Lunar Luminescence (Chapter 2)

Lunar Luminescence

by Kiri-chan

KyuHyun/SungMin‘s FanFiction

~ Chapter 2 ~

oOo

Makhluk ini benar-benar wangi.

Kyuhyun melompat dari pohon ke pohon dengan wujud manusia. Lebih praktis daripada dengan wujud serigalanya yang terlalu besar, dan juga lebih aman karena ada kumpulan serigala sedang berebut daging beruang di seberang sana. Kyuhyun menyeringai, sama sekali tidak merasa kasihan pada beruang tersesat yang bernasib sial menjadi mangsa kawanannya. Bahkan seekor hewan pemburu bisa menjadi mangsa jika berhadapan dengan pemburu lain yang lebih kuat. Namun seringai Kyuhyun seketika lenyap saat para serigala itu menggeram dan mendongak ke arah pohon tempatnya bersembunyi dengan mata berkilat lapar.

Raungan serigala terdengar bersahut-sahutan.

Kyuhyun mendecih. “Heh… kenapa kau wangi sekali sih?” Dia mencoba menatap mata biru bening yang mengintip dari balik bajunya. “Apa semua kelinci punya bau semanis dirimu?”

Kelinci kecil itu sama sekali tidak merespon. Hanya balik menatap Kyuhyun dengan tubuh bulat mungil yang gemetar hebat dan telinga panjang yang terkulai rapat. Kyuhyun mendengus. Sungmin masih ketakutan meski Kyuhyun sudah berjanji tidak akan membunuhnya. Tapi ya sudahlah, batin Kyuhyun sembari menghela napas, masih untung dia tidak berontak.

Tangan kanan Kyuhyun meraih dahan pohon, sementara tangan kirinya menahan Sungmin agar tetap tersembunyi di balik pakaiannya. Kawanan serigala itu mulai mendekat dengan kecepatan yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan Kyuhyun. Pemuda berkulit pucat itu melompati setiap pohon seperti seekor tupai.

Sebenarnya bukan masalah jika para serigala itu berhasil mengejarnya, memangnya siapa yang berani merebut buruan sang Alpha? Tapi dia tidak ingin mengambil resiko memperlihatkan sosok Sungmin. Kyuhyun tidak mau siapapun tahu ada makhluk dongeng dalam posesinya saat ini. Bisa jadi bahan gosip. Dan kalau sampai kedengaran si drama queen Heechul, jangan harap Kyuhyun bisa memelihara Sungmin dengan tenang.

BRAKKK!

Kyuhyun terkejut saat pohon yang nyaris dia pijak tiba-tiba tumbang dengan suara bedebam keras. Dengan tangkas dia memutar arah lompatannya dan mendarat di rumput, menatap ke depan dan menyadari ada kawanan lain yang menyerangnya dari arah berlawanan.

“Pangeran Kyuhyun?”

Begitu bersitatap, semua serigala itu menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan sang Alpha. Beberapa yang sudah berubah wujud menjadi manusia menekuk lututnya dan menunduk, yang masih berwujud serigala menekuk kaki dan menempelkan moncongnya sejajar dengan tanah.

“Maafkan kecerobohan kami.” Salah seorang pria tua memohon dengan wajah ketakutan, tidak ingin Kyuhyun menghukum keluarganya. “Kami tidak tahu jika—”

“Tidak masalah.” Kyuhyun menginterupsi cepat, matanya sedikit panik saat memastikan tidak satupun dari bulu putih Sungmin yang terlihat. “Tapi aku punya permintaan.”

“Apapun, pangeran.”

“Aku ingin kalian memastikan tidak ada satupun yang menghalangi jalanku setelah ini.” Kyuhyun menatap sinis saat mendengar beberapa serigala meneguk ludah susah payah karena wangi Sungmin yang masih tersebar. “Aku tidak peduli bagaimanapun caranya.”

“Kami mengerti.”

“Bagus.”

Kyuhyun berbalik. Melanjutkan langkah meski dapat mendengar geraman frustasi yang dibuat sepelan mungkin. Kyuhyun meminta serigala-serigala itu untuk terus menjaga jalannya sementara hidung mereka dikuasai wangi manis mangsa yang benar-benar mengundang selera, ini siksaan namanya.

“Dan…” Tiba-tiba Kyuhyun berbalik lagi yang membuat para serigala yang menjaga jarak beberapa meter di belakangnya berjengit. “Soal bau yang kalian cium saat ini…”

Mata Kyuhyun berkilat gelap yang membuat kaumnya menekuk lutut lagi secara otomatis.

“… aku ingin kalian tetap menutup rapat mulut kalian, pada siapapun.”

Para serigala itu menunduk paham.

“Apalagi Heechul hyung,” tekan Kyuhyun sebelum berbalik membelakangi kawanannya.

Pemuda serigala itu mendengus, kembali mendekap Sungmin lebih rapat ke dadanya. “Kenapa kau mesti wangi sekali sih?” bisik Kyuhyun nyaris tak terdengar.

oOo

“Kau bisa membuka matamu.”

Kyuhyun meletakkan Sungmin di lantai. Kelinci kecil itu masih meringkuk dengan mata terpejam rapat. Kyuhyun tidak terlalu mengerti bagaimana perasaan makhluk lemah seperti Sungmin, tapi berhadapan dengan puluhan ekor hewan buas sepanjang perjalanannya dengan Kyuhyun tadi pasti menakutkan. Kyuhyun sendiri kerepotan mengusir tatapan lapar kawanannya, bahkan dari pelayan kastilnya sendiri saat diam-diam melompat dari tembok belakang untuk menghindari prajurit di gerbang depan. Kyuhyun tidak menyangka membawa kelinci—dan membuatnya tetap tersembunyi—benar-benar melelahkan.

“Sungmin…” Kyuhyun mengetuk dahi si kelinci yang malah semakin gemetar. “Hei… aku sudah bilang tidak akan membunuhmu kan?”

Sungmin membuka matanya pelan, masih belum berani menatap Kyuhyun.

“Ini kamarku.” Kyuhyun melipat kedua kakinya dan duduk dengan posisi sila. “Tidak ada siapapun disini. Kau bisa berubah jadi manusia.”

Tapi Sungmin tetap bersikeras bergelung menjadi bulatan putih yang membuat Kyuhyun gemas. Apa itu cara kelinci melindungi diri? Kyuhyun tidak habis pikir. Sungmin bukan kura-kura yang bisa berlindung hanya dengan meringkuk seperti itu.

“Kau mau makan?” Kyuhyun meneguk ludahnya sendiri saat kata ‘makan’ keluar dari bibirnya. Bisa duduk berhadapan dengan Sungmin tanpa menyentuhnya sama sekali, Kyuhyun merasa lebih hebat dari serigala vegetarian. Eh, tunggu. Tidak ada serigala vegetarian di kerajaannya. “Aku punya banyak sayur dan buah. Kau suka yang mana?”

Sungmin membuka matanya lebar-lebar. Kyuhyun benar-benar memberinya tumpukan buah dan sayur yang membuat perutnya bergejolak. Bagaimana serigala seperti Kyuhyun menyimpan yang seperti ini? Bukankah jenis mereka hanya makan daging?

“Kau tahu aku tidak menganggapnya sebagai makanan.” Kyuhyun terkekeh saat menangkap ekspresi kebingungan Sungmin. “Tapi sebagai umpan untuk memasang perangkap. Untuk menjebak hewan bodoh sepertimu.”

Sungmin mengernyit dalam hati, tidak suka dibilang bodoh. “Apa kau sebegitu payahnya sampai tidak bisa menangkap buruanmu sendiri?”

Mata Kyuhyun melebar.

Sungmin tersentak. Tidak sadar pikirannya benar-benar terucap. Dia bahkan tidak sadar kapan tubuh kelincinya berubah menjadi manusia. Mungkin emosinya karena perkataan Kyuhyun tadi yang membuatnya jadi spontan begini. Sungmin merutuki kecerobohannya.

“Mak-maksudku…” Sungmin menoleh kanan kiri dengan gelisah, nyaris berubah jadi kelinci lagi dan bersembunyi di balik rak atau lemari besar yang ada di kamar Kyuhyun, tapi—

Brak!

—Kyuhyun lebih cepat mendorongnya ke lantai dan menahan bahunya disana.

“Oh…” Kyuhyun menyeringai saat mendekati wajah Sungmin. “Kau berani juga ya.”

Sungmin memucat.

“Padahal selama ini hanya Heechul hyung yang punya nyali mengomentari hobiku terang-terangan.”

Sungmin dapat melihat jelas mata hitam yang membesar mengerikan dan dua taring yang muncul perlahan. Kyuhyun tidak sepenuhnya berubah menjadi serigala, hanya mata dan giginya saja, tapi itu sudah cukup membuat Sungmin merasa di ambang kematian.

“Jadi… apa yang harus kulakukan padamu, hm?” Napas panas Kyuhyun berhembus di bulu mata Sungmin yang tertutup rapat. “Aku memang berjanji tidak akan membunuhmu. Tapi membuatmu kehilangan satu atau dua kaki tidak apa-apa, kan?”

Srett!

Sungmin membuka matanya terkejut. Dia merasa tubuhnya melayang dan ada wajah Kyuhyun sedang tersenyum padanya—wajah normal tanpa taring dan mata hewan buas.

“Bercanda.” Kyuhyun terkekeh geli saat menatap Sungmin yang kebingungan. “Apa aku begitu menakutkan? Memang seharusnya begitu sih, aku kan Alpha disini.”

Sungmin menegang. Dia memang sempat memperhatikan—tepatnya mendengar, karena dia tidak bisa melihat apapun saat disembunyikan di balik pakaian Kyuhyun—bagaimana serigala-serigala itu tunduk begitu saja pada semua perintah Kyuhyun, tapi dia tidak menyangka jika…

Tiba-tiba Sungmin merasa sial.

Dia tersesat di kerajaan serigala, dan dia jatuh tepat ke tangan pemimpinnya.

Tamatlah sudah.

Sungmin sibuk dengan pikirannya yang kalut sampai tidak sadar Kyuhyun membawanya ke ruangan yang berbeda.

“Biasanya aku menyuruh pelayan untuk bersih-bersih.” Kyuhyun menghela napas. “Tapi karena aku tidak bisa memperlihatkanmu pada mereka, jadi biar kulakukan sendiri.”

Sungmin baru mengerjap sadar saat Kyuhyun menurunkannya dari gendongan, mendudukkannya di atas undakan porselen yang seperti tangga kecil. “K-kau mau apa?” Secara reflek Sungmin menahan pergelangan tangan Kyuhyun yang melonggarkan kerah pakaiannya.

Kyuhyun menautkan alis seolah heran dengan sikap Sungmin. “Kudengar kelinci itu makhluk suci, tapi kenapa sepertinya kau keberatan dibersihkan?”

Sungmin berjengit panik. Apa darahnya harus dibersihkan dan organ-organnya harus dikeluarkan dulu sebelum dimakan? Setahu Sungmin, para pemakan daging itu biasa memakan mangsanya mentah-mentah. Tapi siapa tahu anggota kerajaan seperti Kyuhyun berbeda, mengingat Kyuhyun punya selera berbeda juga dengan memasang perangkap untuk mangsa daripada berburu sendiri.

Sungmin mengedarkan pandangannya gelisah. Tapi di luar dugaan, dia hanya menemukan ruangan luas yang dindingnya dilapisi porselen dengan ukiran-ukiran indah. Ada kolam besar dengan air berwarna keunguan. Sungmin menghirup wangi bunga yang sama sekali tidak tercium seperti bau bumbu masak.

“Kau sudah lihat penampilanmu sendiri?” Kyuhyun memutar Sungmin ke arah cermin besar yang tidak jauh darinya. “Penuh debu, tanah, lumpur, luka berdarah. Astaga… kau buruk sekali. Tapi aku salut karena kau tidak kehilangan anggota badanmu mengingat kau baru melakukan perjalanan jauh dari utara. Kau pasti berhasil bersembunyi dari para pemburu karena badanmu yang kecil itu, ck… kau perlu makan lebih banyak, Sungmin.”

Sungmin menelan ludah. Jadi selain dibersihkan, dia juga harus digemukkan dulu sebelum dimakan.

“Tapi sebelum itu…”

Srett!

Sungmin terbelalak saat tangan Kyuhyun meloloskan pakaiannya melewati bahu.

“… kau perlu mandi dulu.”

Pipi Sungmin sontak memerah saat Kyuhyun terus melucuti pakaiannya pelan-pelan, baru sadar apa yang Kyuhyun maksud dengan ‘dibersihkan’ jauh lebih sederhana daripada yang ada dalam pikiran Sungmin. “A-aku bisa melakukannya sendiri.”

“Kau diam saja.” Kyuhyun menatap tidak suka saat Sungmin nyaris menahan tangannya lagi. “Luka-lukamu banyak, kau tidak mungkin bisa mengobatinya sendiri. Lagipula aku kan pemilikmu, jadi biarkan aku mengurusimu.”

Sungmin tidak lagi berani membantah. Lebih baik diam daripada jemari kurus Kyuhyun tiba-tiba berubah jadi cakar dan merobek tubuhnya yang kini tidak tertutup sehelai benangpun. Jantungnya berdebar gelisah saat tangan Kyuhyun menyentuh kedua sisi tubuhnya dan memindahkankannya dengan mudah ke dalam kolam.

Sungmin tersentak sedikit. Air yang berwarna keunguan itu memang hangat dan nyaman, tapi terasa perih di bagian-bagian tubuhnya yang terluka.

“Tahan.” Kyuhyun berkata lembut meski masih terdengar tajam di telinga Sungmin. “Percuma saja diobati jika lukamu belum bersih sepenuhnya, kan?”

Sungmin tidak menjawab.

Jemari Kyuhyun menyentuh rambutnya dengan cairan kental berbusa yang baunya sama dengan air yang melingkupi Sungmin. Sungmin baru sempat berpikir dan mengenali aromanya, lavender.

“Tutup matamu,” perintah Kyuhyun. “Busanya bisa masuk.”

Sungmin tidak punya pilihan lain selain memejamkan matanya dengan patuh. Dia ingat 17 tahun hidupnya dalam kamar kaca yang menjaga kesuciannya. Ini belum genap seminggu sejak dia keluar darisana tapi sudah ada serigala yang menyentuhnya seperti ini. Apa kesucian sinar bulannya sudah terkontaminasi? Sungmin nyaris mendengus dengan pikirannya sendiri. Bagaimana bisa aku sempat memikirkan itu? Masih hidup saja sudah untung.

“Kyuhyun! Kau dimana? KYUHYUN?!”

Sungmin menoleh saat merasakan tangan Kyuhyun yang sedang menggosok punggungnya menegang.

“Sial! Heechul hyung!” Kyuhyun merutuk keras.

Dengan cepat mengangkat Sungmin keluar dari air. Tanpa perlu diperintah Kyuhyun, Sungmin segera mengubah wujudnya menjadi kelinci kecil dan membiarkan Kyuhyun menyembunyikannya di sudut teraman.

“Tetap disini.” Kyuhyun menekan setiap kata-katanya dengan tegas. “Dan jangan menyebarkan baumu kemana-mana. Bisa gawat kalau sampai tercium Heechul hyung.”

Kyuhyun tahu permintaannya aneh. Kalau ada mangsa yang bisa menyamarkan aromanya, sudah pasti akan ada banyak predator di dunia ini yang mati kelaparan karena kesulitan berburu.

“KYUHYUN!”

Brakk!

Dengan kecepatan kilat, Kyuhyun melompat dari tempatnya berdiri ke arah pintu yang nyaris didobrak Heechul. “Apa maumu, hyung?” Kyuhyun menggeram kesal.

Heechul menyeringai, berusaha sekuat tenaga mendorong pintu yang menghalanginya dengan Kyuhyun. “Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.”

Kyuhyun mendecih dalam hati. Dia lupa memperingatkan pelayan-pelayan yang memergokinya melompat dari tembok belakang kastil untuk tidak bergosip.

“Ini bukan urusanmu, hyung.” Kyuhyun menatap tajam. “Pergi sana.”

“Ayolah, Kyuhyun. Berbagilah denganku.” Heechul memamerkan taringnya. “Kudengar aromanya sangat… enak.”

“Hyung, sudah kubilang—”

BRAKKK!

Kyuhyun terlempar ke belakang. Matanya terbelalak, tak menyangka Heechul berubah jadi serigala sungguhan dan langsung mendobrak pintunya tanpa ampun.

“HYUNG! BERHENTI!”

Dakkk!

Kaki besar berbulu coklat kemerahan Heechul menekuk dengan dorongan kuat. Heechul mengerang, mati-matian melawan kekuatan besar yang memaksa tubuhnya membungkuk.

“Kau tahu percuma saja melawan kuasa Alpha, hyung.” Kyuhyun mendekat dengan mata serigalanya, simbol salib hitam berpendar tipis di balik poni gelapnya.

Heechul hanya bisa merutuk dalam hati.

Menekuk satu lututnya di depan moncong besar Heechul, Kyuhyun menatapnya dengan geraman pelan dari tenggorokan. “Keluar dari sini, dan jangan pernah masuk ke kamarku lagi. Ini perintah.”

“Hauuunggg…” Heechul mengerang dan memundurkan kedua kakinya. Meski dalam hati kesal minta ampun, Heechul tidak punya pilihan lain selain mematuhi perintah Kyuhyun. Tubuh raksasanya berputar balik dan berlari melewati lubang besar—bekas pintu yang didobrak tadi—dengan langkah bedebum.

Kyuhyun mengerjap takjub saat Heechul tak lagi terlihat oleh jarak pandangnya. Baru kali ini Heechul menurutinya begitu saja. Kyuhyun tahu kuasa Alpha memang mutlak, tapi tetap saja… yang baru dia hadapi tadi itu Heechul. Heechul.

Kyuhyun tertawa puas. “Rasakan itu, hyung! Hahahaha!”

Sungmin mengintip dari tempat persembunyiannya saat mendengar tawa Kyuhyun. Kyuhyun menoleh dan tersenyum. Mata serigalanya sudah menghilang dan kembali normal. “Dia sudah pergi.”

Tapi Sungmin tetap bersembunyi.

“Sini…” Kyuhyun mendekat dan berjongkok di depan Sungmin yang berwujud kelinci. “Sebaiknya kau cepat berubah jadi manusia lagi, masih banyak bagian yang belum dibersihkan.”

Sungmin terbelalak. Rasanya dia ingin kabur saja.

oOo

Bulannya sangat dekat.

Tepat tengah malam. Sungmin memandang dari balik jendela besar dalam ruangan gelap. Mata safirnya yang besar seolah gemetar. Bau darah, pembantaian, semua itu masih terhirup jelas di hidung mungilnya. Makhluk dengan wangi menusuk yang bertaring tajam, hanya dengan membayangkannya sekilas saja sudah cukup membuat bulu-bulu seputih saljunya meremang.

Vampire.

Mereka datang dalam jumlah banyak, di bulan purnama seperti ini. Ini bahkan masih bulan yang sama, Sungmin berpikir miris. Belum genap seminggu sejak kematian Ryeowook yang terjadi tepat di depan matanya. Kematian yang sia-sia. Karena saat ini Sungmin berakhir menghadapi predator lain, bahkan tepat di sarangnya.

Dengkur serigala itu terdengar keras.

Telinga panjang Sungmin berdiri tegak. Dengan takut mencoba melirik ke arah serigala besar berbulu hitam pekat yang sangat tidak cocok dengan ranjang putih bertirai dan berkanopi mewah. Hewan raksasa itu tidak tidur di atasnya, tapi di samping ranjang, hampir dekat dengan bantal kecil tempat Sungmin bergelung.

Kalau kau tidak ingin tidur disana, aku juga tidak.” Itu yang si pangeran serigala katakan saat badan kecil Sungmin gemetaran hebat saat Kyuhyun hampir meletakkannya di ranjang.

Sungmin bukan hanya tidak ingin tidur di ranjang, dia bahkan tidak ingin berada di dalam kamar ini. Ruangannya cukup luas dengan langit-langit yang tinggi. Kyuhyun mematikan lampunya yang membuat suasana menjadi total gelap, hanya sinar bulan dari arah barisan jendela-jendela kristal yang membantu menerangi setiap sudut dengan cahaya remang-remang. Dari arah ventilasi bertiup udara malam yang membuat Sungmin merasa semakin disergap ketakutan, dan di setiap detiknya dia terus menduga-duga kapan hewan buas mengerikan itu akan mencabik tubuhnya dan memakan dagingnya mentah-mentah.

Kyuhyun memang sudah merawat Sungmin dengan baik dan berjanji tidak akan membunuh Sungmin, tapi siapa yang percaya? Bagimana jika tiba-tiba dia terbangun dan lapar? Lalu butuh camilan malam? Satu-satunya yang bisa dia makan di ruangan ini hanya Sungmin!

Sungmin membeku ketakutan. Jantungnya berdebar keras. Kepala kelinci mungil itu mendongak sedikit, menatap mata besar serigala yang terpejam rapat.

Apa ini… kesempatan?

Satu kaki mungilnya terangkat ragu-ragu, mencoba mencari pijakan selain bantal bulat tempatnya bergelung. Bantal bulatnya terletak di atas lemari kaca yang tidak terlalu tinggi. Jika Sungmin punya cukup keberanian, mungkin dia bisa melompat dan mencari celah-celah untuk lari.

Sekali lagi, Sungmin melirik ke arah Kyuhyun. Serigala itu menghembuskan napas naik turun yang membuat Sungmin semakin berdebar tegang. Keempat kakinya terasa kaku, tapi kapan lagi dia bisa kabur jika bukan sekarang? Sungmin bahkan tidak yakin dia bisa bertemu dengan hari esok.

Tap!

Bulatan putih bertelinga panjang itu melompat dengan lincah. Mata safirnya bersinar yakin saat melihat celah ventilasi yang bisa dicapai dengan rak kayu yang bertingkat. Dengan cepat dia berlari dan mencoba mengambil ancang-ancang untuk melompat lagi sebelum—

Bruk!

—cakar-cakar tajam itu mengurung tubuhnya.

Jantung Sungmin mencelos.

Suara dengkuran yang sedari tadi menguasai ruangan kini berganti geraman keras anjing raksasa yang meremangkan bulu kuduk siapapun.

“Mencoba kabur ya?” Seiring suara velvet yang terdengar, Sungmin merasa cakar raksasa yang mengurungnya perlahan berubah menjadi jemari kurus. Serigala besar itu kini berwujud remaja laki-laki berkulit pucat yang tetap saja terlihat mengerikan. “Apa kau pikir di luar sana lebih aman daripada bersamaku disini?”

Kedua telinga panjang Sungmin terlipat di kedua sisi kepalanya, matanya terpejam erat, gemetar. Dia sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan Kyuhyun. Suara dalam otaknya terus berteriak, “Aku akan dimakan! Aku akan dimakan!”

“Padahal aku sudah susah payah membawamu kesini. Menyembunyikanmu dari serigala lain itu sulit, tahu! Apalagi Heechul hyung! Aku juga sudah memandikanmu bersih-bersih dan memberimu makan sayuran! Kenapa kau malah mencoba kabur? Tidak tahu terimakasih!” Kyuhyun marah-marah dengan telunjuknya memukul pelan dahi si kelinci. “Hei! Jawab aku, Sungmin!”

Saat telinga panjang itu perlahan menyusut, dan mata safir itu berubah menjadi kecoklatan, Kyuhyun menemukan tubuh mungil yang terkurung di bawah kuasanya. Bibirnya yang tadi sempat mengomel panjang kini terkatup. Mata hitamnya bersitatap dengan warna shiny tea dalam mata Sungmin yang terkesan cerah. Jaraknya… terlalu dekat.

Kyuhyun menelan ludah. Dia tahu persis yang di bawahnya ini kelinci, jantan pula. Tapi sepertinya sinar bulan yang redup berhasil menampilkan iluminasi yang membuat jantungnya berdebar gila.

Udara malam yang bertiup dari ventilasi sama sekali tidak membantu. Wajah Kyuhyun merunduk saat angin tak sengaja menebar wangi manis Sungmin hingga tercium lebih pekat. Bibirnya nyaris menyentuh kulit leher Sungmin saat sinar bulan entah mengapa tiba-tiba menerobos lebih terang dan terfokus padanya seperti spotlight.

Poni pirang platinum Sungmin tersibak dan memperlihatkan simbol bulan yang berpendar lembut di dahinya.

Kyuhyun terpaku, terbelalak tak percaya. Tidak mungkin… Seumur hidup tak pernah terbayang, sihir terkuat yang diincar seluruh predator di dunia kini jatuh dalam genggaman tangannya.

“Kau… Lunarian?”

Leeteuk hyung, batin Sungmin menyebut nama itu dalam kebekuan, Siwon hyung, Ryeowook, semuanya… sudah berakhir.

Dirinya terlahir sebagai jelmaan malaikat bulan memang membawa kebahagiaan pada kerajaan, namun itu hanya pada awalnya. Karena beberapa saat setelah kelahirannya, para tetua meramalkan kehancuran kerajaan. Dan mereka memutuskan untuk mengurung Sungmin dalam ruangan luas empat sisi yang bahkan Sungmin tidak tahu ada berapa campuran mantra yang melapisi dindingnya dari sudut ke sudut. Mereka berharap darah Sungmin yang mengandung sihir bulan akan tersamar setelah bertahun-tahun terlindung di dalam sana. Namun nyatanya tidak. Begitu Sungmin keluar, para vampire itu mencium bau darahnya. Bahkan dari balik 7 tembok sihir yang melindungi kerajaannya.

“Mungkin aku hanya… pembawa sial.”

Suara bening itu mengejutkan Kyuhyun. Rasanya seperti tersihir saat melihat kristal-kristal jernih mengalir lembut dari dua mata hazel yang gemetar. Lunarian itu terlihat sangat indah.

“Kenapa kau berkata seperti itu?” Kyuhyun bertanya pelan.

“Aku adalah kehancuran bagi keluargaku sendiri.” Sungmin menatap nanar. “Mungkin juga bagi keluarga yang lain.”

Kyuhyun terdiam. Dia mengerti ‘keluarga’ yang Sungmin maksud adalah para herbivora lemah yang biasa menjadi makanan pemburu macam Kyuhyun sehari-hari. Si Lunarian sendiri tentu paham, darahnya menjadi rebutan para hewan buas di luar sana. Darah yang mengandung sihir bulan, yang seteguk saja akan memberi hidup abadi, dan akan membuat hewan mana saja yang menghisapnya menjadi yang terkuat, tak terkalahkan, dan tak ada lagi mangsa yang dapat lari dari mereka.

“Lebih baik aku tidak usah lahir saja… kan?”

“Kau akan menyesal berkata begitu.” Entah kenapa Kyuhyun sama sekali tidak menyukai pernyataan Sungmin barusan. “Walaupun tadinya aku tidak percaya kau ada, tidak percaya Lunarian itu nyata.”

Mata Kyuhyun menggelap.

Dia pernah berpikir jika Lunarian—makhluk dongeng itu—nyata, dia akan menghisap habis darahnya. Lalu menghancurkan satu persatu kerajaan vampire yang ada, menundukkan predator manapun yang menentangnya, dan menguasai dunia. Setidaknya itu adalah mimpi ayahnya sebelum dia mati di tangan para vampire.

“Kau tahu?” Tiba-tiba tangan Kyuhyun terulur dan menyeka air mata Sungmin perlahan. “Sebagian besar kawanan serigala yang menjadi prajurit kerajaan mati dalam pertempuran memperebutkan wilayahmu, mati di tangan vampire-vampire itu. Ayahku juga ada disana.”

Sungmin membeku.

“Apa yang kau bayangkan jika kawananku yang menang?” Kyuhyun merunduk, seringainya terkembang dan lidahnya menyapa bulu mata Sungmin yang basah oleh air mata. “Yang kau dapati menyerang kerajaanmu bulan purnama lalu mungkin bukan pasukan vampire yang berterbangan kemana-mana dan menggigit leher keluargamu sampai putus, tapi pasukan serigala yang mencabik-cabik tubuh mereka dan menyisakan tulang belulang.”

Sungmin terbelalak. Dan Kyuhyun tahu apa yang ada di dalam sana. Ketakutan seekor mangsa yang lemah, menjadi sensasi tersendiri bagi para hewan pemburu sebelum mengantar mereka pada kematian.

“Ini hukum alam, Sungmin.” Kyuhyun tersenyum saat menatap mata Sungmin dalam. “Dan soal kelahiranmu… daripada disebut kesialan, mungkin lebih tepat disebut keajaiban.”

“Keajaiban?” Sungmin merasa kata itu terdengar miris. “Hanya bagi pihakmu saja kan?”—sementara pihak kami harus repot-repot bersembunyi dan melarikan diri agar kalian tidak mendapatkan kekuatan dalam darahku ini.

“Kau berharap aku bicara dari sudut pandangmu?” Seringai Kyuhyun terlihat meremehkan. Jemarinya menelusuri leher Sungmin yang membuat pemuda mungil itu merasa ajalnya semakin dekat. “Kau tidak berharap aku mengerti apa yang kau rasakan, kan?”

“Tidak mungkin.” Sungmin nyaris mendengus. “Kita terlalu berbeda.”

“Kau benar.” Kyuhyun tersenyum dan menyentuh leher Sungmin dengan bibirnya.

Kontak itu membuat Sungmin menegang.

“Apa kau takut?” Kyuhyun bertanya tanpa mengubah posisinya sekarang.

“Aku tahu kau akan membunuhku pada akhirnya.” Sungmin memejamkan matanya, berusaha tenang meski seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. “Setelah ini, apa kau mau menghabisi vampire-vampire itu juga?”

“Hmm…” Kyuhyun mengecup leher Sungmin sekilas. “Dengan senang hati.”

“Apa kau…” Sungmin ragu-ragu dengan permintaannya kali ini. “Apa kau mau tidak mengganggu kehidupan para kelinci?”

Kyuhyun tertawa kecil. “Hei, itu konyol.”

“Hn… aku tahu.” Sungmin tersenyum tipis.

Daripada takut, dia lebih merasa sedih. Pemuda serigala di depannya ini akan menghisap darahnya sampai habis. Dia akan mati. Hewan-hewan jenisnya yang lain juga akan mati. Jadi begini akhirnya? Mengulur waktu dengan pemangsa yang siap menancapkan taringnya. Bahkan si pangeran serigala masih mau-maunya menemaninya bicara.

“Kau punya permintaan lain?” Kyuhyun bertanya karena Sungmin sudah lama terdiam.

“Lepaskan aku?”

Kyuhyun tertawa ringan. “Tidak akan.”

“Baiklah.” Sungmin membuka matanya dan menatap langit-langit. “Aku tidak akan bicara lagi.”

Napas panas sang serigala berhembus semakin kasar. Dan saat sepasang taring menancap di leher tipisnya, Sungmin terbelalak.

AAAAAAAAAAAAAAARRRGGH!

Dia bertanya jika suaranya benar-benar keluar. Matanya membeliak dan mulutnya ternganga dengan tubuh menggelepar hebat. Sungmin tidak tahu kematian bisa begini menyakitkan. Kepalanya serasa nyaris pecah. Bahkan tulangnya seolah patah satu persatu dari sendinya. Lengannya berontak kuat, berusaha melempar kepalan tangan pada tubuh Kyuhyun agar pangeran serigala itu melepaskannya dari eksekusi yang menyiksa.

Namun siapapun tahu, usaha Sungmin akan sia-sia.

Pemuda mungil itu melemah saat pandangannya mengabur. Matanya terpejam dan tubuhnya tergeletak seperti mayat. Kyuhyun mengeluarkan taringnya dan menempelkan bibirnya sebegitu rupa sampai tak ada satu tetes darahpun yang mengalir keluar. Mata obskuritnya mengawasi wajah Sungmin yang tak lagi merona merah jambu. Simbol bulan yang berpendar di dahi Lunarian itu semakin meredup.

Kyuhyun bangkit dan pelan-pelan mengangkat tubuh pemuda mungil itu dengan kedua tangannya, meletakkannya di atas ranjang. Sinar bulan dari arah jendela yang masih menyinari Sungmin terhalang tubuh Kyuhyun yang mengurungnya. Bibir sang pangeran serigala menyentuh bibir pinkish Sungmin yang terasa lembut.

“Selamat tidur, Sungmin.”

Samar-samar simbol salib hitam berukir bersinar di dahi Sungmin seolah menutup simbol bulan yang ada.

oOo

To Be Continued

 

Advertisements