjae menjawab dingin. Tubuh jangkungnya berbalik namun Donghae menahan tangannya kuat.

“Menyerahlah, Hyuk,” bisiknya tajam. “Jelas-jelas Kyuhyun sudah mengkhianatimu.”

Plak!

“Jangan mengurusiku!”

Donghae menatap tangannya yang merah, sinar matanya semakin redup. “Apa aku benar-benar sudah tidak punya harapan?”

“Jangan bermimpi!” Hyukjae memalingkan wajahnya.

Ada hening yang mencekik Hyukjae setelah itu. Donghae tak mengeluarkan sepatah katapun, dan Hyukjae tak berani berbalik untuk sekedar mengecek ekspresi pemuda itu.

“Baiklah.”

Kalimat bernada final itu membuat hati Hyukjae mencelos tak nyaman.

“Selamat tinggal, Hyuk.”

Hyukjae terbelalak. Jantungnya berontak gelisah sampai akhirnya dia memutuskan untuk berbalik.

Tapi Lee Donghae sudah tidak ada disana.

oOo

Because of your cold voice, I’m changing. I’m getting cold as well.

Mata obskurit yang biasanya bersinar penuh semangat kini kosong membeku. Titik fokusnya tepat pada layar laptop dan jemarinya tak henti bergerak pada keyboard.

“Makan siang anda, tuan muda.”

“Letakkan saja.”

Kyuhyun tak sempat menyadari tatapan prihatin si kepala pelayan pada hidangan sarapan pagi tadi yang juga belum ia sentuh. Proposal proyek baru perusahaannya terus menari-nari di kepala. Sebenarnya Kyuhyun bisa menyerahkan urusan semacam itu pada bawahan ayahnya yang terpercaya, tapi Kyuhyun nekat menghandle semuanya sendirian. Toh otak cemerlangnya itu sudah berhasil menarik kepercayaan para karyawan dan relasi lama ayahnya. Bahkan beberapa mengatakan dia akan lebih hebat dari Cho Yeunghwan dalam hitungan tahun ke depan.

Menjadi presiden direktur pada usia 18 memang bukan hal mudah meski bagi pemuda sejenius Kyuhyun sekalipun. Namun siapapun yang mengenal Kyuhyun tahu, bukan itu yang membuat sang pewaris tunggal keluarga Cho berubah menjadi begitu dingin dan kaku.

“Ada tamu untuk anda, tuan.”

“Apa kau tak lihat aku sedang sibuk?”

Maid itu sedikit mengkeret karena suara tajam Kyuhyun. “T-tapi dia memaksa masuk, tu—”

“Lama tak bertemu, Kyuhyun.”

Kyuhyun melepas kacamata—belum sempat mengganti contact lensnya yang kadaluarsa—dan menarik napas. “Yesung hyung?”

“Apa kau begitu sibuknya sampai tak sempat membalas pesanku dan Ryeonggu selama dua minggu lebih?”

“Maaf, hyung. Aku tak ada waktu.”

“Untuk Lee Hyukjae juga tak ada waktu?”

“Apa kau perlu menanyakan itu, hyung?”

Mata bulan sabit Yesung melebar terkejut melihat reaksi singkat Kyuhyun. “Apa yang terjadi?”

Kyuhyun tak menjawab, hanya menarik nampan makan siangnya karena dia baru menyadari lambungnya berteriak-teriak minta diisi.

Sekilas mata Yesung menangkap tangan kiri Kyuhyun yang memegang garpu. “Mana cincinmu?” tanyanya kaget.

Kyuhyun meletakkan pisau dan garpunya, kelam dalam matanya mendongak ke arah Yesung. “Kami berpisah, hyung.”

Yesung terdiam. Sebenarnya Kyuhyun tak perlu berkata secara verbal karena kebekuan dalam matanya sudah menjelaskan semuanya.

“Apa kau menyesal?” Biasanya Yesung akan bersikap sinis, tapi tampang Kyuhyun saat ini membuat Yesung—yang biasanya sulit bersimpati—benar-benar tidak tega. “Bukankah kau sudah merencanakannya sejak awal?”

“Memang benar, hyung.” Kyuhyun menyuap makanannya tanpa daya.

“Kalau begitu buang egomu, Kyu.” Yesung menarik napas. “Bilang padanya kau mencintainya dan ingin selalu bersamanya.”

“Aku sudah bilang.”

“Hah?!” Yesung tersentak.

“Aku sudah bilang ingin selalu bersamanya tapi dia minta pisah.” Kyuhyun meneguk jus buahnya.

Yesung terperangah.

Oke, ini sudah di luar dugaan.

“Kupikir kau yang—”

“Tadinya begitu.” Kyuhyun mengaduk sari-sari buah yang masih mengendap di dasar gelas. “Aku sudah mati-matian meneguhkan hatiku untuk berpisah dengannya suatu hari nanti meski aku tidak menginginkannya.”

Dua teguk sejenak.

“Tapi dia menangis, hyung.”

Telunjuk Kyuhyun berputar lemah pada permukaan gelas yang sudah kosong. “Dan aku tak bisa membayangkan apa jadinya dia tanpaku.”

Yesung masih diam.

“Tapi nyatanya dia yang meninggalkanku, lalu aku yang menangis.” Kyuhyun tersenyum pahit. “Miris sekali kan, hyung?”

“Singkat kata, Kyu…” Yesung berkata hati-hati. “Kau ingin bersamanya karena rasa kasihan?”

Kyuhyun tersentak. “Tentu saja ti—”

“Mungkin tidak menurutmu,” potong Yesung. “Tapi bisa jadi begitu di mata Sungmin.”

Kyuhyun terbelalak.

“Selama ini kau selalu menegaskan akan kembali pada Hyukjae. Tapi saat—maafkan aku, Kyuhyun—kepergian orangtua kalian, tiba-tiba kau bilang ingin bersama Sungmin. Siapapun pasti mengira itu karena rasa kasihan.”

“Kau tak perlu mencemaskanku, Kyu. Aku bisa menjaga diriku sendiri, melindungi diriku sendiri, dan mencari kebahagiaanku sendiri.”

Kalimat itu… apa mungkin bukan karena Sungmin tak ingin bersama Kyuhyun tapi karena dia tak ingin membebani Kyuhyun?

Kyuhyun terperangah.

“Aku harus menemui Min!” Tiba-tiba Kyuhyun bangkit dari ranjangnya.

“Bagaimana dengan Hyukjae?”

Gerakan Kyuhyun yang sedang memakai jaket terhenti. “Aku juga akan bicara padanya nanti.”

“Mungkin lebih baik sekarang.”

“Kenapa?” Kyuhyun menoleh heran.

Yesung menatap datar. “Dia sudah di ruang tamu bersama Ryeonggu.”

oOo

Televisi terus menerus menampilkan berita yang sama, berita kecelakaan pesawat pribadi yang ditumpangi tamu-tamu VIP dari Korea Selatan.

Sungmin merasa tubuhnya dingin sampai ke ujung jemari.

Jika dia anak perempuan pasti sudah menangis sesenggukan melihat berita kecelakaan itu terus ditayangkan di berbagai channel. Kecelakaan yang melibatkan orangtuanya. Meski mereka hanya sebagian dari berapa belas penumpang elite di pesawat itu, tapi mereka ada disana. Jelas ada disana.

Sungmin merapatkan selimutnya sampai menutup kepala. Dia merasa dingin, sangat dingin.

“Kyu…”

Mata karamel itu membulat, tersentak sendiri saat bibir mungilnya menggumam nama si mantan tunangan.

“Apa kau tahu Kyuhyun mencintaimu?”

Pertanyaan Donghae tiba-tiba muncul di pikirannya. Sungmin menggelengkan kepala cepat, sedikit menggigit bibirnya saat mengingat kecupan Kyuhyun disana.

Itu bahkan bukan ciuman, pikir Sungmin sembari menenggelamkan wajah di balik selimut, hanya sentuhan ringan untuk menenangkan orang.

Tak ada bedanya dengan kecupan di bibirnya dengan beberapa noona yang gemas padanya waktu Sungmin masih SD. Sungmin memejamkan matanya. Dia ingat, saat itu ibunya masih ada. Sungmin selalu menjadi bocah kecil manis yang sehangat matahari saat ibunya masih ada.

Sekarang dia semakin redup. Semakin kesepian. Semakin dingin.

PIPIPIPI!

[Kau kedinginan?]

Mata Sungmin sedikit melebar melihat kalimat yang tertera di layar ponsel. Jemarinya mengetik balasan pelan.

[Memangnya kenapa?]

PIPIPIPI!

[Coba lihat keluar, di luar cerah.]

Sungmin menautkan alis. Sepertinya bosan melihat kalimat yang sama selama seminggu ini.

[Kau mengajakku pergi lagi?]

Klik tombol send.

Tak sampai 60 detik, sms balasan membunyikan ponsel Sungmin.

[Memangnya kenapa? Untuk ukuran calon presiden direktur kau punya banyak waktu luang.]

“Itu sindiran?” Sungmin menautkan alisnya lagi. Tapi dia segera membuka selimutnya, beranjak dari sofa.

Sejenak memandangi seragam SMA Sapphire yang masih melekat di tubuhnya. Teringat seminggu yang lalu, saat orang itu muncul di depan sekolah dengan tatapan kesal dan bibir cemberut. “Kau pindah sekolah tanpa bilang-bilang? Untuk ukuran kalangan beradab kau ini tidak tahu sopan santun sama sekali, Lee Sungmin.”

Berkat kalimat frontalnya, orang itu kewalahan menghindar dari para siswi yang dengan anggunnya (?) melempar tas mereka berbarengan. Untung Sungmin segera mencegah sebelum terjadi pengeroyokan brutal.

“Karena kau sudah menyelamatkan wajah tampanku—”

Kalimat itu terngiang, membuat bibir Sungmin tertarik tipis.

“—bagaimana kalau kita makan es krim? Kutraktir.”

Ajakan itu berlanjut hingga hari-hari sesudahnya. Dia meminta nomor ponsel Sungmin hanya untuk mengirim sms setiap jam 7 malam dengan trademark ‘di luar cerah, ayo kita keluar’.

“Apanya yang cerah?” Mata karamel Sungmin melirik butiran salju lembut yang berjatuhan di luar jendela.

Sungmin menghela napas. Bisa ditebak orang itu pasti sudah meringkuk kedinginan di depan mansion keluarga Lee.

oOo

“Aku turut berduka cita atas apa yang menimpa orangtuamu.”

Itu kalimat yang rutin menyapa Kyuhyun selama 2 minggu lebih 3 hari ini.

“Terimakasih.”

Suasana kaku lagi.

Rasanya aneh melihat dua manusia yang biasanya kelebihan energi itu saling berdiam diri. Hyukjae meneguk tehnya gugup, Kyuhyun hanya diam tanpa ekspresi.

“Bagaimana kabarmu?” Hyukjae bertanya hati-hati.

“Kelihatannya bagaimana?”

Hyukjae menunduk, tatapan kelam Kyuhyun membuatnya tak sampai hati memandang lebih lama.

“Semuanya akan baik-baik saja setelah ini, Kyuhyun-ah.” Hyukjae menggenggam lembut tangan Kyuhyun. “Kuatlah.”

Kyuhyun mengangguk.

Hyukjae menelan ludahnya. Kyuhyun yang ini terlihat sama dengan Kyuhyun yang Hyukjae temukan di awal tahun sekolah menengah pertama. Bahkan lebih buruk.

“Kyuhyun-ah, aku—”

“Kita sampai disini saja, Hyuk.”

Bagai kena petir di siang bolong, Hyukjae membatu. Dia bahkan tak sempat mengerjapkan matanya saat Kyuhyun bangkit berdiri secara tiba-tiba.

“Maaf, waktuku pendek. Aku harus segera pergi.”

“KYUHYUN!”

Kyuhyun berbalik berkat bentakan itu. “Ya, hyung?”

Wajah Hyukjae memucat.

Kyuhyun berhenti memanggilnya ‘hyung’ setelah memutuskan untuk menjadi kekasihnya. Tapi sekarang… Hyukjae menggigit bibirnya, menahan tangis yang sudah menggenang di pelupuk mata.

“Ke-kenapa…”

“Maaf.” Kyuhyun menunduk, menempelkan keningnya di puncak kepala Hyukjae sekilas. “Kau bisa menghukumku nanti.”

Air mata Hyukjae mengalir turun. Kali ini Kyuhyun benar-benar berbalik pergi tanpa menoleh ke arahnya lagi.

oOo

Hukuman itu dari Tuhan, bukan dari manusia.

Kyuhyun pernah mendengar statement seperti itu, hanya saja dia tak pernah menyangka akan begini jadinya.

Wajah seputih saljunya tenggelam setengah di balik scarf hijaunya. Rambut hazelnya mulai dihiasi butiran-butiran dingin yang masih berjatuhan dari langit. Rasanya beku. Kyuhyun menggigil sekilas, tapi tak ada yang menghangatkannya seperti orang di seberang sana.

Disana—di depan gerbang mansion keluarga Lee—Sungmin menempelkan kedua tangan mungilnya pada pipi merah pemuda yang sangat dia kenal.

“Donghae hyung?”

Sungmin dan Donghae sontak menoleh ke arahnya, menandakan suara serak Kyuhyun masih cukup terdengar.

“Kyu?”

Dia mendekat.

Kyuhyun merasa pipi dinginnya memanas berkat fokus mata Sungmin yang semakin menghapus jarak.

“Sejak kapan kau disana? Kau tidak mengabariku sama sekali.”

2 minggu lebih 3 hari.

Kyuhyun tak ingin berlebihan, tapi rasanya suara creamy Sungmin sudah lama sekali tak dia dengar. Dia bahkan bisa menghirup samar-samar wangi manis Sungmin yang berdiri tepat di hadapannya.

“Aku merindukanmu, Min.” Jawaban jujur itu terlontar begitu saja.

Sungmin mengerjap terkejut sebelum memiringkan kepalanya 45 derajat. “Padahal waktu itu kau bilang ‘selamat tinggal’.”

Apa dia benar-benar berpikir aku tidak akan menemuinya lagi? batin Kyuhyun dengan dada berdebar. Yang benar saja.

“Maaf.” Untuk pertama kalinya Kyuhyun tersenyum setelah 17 hari. “Harusnya aku bilang ‘sampai jumpa’?”

“Memang.” Sungmin balas tersenyum, manis sekali. “Kau mau masuk? Donghae hyung juga sudah kedinginan.”

Kyuhyun tersentak, kembali menyadari eksistensi Donghae disana. Pemuda tampan yang lebih pendek darinya itu melempar tatapan tajam, ada kilat cemburu yang membuat Kyuhyun menautkan alis.

“Kau sedang apa disini, hyung?” Kyuhyun melempar tatapan tajam yang sama. Rasa kesal mulai menggumpal di hatinya.

“Aku datang bertamu.” Donghae memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. “Tamu adalah raja. Dan setahuku raja itu hanya satu, bukan dua.”

Alis Kyuhyun semakin bertaut berkat pernyataan aneh khas Donghae itu. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, hyung. Untuk apa kau bertamu ke tempat Min?”

Kyuhyun dapat melihat Donghae melempar death glare.

“Bukan urusanmu,” balas si bocah ikan jutek. “Ini urusanku dan Sungminnie.” Sengaja memberi emphasis khusus pada kata ‘Sungminnie’.

Kyuhyun terperangah.

Logikanya masih bingung dengan sikap Donghae yang tidak beres, tapi emosinya sudah bernafsu ingin menendang wajah sengak Donghae keras-keras.

“Donghae hyung ingin mengajakku jalan-jalan keluar.”

“APA?!” Cho Kyuhyun, the cool one, the stoical one, berteriak syok dengan ekspresi tidak elite berkat jawaban Sungmin barusan. “Donghae hyung mengajakmu—”

“Kencan—” Donghae sengaja memprovokasi, “—seperti biasa.”

SEPERTI BIASA?! MEMANGNYA SUDAH BERAPA LAMA?!

Kyuhyun melempar death glare tingkat akut.

“Kencan hanya untuk pasangan kekasih, hyung.” Sungmin mengoreksi Donghae. “Kita hanya teman jadi namanya bukan kencan.”

Kyuhyun merasa puas dan bingung di saat bersamaan melihat raut kecewa Donghae. Puas karena memang jawaban itu yang pantas didapatkan Donghae, dan bingung karena…

“Bagaimana dengan Hyukjae hyung jika kau mengajak Min kencan, hyung?”

Di luar dugaan, Donghae hanya melirik sekilas saat mendengar pertanyaan telak itu. “Kau ini bicara apa, Kyuhyun?” Bibir Donghae tertarik sinis. “Bukankah justru aku yang seharusnya bertanya, bagaimana dengan Hyukjae jika dia tahu kau menemui mantan tunanganmu, huh? Kau bahkan terang-terangan bilang kau merindukan Sungmin tadi, bagaimana jika Hyukjae mendengar soal ini?”

Sungmin mundur selangkah. Alisnya bertaut heran saat menyadari meski sudah tidak ada nama ‘Eunhyuk’ di antara mereka berdua, namun keduanya terlihat masih menyimpan ledakan mengerikan di balik wajah dingin mereka masing-masing.

“Ada yang mau coklat panas?” Sungmin bertanya lirih, berusaha mencairkan suasana.

Kyuhyun menoleh, tersenyum dan menatap lembut seperti yang biasa dia lakukan pada Sungmin. “Boleh. Mau kubantu membuatnya, Min?”

Donghae mendecih muak melihat ekspresi Kyuhyun. “Biasanya butler keluarganya yang membuatkan.”

“Itu untukmu, hyung.” Kyuhyun menyeringai arogan. “Jika untukku, Min biasa membuatkannya sendiri.”

Kyuhyun nyaris terbahak saat mulut Donghae menganga lebar persis orang bodoh.

“ITU TIDAK ADIL!” Tiba-tiba Donghae memeluk bahu Sungmin dan memasang puppy eyes berkaca-kaca. “KENAPA KAU TIDAK PERNAH MEMBUATKANNYA UNTUKKU, SUNGMINNIE?”

Giliran Kyuhyun terperangah syok. APA-APAAN LEE DONGHAE ITU?!

Sekilas Sungmin tampak bingung, namun senyum manisnya segera terulas dengan jemari mengusap pipi Donghae. “Maaf, hyung. Nanti kubuatkan.”

Lutut Kyuhyun lemas seketika. Sesuatu dalam hatinya bergejolak tidak karuan.

Tidak… tidak mungkin!

Kyuhyun menggelengkan kepalanya sekuat tenaga.

Dari sekian banyak orang di dunia ini tidak mungkin Lee Donghae! Lagipula Min itu straight! Tadi dia juga bilang mereka hanya tem—

“Kyu?”

Pemuda berkulit salju itu tersentak sadar dari lamunan setelah Sungmin menepuk bahunya.

“Kau baik-baik saja?”

Tidak, Min. Kau harus menjelaskan apa yang sedang terjadi disini.

“Kyuhyun hyung?”

Kyuhyun tercekat. “Jangan panggil aku seperti itu.”

“Tapi kau tidak merespon ucapanku.”

“Aku baik-baik saja.” Kyuhyun terpaksa berbohong. Tatapan dingin Sungmin terlihat mengintimidasi, dan itu membuat jantungnya berdegup gelisah. “Memangnya kenapa, Min?”

“Tidak apa-apa.” Senyum indah Sungmin merekah. “Ayo masuk.”

Perasaan Kyuhyun yang baru membaik kembali jatuh saat Donghae menggenggam tangan Sungmin lembut, menuntunnya masuk ke dalam mansion seperti seorang gentleman.

Rahang Kyuhyun mengeras. Otak jeniusnya tak perlu menganalisis lebih jauh lagi.

Donghae sialan itu sedang mengincar Sungminnya.

PIPIPIPI!

“Argh! Siapa yang—” Kyuhyun terdiam saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. “Halo, hyung?”

“Cho Kyuhyun.” Suara bariton halus itu terdengar merendah menakutkan.

“Hyung, kau kena—”

“Apa yang sudah kau lakukan, bocah bego?!”

Kyuhyun terbelalak. Yesung tak pernah marah-marah dengan cara childish kecuali jika itu menyangkut— “Aku tak ingat pernah cari masalah dengan Ryeowookie.”

“Aku tahu kau bersikap tegas dengan menolak Lee Hyukjae!” Yesung membentak tertahan. “Tapi bagaimana caramu menolaknya sampai dia menangis sesenggukan di pelukan Ryeonggu, huh?!”

Aish… si kepala besar posesif ini mulai lagi, Kyuhyun menarik napas. “Hyung, kau… seperti tidak pernah patah hati saja.”

“Aku memang tidak pernah!”

Kyuhyun mendengus, baru menyadari betapa lancarnya hidup Kim Jongwoon. “Kalau begitu mungkin kau akan merasakannya setelah Wookie jatuh pada Hyukjae hyung.”

“KYUHYUN! KAU—” Yesung menyekat suaranya dan kembali berbisik mengancam. “Jauhkan dia dari RyeongguKU!”

“Telepon Donghae hyung sa—” Kyuhyun terdiam, lama. Baru menyadari dia masih berdiri di luar gerbang mansion. “Aku sedang tidak punya waktu bicara denganmu, hyung. Sampai nanti.” Kyuhyun memutus koneksi dan menon-aktifkan ponselnya sekaligus, tak peduli Yesung mungkin mencak-mencak tak karuan di seberang sana.

Dia merasa bersalah pada Hyukjae, tentu saja. Tapi memang lebih baik begitu daripada terus-terusan membohongi diri sendiri.

Mata sewarna obsidiannya mengamati sekeliling seiring langkah memasuki mansion Sungmin. Dia ingat saat pertama kali datang kesini. Diusir penerima tamu, dihajar para bodyguard, bertemu dengan calon ayah mertuanya yang arogan, dan ekspresi dingin Sungmin saat membuka topengnya.

Dingin tapi manis, kan?

Kyuhyun tersenyum kecil. Seperti es krim yang mereka makan di café pada pertemuan kedua, Sungmin memang dingin tapi manis dan lembut.

“Kau akan kembali dengan Kyuhyun?”

Kyuhyun berhenti di dekat dapur saat menangkap suara Donghae yang diiringi denting sendok beradu dengan cangkir. Membayangkan Sungmin menyeduh coklat panas berdua saja dengan Donghae membuat Kyuhyun kesal tidak karuan.

“Kyu sudah punya Hyukjae hyung.”

Kyuhyun tersentak kaget. A-aku tidak…

“Aish… apa kau tak bisa berhenti memanggilnya dengan nama semanis itu?” Terdengar suara Donghae yang mengerang kesal. “Setidaknya jangan di depanku.”

“Memangnya kenapa?”

Kali ini ada suara denting sendok terjatuh dan hening yang aneh. Kyuhyun tak bisa berdiam diri lebih lama lagi, dia segera berbelok melewati dinding yang menghalanginya dengan dapur. Namun pemandangan disana mengaburkan matanya.

Mantan tunangannya tersudut di konter dapur saat Lee Donghae melumat bibir pinkish itu lembut.

oOo

To Be Continued

CLICK HERE TO POST COMMENT

Advertisements