Falling Without You (Chapter 12)

Falling Without You

by Kiri-chan

Apa yang kau rasakan jika kau tak bisa menentukan jalan hidupmu sendiri? Cho Kyuhyun tak bisa bertahan lebih lama lagi, hingga dia bertemu Lee Sungmin, pemuda manis yang tak pernah tersenyum dari dasar hatinya, seseorang yang sepertinya telah menyerah dalam hidup.

Main Pair : Kyuhyun/Sungmin

Warning : ada beberapa crack pair sebagai konflik dalam cerita, it’s SLASH! YAOI! Shounen-ai! Whatever a BoyxBoy FanFiction called! Siapapun yang keberatan bisa menerapkan asas DON’T LIKE DON’T READ bagi fanfiction ini.

~ Chapter 12 ~

Velvet Tears

oOo

Persis seperti 2 tahun lalu, Kyuhyun mengejar Hyukjae yang dipaksa menikah dengan Lee Sooman. Tapi ini tidak bisa disebut déjà vu jika pikiran Kyuhyun terus ke belakang.

Ke tempat Donghae menarik cincin pertunangan dari jarinya dengan paksa, dan menahan Sungminnya.

Amarah mendidih di dalam darahnya, tapi tak ada yang dapat Kyuhyun lakukan selain membawa black honda insightnya bermanuver tajam di tikungan menuju arah gereja tempat Hyukjae dipaksa menikah.

Kyuhyun tidak tahu ibu Hyukjae dan ahjussi tua bernama Lee Sooman itu bodoh atau apa. Mereka mengadakan acara pernikahan di gereja yang sama dengan 2 tahun lalu. Apa memang sengaja agar mudah ditemukan Kyuhyun? Atau karena mereka tidak menduga Kyuhyun akan datang menggagalkan rencana mereka lagi?

Kyuhyun sudah bertunangan dengan orang lain sekarang, fakta yang membuat opsi kedua jadi jauh lebih masuk akal.

Kyuhyun menggeram keras. Dia sudah bertunangan dengan Sungmin, tapi bukan berarti Kyuhyun membiarkan siapapun mengambil Hyukjae darinya.

Sekelebat bayangan Donghae yang menggenggam tangan Sungmin terlintas.

Kyuhyun menginjak rem sekuat tenaga hingga mobil hitam mengkilatnya itu berhenti dengan suara berdecit keras di depan gereja, mengagetkan banyak orang. Tangan kirinya mengepal kuat, tangan yang tadinya nyaris meninju rahang Donghae saat pemuda itu dengan sangat kurang ajar menarik lepas cincin pertunangannya dari sana.

Bagaimana kau bisa menggagalkan pernikahan itu jika kau membawa tunanganmu? Lepaskan cincinmu juga!”

Jika tidak didesak waktu, mungkin Kyuhyun sudah keluar dari mobil dan menghajar wajah menyebalkan Donghae. Tidak ada yang salah dengan perkataan Donghae. Tapi Kyuhyun tidak akan membenarkannya jika bocah ikan itu menggenggam tangan Sungmin tepat di depan matanya. Kurang ajar.

Kening Kyuhyun bersandar pada kemudi hingga terdengar bunyi ‘TIIIN’ keras sebab tombol klakson yang ikut tertekan. Kyuhyun memiringkan kepalanya, melirik keluar jendela. Tampak bodyguard-bodyguard berpakaian serba hitam bergegas menghampiri mobilnya. Pasukan si tua Sooman itu, huh? Kyuhyun menyeringai.

Sepertinya mereka cukup menjadi pelampiasan emosi Kyuhyun kali ini.

oOo

Donghae menghela napas berat.

Ini sudah 15 menit Sungmin mengekorinya. Huh… apa bocah kelas 1 ini tidak ada kerjaan? pikir Donghae kesal. Sungmin bahkan tidak kelihatan canggung sama sekali meski Donghae sudah berkali-kali menoleh ke belakang dan melempar death glare. Mata rubahnya yang beku itu hanya menatap Donghae tenang tanpa beban.

“Seberapa jauh hubunganmu dengan Kyuhyun?” Donghae memutuskan untuk melontarkan pertanyaan itu, karena kata-kata pengusiran semacam ‘jangan ikuti aku’ hanya akan dianggap angin lalu.

“Dua orang yang bertunangan.” Jemari Sungmin memainkan cincin Kyuhyun. “Bukankah sudah jelas?”

Donghae menghentikan langkahnya, kali ini berbalik menatap Sungmin. “Apa kau mencintai Kyuhyun?”

Sungmin terdiam. “Ada 3 hal yang Kyuhyun minta dariku.”

“Huh?” Alis Donghae bertaut.

“Pertama, ‘lakukan apapun yang kau inginkan’. Kedua, ‘berhenti melakukan apapun yang tidak kau inginkan’. Dan—” Mata karamel Sungmin sedikit mendongak karena Donghae lebih tinggi darinya, “—ketiga, ‘jangan jatuh cinta padaku’.”

Donghae nyaris tersedak mendengar pernyataan konyol itu. “Dia sungguh-sungguh bilang begitu?”

Sungmin mengangguk.

“Menggelikan…” Donghae mendengus. “Apa kau tahu Kyuhyun mencintaimu?”

Untuk pertama kali, Donghae melihat mata beku Sungmin melebar terkejut.

“Kyuhyun mencintaiku?”

“Kau tidak tahu?” Donghae melangkah lebih dekat. “Dia tak mungkin kelihatan begitu marah saat aku melepas cincinnya dan menggenggam tanganmu jika dia tak mencintaimu, bukan?”

Sungmin menatap ragu. “Kyu… marah?”

“Raut wajahnya bahkan terlihat lebih mengerikan dibanding saat aku mendekati Eunhyuk.” Donghae memutar bola matanya.

“Ngomong-ngomong soal ‘Eunhyuk’.” Nama itu mengingatkan Sungmin pada sesuatu yang lebih pantas mereka bahas saat ini. “Bukankah kau mencintainya, Donghae hyung?”

Donghae mematung sekilas. Nada suara Sungmin terdengar lembut, dan entah bagaimana hal itu membuat Donghae tak keberatan bicara jujur. “Aku memang mencintai Eunhyuk,” gumam Donghae pelan, nyaris tak terdengar. “Karena itu saat aku mendengar Kyuhyun bertunangan denganmu, aku menemui presdir Cho dan memberitahunya soal hubungan Kyuhyun dan Eunhyuk.”

“Ah, kau mengakuinya. ” Sungmin mengerjap. “Kau berharap mendapatkan Hyukjae hyung kembali dengan cara itu?”

“Tadinya begitu.” Donghae tertawa pahit dengan jemari mengacak poni gelapnya resah. “Aku juga memberikan foto-foto kencanmu dengan Kyuhyun pada Sunhwa ahjumma—maksudku ibu Eunhyuk—agar aku bisa mendekati Eunhyuk lagi.”

“Kami tidak pernah berkencan,” koreksi Sungmin.

“Tapi sepertinya Sunhwa ahjumma sudah terlalu dibutakan oleh uang.” Donghae tak menggubris sangkalan Sungmin dan terus bicara. “Dia menjodohkan Eunhyuk dengan orang kaya lagi. Dan parahnya itu Lee Sooman, ahjussi tua yang dulu pernah nyaris menikahi Eunhyuk jika Kyuhyun tidak turun tangan. Aku tak menyangka tua bangka itu masih menginginkan Eunhyuk meski sudah beristri.”

“Jika kau benar-benar mencintainya—” Sungmin bertanya ragu, “—kenapa kau meminta Kyuhyun? Kenapa kau tidak menggagalkan pernikahan itu sendiri?”

Donghae menatap Sungmin.

“Karena uang.” Donghae tersenyum sinis. “Uang itu kekuasaan. Aku tidak punya uang sebanyak Kyuhyun. Jadi aku tidak punya kuasa membatalkan pernikahan Eunhyuk. Sunhwa ahjumma dan si tua Sooman itu tidak akan mendengarkan aku. Mereka hanya mau menuruti permintaan orang-orang berkuasa seperti Kyuhyun.”

Sungmin merasa itu miris, dan dia bisa melihat banyak luka di balik senyuman Donghae.

“Sebenarnya aku sedikit senang… Eunhyuk meminta pertolonganku pagi ini.” Donghae menunduk. “Tapi dia juga bilang karena tidak ada lagi Kyuhyun yang akan menolongnya. Eunhyuk… Eunhyuk… bukan meminta pertolonganku, tapi dia menyalahkanku. Menyalahkanku karena memberi foto-foto itu pada Sunhwa ahjumma. Menyalahkanku karena gara-gara itu dia kembali dipaksa menikah. Aku… aku…”

“Dan kau memutuskan untuk memperbaiki kesalahanmu dengan memberitahu Kyuhyun soal pernikahan Hyukjae hyung, begitukah?”

Bulir-bulir bening sedikit menyebar di udara saat wajah penuh air mata Donghae mengangguk keras.

“Donghae hyung, kau…” Sungmin tersenyum tipis. “Kau begitu mencintainya sampai menangis.”

Donghae terdiam sejenak memandang senyum manis yang baru pertama kali dilihatnya dari Sungmin. “B-berisik.”

Sungmin mendongak menatap langit. Tak sampai hati menoleh ke arah Donghae yang terisak dan menghapus kasar air matanya dengan lengan baju, persis anak kecil.

“Andai saja… andai saja aku ini orang kaya, Sunhwa ahjumma akan dengan senang hati menyerahkan Eunhyuk padaku… andai saja aku ini tidak lemah, andai saja aku bisa menerobos masuk gereja itu dan menghajar semua bodyguard Lee Sooman sendirian… aku pasti… aku pasti…”

Grep!

Donghae mematung. “Sung… min?”

“Sssh…” Sungmin menepuk-nepuk punggung Donghae. “Tidak ada yang perlu dicemaskan.”

Donghae terpana. Tak menyangka Sungmin yang dingin punya suara dan sentuhan selembut ini. Pelukannya hangat, bahkan wangi manis tubuhnya menenangkan. Tanpa terasa Donghae balas memeluk tubuh mungil Sungmin yang memang lebih pendek darinya. Menenggelamkan wajahnya di bahu pemuda itu dan kembali menangis, lebih keras.

“Semua akan baik-baik saja, hyung. Semua akan baik-baik saja.”

oOo

3… 2… 1.

BUAKKK!

Itu guard terakhir yang berhasil ditumbangkan Kyuhyun. Jumlahnya memang lebih banyak dari bodyguard presdir Lee yang dulu Kyuhyun hadapi saat berniat membatalkan pertunangannya dengan Sungmin, tapi level martial arts bodyguard Lee Sooman jelas bukan apa-apa bagi Kyuhyun.

“Kau masih berdiri disana?” Ekspresi tajam itu memukau semua wanita yang hadir. Kyuhyun yang tersengal, berantakan, memar dan darah di sekitar wajah sama sekali tak mengurangi pesonanya di mata orang.

“Kau datang?” Hyukjae berkata lirih.

“Kau pikir?” Kyuhyun menggeram kesal. “Aku akan membiarkanmu menikah dengan orang lain dan meninggalkanku, huh?!”

“Kau sudah bertunangan dengan orang lain, Kyuhyun.”

Mata Kyuhyun mendingin saat wanita bernama Han Sunhwa itu bicara. “Kau tak mengerti kesepakatan di antara kami, ahjumma.”

“Aku tetap tidak percaya padamu.” Sunhwa menyipitkan matanya sinis. “Hyukjae juga tidak.”

Kyuhyun beralih menatap Hyukjae tajam. “Jadi ibumu menyuruhmu berkhianat lebih dulu sebelum aku mengkhianatimu?”

“Kau tidak punya sopan santun, Cho Kyuhyun!” Sunhwa membentak marah.

“Tidak di saat seperti ini,” tukas Kyuhyun gusar. “Kau mau menikahi orang itu, Hyuk?” Telunjuk Kyuhyun mengarah pada pria baruh baya yang meringkuk ketakutan di pojok dinding. Si pengecut itu sudah berpose begitu sejak para bodyguard payahnya dihabisi Kyuhyun.

“Aku tidak akan menikah dengannya.” Hyukjae memandang jijik.

“Hyuk!” Ibunya memekik marah.

“Eomma…” Eunhyuk menatap Sunhwa. “Sudah cukup dengan semua ini!”

Pemuda itu melepas jas dan dasinya, melemparkannya begitu saja ke lantai. “Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan laki-laki yang kucintai!”

Hyukjae memeluk Kyuhyun dan berbisik di telinganya, “Aku senang kau datang.”

Kyuhyun tersenyum. “Memang apalagi yang kau harapkan dari seorang Cho Kyuhyun, huh?”

“Eomma.” Hyukjae berbalik ke arah ibunya. “Jangan lakukan hal yang seperti ini lagi.”

Sunhwa menatap tajam. “Tapi Kyuhyun sudah mengkhianatimu, Hyuk.”

Kyuhyun tersentak. “Aku tidak—”

“Aku tidak peduli soal itu!” Kalimat tegas Hyukjae menginterupsi Kyuhyun. “Aku bisa memilih sendiri jalan hidupku, eomma. Kau percaya padaku, kan?”

Sunhwa terdiam. Baru kali ini Hyukjae berani melawannya. Mata yang bersinar tegas itu mengingatkannya pada dirinya sendiri saat ingin menikah dengan lelaki pilihannya dulu. “Kau akan menyesal.”

“Itu lebih baik daripada harus menyesal saat ini juga dengan menikahi ahjussi itu, eomma.”

Sunhwa terkejut, matanya menatap Hyukjae lekat sebelum bertanya lirih, “Kau begitu mencintai Kyuhyun?”

Hyukjae mengangguk.

“Dan Kyuhyun…” Sunhwa beralih menatap Kyuhyun. “Apa kau lebih mencintai putraku dibanding tunanganmu saat ini?”

Kyuhyun tercekat. Secara reflek jemari tangan kirinya meraba jari manis dan hatinya mencelos saat tak menemukan cincin pertunangannya disana. Sungmin… Eunhyuk… Sungmin…

“Aku…” Kyuhyun memutuskan untuk tersenyum dan menatap tegas. “Aku pasti akan kembali pada Hyuk, ahjumma.”

Sunhwa menarik napas. Kyuhyun sama sekali tak menjawab pertanyaannya. Tapi ekspresi keras kepala Hyukjae juga sama sekali tak goyah.

“Terserah kalian saja lah.” Wanita paruh baya itu memutuskan untuk berbalik, menyerah.

oOo

“Kau yakin akan baik-baik saja?”

“Ya.” Hyukjae melepas seatbeltnya. “Aku tahu ibuku. Dia memang pemaksa, tapi dia tak akan menjebakku di belakang.”

“Apa kau yakin dia tidak akan memaksamu lagi?”

Hyukjae menggeleng. “Tidak, Kyu.” Gummy smilenya mengembang. “Terimakasih sudah mencemaskanku. Aku akan baik-baik saja.”

“Baiklah.” Kyuhyun tersenyum lembut. “Jangan sampai aku datang mengganggu pernikahanmu yang ketiga.”

Hyukjae tergelak. “Aku belum pernah menikah satu kalipun, Cho Kyuhyun. Aku bahkan tidak tahu siapa calonku nanti.”

Kyuhyun terhenyak. “Hyuk—”

“Kau akan menikah dengan Lee Sungmin, bukan begitu, Kyuhyun?”

Jemari Kyuhyun mencengkeram kemudi dengan kuat. “Tapi aku—”

“Apa kau yakin bisa bercerai setelah menikahinya?”

Kalimat itu membuat ulu hati Kyuhyun seolah melesak tak nyaman. Tentu saja hal itu harus dia lakukan, bukan? Bagaimanapun juga Kyuhyun sudah berjanji akan kembali pada—

“Kau mencintainya.”

“Huh?”

“Kau mencintai Lee Sungmin.” Hyukjae menatap lembut sebelum membuka pintu mobil.

Kyuhyun merosot di kursinya.

“Tapi aku tidak akan menyerah, Kyuhyun.” Tatapan lembut Hyukjae berubah tajam. “Kau sudah janji akan kembali padaku, kan?”

Kalimat terakhir terdengar begitu menusuk apalagi setelah Hyukjae keluar dan membanting pintu mobil dengan kasar.

“Hyuk!”

Kyuhyun baru saja bangkit, berniat minta maaf pada Hyukjae jika tak disela ponselnya yang berdering keras.

“Halo?!” sapa Kyuhyun gusar.

Apakah ini benar tuan Cho Kyuhyun?”

“Ya, aku Cho Kyuhyun.”

Sebenarnya kami ingin menyampaikan bahwa—”

Prakk!

Ponsel itu jatuh begitu saja. Wajahnya berubah pias.

Ini… bohong, kan?

oOo

Kyuhyun tidak dapat berpikir.

Tidak.

Tidak di saat seperti ini.

Kecepatan mobilnya sudah di luar tanggungan, Kyuhyun menyetir seperti orang kesetanan.

Tidak mungkin.

Ini tidak mungkin terjadi.

Kumohon, Tuhan.

DRAKKK!

Bagian depan mobilnya menabrak gerbang besi yang sedang dalam proses membuka. Waktu seperti lambat dan mencekik.

Sungmin… Sungmin…

Gerakannya lemah tapi cepat. Kyuhyun masuk ke dalam mansion tanpa membuka alas kakinya sama sekali. Dia berlari ke lantai atas, mencapai kamar Sungmin. Namun tubuhnya membeku setelah dia sampai di depan pintu kamar.

Apa yang harus kukatakan? Apa…?

Jemari Kyuhyun membuka kenop pintu dengan sendirinya. Sungmin ada disana, membaca buku di atas kasur dengan wajah seriusnya yang biasa.

Kyuhyun tidak mungkin melakukan ini.

“Min?”

Sungmin mendongak terkejut. Siapapun akan bereaksi begitu jika ada orang yang tiba-tiba muncul di depannya apalagi dengan wajah pucat dan mata merah membengkak.

“Kyu, kau kena—”

Dua tangan yang mencengkeram bahunya menghentikan pertanyaan Sungmin.

“Appa, eomma…”

Kyuhyun tidak bisa mengatakannya dengan benar, suaranya gemetar.

“Chunhwa abonim juga…”

Suaranya tersangkut, semakin serak.

“Pesawat… kecelakaan…”

DEG!

Sungmin merasa jantungnya dihantam. “A-apa?”

“Mereka… mereka pergi, Min… mereka pergi.”

Mulut Sungmin terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

Ini bohong, kan? Tidak mungkin ini terjadi.

Bruk!

“Min!” Kyuhyun mendekap tubuh Sungmin yang jatuh saat dia nekat berdiri.

“Ini bohong…” Suara frustasi itu terdengar. “Katakan kau bohong, Kyu. Kau bohong, kan?”

Mata Kyuhyun berkabut, tetes-tetes air matanya jatuh ke wajah Sungmin.

Tidak…

Sungmin merasa rotasi dunianya berhenti.

“A-appa…” Sungmin mencengkeram lengan kemeja Kyuhyun, seolah dekapan pemuda itu belum cukup untuknya bersandar. “Appa…”

Sosok beku itu kini gemetar, ketakutan. Sungmin tidak pernah seperti ini. Sungmin tidak pernah serapuh ini. “Aku minta maaf, Min,” bisik Kyuhyun parau. “Aku juga berharap ini hanyalah kebohongan sa—”

Sungmin terisak.

Tangisan lirih itu mencekat Kyuhyun. Dia pernah bilang ingin melihat wajah menangis Sungmin, tapi tidak… tidak ada yang lebih membuatnya sesak dibanding menyaksikan es dalam mata beku itu luruh dengan tatapan menderita.

“Jangan menangis…” Kyuhyun tak peduli meski ucapan itu terdengar sia-sia. “Kumohon, Min…”

Kumohon.

Kau yang seperti ini menyakitiku.

Jemari panjangnya merengkuh wajah itu kalut. Lee Sungmin tidak boleh menangis. Min-ku tidak boleh… Kyuhyun tak dapat berpikir lagi saat memiringkan kepala dan menyapukan bibirnya pada bibir mungil tunangannya yang gemetar.

Aku mencintaimu.

Sekilas bibir Kyuhyun menekan lembut sebelum kembali menciptakan jarak perlahan. “Min…”

Mata rubah itu berada tepat dalam pandangan Kyuhyun, dia dapat melihat bayangannya sendiri terpantul disana.

“Aku ingin selalu bersamamu.”

Kyuhyun melihat keterkejutan di balik lapisan jernih mata Sungmin. Kyuhyun tahu dia sudah meninggalkan komitmennya, tapi Kyuhyun tidak peduli. Dia hanya memeluk Sungmin begitu erat, berharap tak seorangpun bisa menjauhkan dirinya dari Sungmin, atau menjauhkan Sungmin darinya.

“Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi.” Jemari Kyuhyun menyeka lembut kristal-kristal bening yang masih meleleh ringan di pipi Sungmin seiring mata obsidiannya yang menatap teduh. “Min…”

“… aku akan memberikan segalanya untuk membuatmu tersenyum.”

oOo

To Be Continued

CLICK HERE TO POST COMMENT

Advertisements