Falling Without You (Chapter 11)

Falling Without You

by Kiri-chan

Apa yang kau rasakan jika kau tak bisa menentukan jalan hidupmu sendiri? Cho Kyuhyun tak bisa bertahan lebih lama lagi, hingga dia bertemu Lee Sungmin, pemuda manis yang tak pernah tersenyum dari dasar hatinya, seseorang yang sepertinya telah menyerah dalam hidup.

Main Pair : Kyuhyun/Sungmin

Warning : ada beberapa crack pair sebagai konflik dalam cerita, it’s SLASH! YAOI! Shounen-ai! Whatever a BoyxBoy FanFiction called!Siapapun yang keberatan bisa menerapkan asas DON’T LIKE DON’T READ bagi fanfiction ini.

~ Chapter 11 ~

Smile

oOo

When you smile, sun shines, so beautiful that I’m speechless.

Kyuhyun tak tahu sisi apalagi dari seorang Lee Sungmin yang membuat dirinya terpana. Jemarinya perlahan menyentuh blazer bagian kirinya, detak jantung yang tidak kunjung tenang.

Gejala yang membuatnya gelisah, hal baru yang belum pernah dia rasakan terhadap orang selain Sungmin.

“Kyu?” Cahaya temaram dalam mata itu mengagetkan Kyuhyun. Bola mata coklat yang teduh dan hangat, seperti warna darjeeling tea yang diminum Kyuhyun tiap pagi.

“Min, ayo kita pulang.”

Sungmin menatap enggan kucing dalam pelukannya sebelum menurunkan makhluk mungil itu hati-hati. “Annyeong~” bisiknya lirih dengan senyum lembut dan mata teduh yang sama.

“Kau bisa memeliharanya kalau mau.”—Jika hal itu bisa membuatmu tersenyum setiap hari.

“Aku melihat induknya di sudut koridor lain, kasihan kalau anaknya kuambil.”

Kyuhyun menatap lekat figur samping wajah Sungmin yang masih menebar aura kelembutan.

“Lagipula…” Sungmin menoleh dengan senyum tipis—yang lagi-lagi membuat jantung Kyuhyun berpacu kelewat kencang. “Tidak baik untuknya hidup bersama orang yang selalu sendirian seperti aku.”

Alis Kyuhyun bertaut. “Kau tidak sendirian,” sahutnya tidak setuju. “Kau anggap aku ini apa?”

Dada Kyuhyun bergolak tak nyaman saat ekspresi Sungmin kembali seperti semula, datar tanpa emosi.

“Kau tunanganku, siapa lagi?”

“Jadi kau tidak sendirian, kan?” Kyuhyun mendesak.

Sungmin mengangguk. “Yah, kurasa.”

“Tsk…” Kyuhyun menatap tak puas. “Kau sama sekali tidak manis.”

“Aku ini laki-laki, jadi mana mungkin aku manis.”

Kyuhyun mendengus keras. Diraihnya tangan Sungmin—yang sudah menjadi kebiasaan—dan matanya melebar saat merasakan tangan kecil itu begitu dingin. “Sore-sore begini bagaimana kau bisa keluar tanpa baju hangat hah?!” seru Kyuhyun dengan tatapan antara khawatir dan marah. “Tanganmu jadi begini beku! Mana jaketmu?!”

“Aku tidak bawa jaket.”

“Blazermu? Tadi pagi aku melihatmu masih memakainya.”

“Tadi ketumpahan orange juice. Sudah kucuci tapi masih basah, jadi kusimpan saja du—”

“Kau mencuci?!” Kyuhyun terbelalak kaget. “Kenapa tidak langsung kau masukkan saja ke dalam tas?!”

“Nanti nodanya tidak bisa hilang.”

“Tsk! Kau ini memang merepotkan!” Kyuhyun berdecak lebih keras. Memasukkan tangan Sungmin ke dalam saku jaket tebalnya dan menggenggamnya lebih erat di dalam sana. “Sudah hangat?”

Suara Kyuhyun melembut pada dua kata terakhir. Sungmin terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Cuaca akhir-akhir ini tidak bagus, anginnya terlalu dingin. Laki-laki harus jaga kesehatan, tahu tidak?”

Sungmin mengangguk lagi.

“Ayo pulang.” Nada final Kyuhyun terdengar lirih.

Sungmin hanya diam mengikuti pemuda itu menyusuri koridor sekolah dengan tangan yang digenggam hangat dalam saku jaket Kyuhyun. “Sebelumnya kupikir kau kuat, Kyu.”

Kyuhyun menoleh berkat gumaman pelan itu. “Maksudmu, Min?”

“Kau pakai sweater, blazer, dan jaket sekaligus. Padahal udaranya tidak sedingin itu.”

Alis Kyuhyun berkedut. “Kau menganggapku lemah karena memakai baju berlapis-lapis?!”

“Aku tidak bilang begitu.” Sungmin menatap datar. “Tapi ayahmu memang pernah bilang tubuhmu lemah.”

Kyuhyun berjengit. “Ahjussi sialan itu…” rutuknya geram.

“Kupikir orang yang kau sebut ‘ahjussi sialan’ itu pernah membuatmu terharu hanya karena dia mengusap kepalamu.”

“Y-YAH! MIN! Kau tidak perlu mengungkit-ungkit soal itu!”

Sungmin memandang wajah Kyuhyun yang merah padam. “Kupikir ini saatnya berbaikan dengan ayahmu, Kyu. Dia tidak sejahat itu.”

Kyuhyun terdiam. “Kenapa kau berpikir begitu?”

“Perjodohan kita bukan karena uang. Kupikir itu sedikit menunjukkan kebaikan hati ayahmu, dan ayahku juga.”

Kyuhyun tersenyum. “Sepertinya kau penuh dengan prasangka baik, Min.” Tangan kirinya menyentuh pipi Sungmin, karena tangan kanannya masih bersama Sungmin dalam saku jaket. “Tapi kenapa kau bisa jadi begini dingin?”

“Kau sendiri yang bilang udaranya dingin,” respon Sungmin polos.

Kyuhyun tertawa kecil. “Bukan, bukan itu…” Jemarinya menangkup sebelah pipi Sungmin yang memang dingin, mengelusnya pelan. “Aku tidak bicara soal udara, tapi soal dirimu. Kau dingin, jarang berekspresi, dan jarang tersenyum.”

“Kau ingin aku banyak tersenyum?”

“Aku ingin bilang begitu. Kau kelihatan jauh lebih hangat dari sweater, blazer, dan jaket saat tersenyum.” Kyuhyun tertawa lagi. “Tapi aku sudah bilang padamu, saat bersamaku kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan. Kau bisa tersenyum saat kau ingin, tapi kau tak perlu memaksakan diri untuk tersenyum jika kau tidak ingin melakukannya.”

Sungmin tak merespon, hanya sedikit menunduk.

“Min?” Kyuhyun memiringkan kepalanya, berusaha mencari mata Sungmin. “Apa kau sudah merasa bebas?”

“Huh?” Sungmin mendongak.

“Saat aku masuk sekolah negeri, saat aku bertemu Eunhyuk dan Donghae hyung, saat aku merasa bebas dari tekanan ayahku, mungkin itu pertama kalinya aku bisa tersenyum dengan baik.” Kyuhyun tersenyum hangat. “Tadi aku melihatmu tersenyum dengan sangat baik, apa itu karena kau sudah merasa bebas?”

Sungmin tampak berusaha mencerna kalimat Kyuhyun. “Aku memang selalu tersenyum dengan baik di depan hal-hal yang aku sukai, Kyu.”

Kyuhyun terkejut.

“Tapi hari ini aku berani membolos 1 mata pelajaran, apa itu karena aku sudah merasa bebas?” tambah Sungmin dengan mata menatap innocent.

“Ya, kupikir begitu.” Kyuhyun tertawa renyah, jemarinya mengacak-acak rambut Sungmin. “Good job, Cho Sungmin.”

Alis Sungmin bertaut. “Aku Lee Sungmin.”

“Kau bebas dari ayahmu sekarang, jadi kau bebas mengganti margamu juga,” balas Kyuhyun ceria. “Ayo kita rayakan kebebasanmu hari ini!”

Sungmin menatap heran. “Kenapa harus dirayakan?”

“Tentu saja harus!” seru Kyuhyun penuh semangat. “Kau tahu kedai kopi paling enak di Seoul?”

Sungmin menggeleng.

Kyuhyun tersenyum puas. “Kalau begitu aku akan menunjukkannya padamu!” Tangannya menarik Sungmin dengan langkah yang jauh lebih riang. “Ayo kita pergi!”

Kyuhyun tahu dia sudah menghabiskan banyak waktu dengan Sungmin. Tapi dia masih ingin menghabiskan waktu bersamanya lebih banyak lagi.

oOo

“Kau putus dengan Kyuhyun?”

Hyukjae mengerjap kaget. Malam-malam begini ibunya baru pulang dan tiba-tiba menegurnya dengan wajah begitu keruh. “Aku sudah bilang padamu, eomma. Kami memang sudah putus karena pertunangannya. Tapi dia tidak sungguh-sungguh—”

“Tidak sungguh-sungguh?!”

PRAK!

Tumpukan foto-foto di meja itu menyentak Hyukjae. Kyuhyun dan Sungmin. Di café, di game center, di supermarket, di taman kota—entah dimana lagi. Diambil sejak matahari masih bersinar di sore hari sampai langit berbintang di malam hari.

“Kau lihat wajahnya? Kau lihat wajah Kyuhyun? Apa ekspresi seperti itu yang kau bilang ‘tidak sungguh-sungguh’?!”

Hyukjae terhenyak. Orang paling bodoh sekalipun bisa melihat wajah bahagia Kyuhyun dan matanya yang berbinar penuh cinta itu bukan pura-pura. Wajah Hyukjae meredup, merasa kepingan-kepingan hatinya jatuh dengan keras saat mendapati Sungmin memakai jaket Kyuhyun di beberapa lembar foto berikutnya. Kyuhyun punya tubuh lemah yang tidak tahan dingin, dia tidak pernah mau meminjamkan jaketnya pada siapapun meski sudah memakai baju berlapis-lapis.

“Ini pasti karena paksaan orangtua Kyuhyun, eomma.” Hyukjae menyangkal lemah.

“PAKSAAN?” Han Sunhwa membentak. “Apa ekspresi Kyuhyun terlihat terpaksa?! Dia tak ada bedanya dengan ayahmu yang mengaku terpaksa padahal dia melakukan semuanya dengan SENANG HATI!”

“EOMMA!” Hyukjae berjengit shock. “Jangan samakan Kyuhyun dengan appa!”

“TAPI BEGITULAH KENYATAANNYA! BUKA MATAMU, HYUKJAE!” Wanita paruh baya itu makin menjerit kalap. “Kenapa hidupmu selalu dipenuhi laki-laki tak benar?! Ayahmu yang brengsek itu, Lee Donghae yang berselingkuh dengan putri orang kaya, dan sekarang Cho Kyuhyun yang bertunangan dengan putra presiden direktur!”

“Gadis sialan yang bersama Donghae itu bukan putri orang kaya.” Hyukjae tak mengerti kenapa dia mesti meralat, dia hanya merasa geram. “Sebaiknya kau istirahat sekarang, eomma. Ini sudah malam, dan kau pasti sangat lelah mengikuti Kyuhyun dan tunangannya kencan kemana-mana.”

“Aku tidak mengikuti mereka.”

Alis Hyukjae bertaut. “Lalu eomma dapat darimana foto-foto sebanyak ini?”

Wanita itu menjawab singkat, “Donghae.”

“DONGHAE MENGUNTIT KYUHYUN DAN—” Hyukjae tercekat, tak tahu harus berekspresi seperti apa. Apa yang bocah itu lakukan? Dasar stalker aneh!

“Hyukjae-yah…” Sepasang tangan lembut itu menahan bahu Hyukjae, wajah Han Sunhwa tampak memasang raut prihatin. “Eomma rasa memang Lee Sooman-ssi yang terbaik untukmu.”

Hyukjae terbelalak horror.

Tidak… dia tidak mau dijodohkan dengan ahjussi tua itu lagi.

oOo

“Selarut ini baru pulang?”

Secara reflek Kyuhyun menarik Sungmin ke belakang tubuhnya. Mereka baru saja membuka pintu depan dan menemukan Lee Chunhwa bersandar pada tembok di samping pintu, seolah memang menunggu mereka disana.

“Sajangnim…” Sungmin seperti ingin menghadapi ayahnya sendiri, tapi tangan Kyuhyun menahannya tetap di tempat.

“Bukankah aku menerima pertunangan ini dengan syarat kau menyerahkan Sungmin sepenuhnya padaku?” Kyuhyun menatap tajam.

“Apa syarat itu melarangku bicara dengan Sungmin?” Lee Chunhwa membalas tenang. “Dia putraku, bagaimanapun.”

“Biar aku menghadapi ini, Kyu.” Sungmin berbisik pelan.

“Dan membiarkan dia memukulimu?! Aku tidak akan—”

“Aku tidak akan melakukannya.” Presdir Lee menginterupsi Kyuhyun. “Aku akan bicara dengan Sungmin di depan matamu jika kau tidak percaya.”

“Baiklah.” Kyuhyun bergeser dari posisinya yang menutupi Sungmin. “Bicaralah disini.”

Dua wajah kaku dari ayah dan anak itu kini saling berhadapan. Lee Chunhwa menatap tajam sejenak sebelum berkata dingin, “Apa tidak ada yang ingin kau katakan, Sungmin?”

“Aku minta maaf karena pulang terlambat, sajangnim.”

“Aku sedang tidak bekerja, jadi panggil aku ‘appa’.”

Jemari Sungmin gemetar pelan. “A-appa…”

“Kenapa kau bisa pulang terlambat?”

Kyuhyun seperti ingin menginterupsi tapi Sungmin lebih cepat menahannya. “Kyuhyun mengajakku pergi ke berbagai tempat.”

“Dan kau tidak menolak?”

“Aku tidak bisa menolak.”

“Kau tidak bisa?” Lee Chunhwa menautkan alisnya. “Kenapa?”

Kenapa? Sungmin tampak tertegun sejenak. “Mungkin seperti appa yang tidak bisa menolak permintaan eomma.”

Kyuhyun terpana. Seharusnya dia bisa mendengar debar kencang jantungnya jika Lee Chunhwa tidak tertawa keras.

“A-appa?” Sungmin mengerjap dua kali. Ekspresi kakunya lepas berganti raut heran. Sudah lama sekali dia tidak melihat ayahnya tertawa seperti itu.

“Apa yang Kyuhyun lakukan?” Chunhwa bertanya di tengah-tengah tawanya. “Apa dia melakukan aegyo seperti yang dulu eommamu sering lakukan?”

Kyuhyun terperangah.

“Tentu saja tidak…” Sungmin tersenyum tanpa sadar, sepertinya tawa lepas Chunhwa menular padanya. “Kyuhyun hanya tersenyum, itu saja.” Dengan santai dia mengatakan semua itu tanpa menyadari efek kalimatnya pada rona pipi Kyuhyun yang merah padam.

Pluk!

Sungmin mengerjap kaget, berusaha meyakinkan diri jika tangan hangat ayahnya benar-benar mendarat di puncak kepalanya kini.

“Sungmin-ah, kau tersenyum.” Chunhwa menatap lembut. “Apa kau menyukai Kyuhyun?”

Kyuhyun nyaris terjatuh dari posisinya saat mendengar pertanyaan itu.

“Aku…” Wajah Sungmin merona—yang membuat Kyuhyun mengkhawatirkan keselamatan jantungnya—saat jemari ayahnya mulai membelai rambutnya. “Aku menyukaimu saat kau tertawa seperti itu, appa.”

Chunhwa tertegun. “Apa kau tidak menyukai diriku yang biasanya?” tanyanya hati-hati.

“Bukan seperti itu…” Sungmin tampak ragu sejenak. “Aku… aku hanya kurang menyukai dirimu yang berubah setelah eomma meninggalkan kita.”

“Sungmin-ah…”

“Jadi aku… aku melakukan semua hal yang kau inginkan, agar kau bisa kembali seperti dulu.” Bahu mungilnya mulai gemetar. “Walaupun aku tidak suka belajar teori, walaupun aku muak beramah-tamah pada pertemuan dengan teman-teman bisnismu, walaupun aku benci dijauhkan dari musik, walaupun aku tidak mencintai Cho Kyuhyun…”

DEG!

Kyuhyun mematung dengan wajah pucat.

“… tapi aku melakukan semuanya, semuanya, demi kau. Agar kau melihatku lagi. Agar kau melihatku lagi dengan matamu yang bersinar penuh kebanggaan seperti dulu. Seperti dulu sebelum eomma meninggalkan kita.”

“Aku…” Emosi campur aduk memenuhi wajah pria paruh baya itu. “Aku minta maaf, Sungmin-ah.”

Hening sejenak sebelum jemarinya bergerak lagi, membelai tiap helai rambut pirang platinum putranya. “Sungguh-sungguh minta maaf. Dan aku…” Bibir sang ayah tersenyum, tulus. “Selalu, selalu bangga padamu, Sungmin-ah.”

Sungmin tersentak. Matanya terbelalak begitu lebar saat menatap ayahnya. Dadanya bergemuruh, tapi entah… dia merasa emosinya terlalu banyak, bercampur aduk, hingga dia tak tahu bagaimana cara mengekspresikannya.

Grep!

Dua lengan mungil itu merengkuh tubuh si pria paruh baya, erat.

Chunhwa terkekeh pelan. Lengannya membalas pelukan Sungmin dan menepuk-nepuk punggungnya menenangkan. “Soal Kyuhyun, apa kau yakin kau tidak mencintainya?”

Tak ada respon.

Pandangan presdir Lee beralih pada sosok Kyuhyun yang bersandar di tembok dengan wajah pucat yang tampak hampa. “Kuharap…” Senyumnya mengembang lebih tulus lagi saat matanya menatap Kyuhyun lekat-lekat. “Kyuhyun bisa membantumu belajar mencintainya juga, Sungmin-ah.”

oOo

“Kau baik-baik saja, Kyuhyun-ah?” Ibu jari Kim Hanna mengelus lembut mata panda putranya pagi itu. “Kau kelihatan sangat lelah, apa kau tidak tidur semalaman? Banyak tugas yang harus kau kerjakan? Karena wajahmu tidak mungkin seperti ini jika kau begadang karena main game.”

“Aku baik-baik saja, eomma.” Suara Kyuhyun terdengar lebih serak dari seharusnya. “Tidak perlu khawatir.”

“Kau kelihatan kacau.” Hanna menatap tak percaya. “Kau sakit? Mau kupanggilkan dokter?”

“Jangan berlebihan.” Kyuhyun berdecak gusar. “Pesawat ke New York take off sebentar lagi. Apa eomma tidak merasa bersalah sudah membuat appa dan Chunhwa ahjussi menunggu?”

“Bukan ‘ahjussi’ tapi ‘abonim’, Kyuhyun-ah.” Tangan nyonya Cho menarik Kyuhyun yang ogah-ogahan mengikutinya ke ruang depan, apalagi wanita itu terus mengomel tanpa henti. “Bagaimana kau bisa mengatakan kau baik-baik saja, huh? Lihat saja wajahmu yang aneh, rambutmu yang acak-acakan, seragammu yang berantakan, dasimu bahkan tidak terpasang dengan benar—ah, Sungmin-ah!”

Sungmin yang sedang bicara dengan duo presdir Lee dan Cho menoleh mendengar panggilan itu. “Ne, omonim?”

“Bisa kau rapikan Kyuhyun? Dia berantakan sekali!”

Kyuhyun tersentak saat Sungmin benar-benar datang mendekat. “Min…” Tangannya menahan tegas jemari Sungmin yang sudah menyentuh kerah seragamnya. “Kau tidak perlu repot-repot.”

“Tapi kau memang benar-benar berantakan, Kyu.” Sungmin tampak tidak peduli, jari-jarinya bergerak cepat membenahi dasi Kyuhyun. “Siapapun tidak akan tahan melihat ini.”

Kyuhyun terdiam. Posisi mereka begitu dekat hingga aroma Sungmin tercium lebih pekat saat Kyuhyun menarik napas, aroma yang wangi seperti bunga tapi manis seperti currant dan raspberry. Dia dapat melihat bulu mata lentik Sungmin yang hanya sedikit bergerak karena mata rubah itu terus terbuka dengan konsentrasi penuh. Atau bibir pinkishnya yang tertarik tipis—lagi-lagi karena terlalu konsentrasi dengan pekerjaannya.

Kau curang, Kyuhyun menatap raut wajah manis itu lekat, selalu membuat hatiku berdebar seperti ini padahal kau tidak mencintaiku.

“Kyu?” Sungmin mengerjap. Dahi Kyuhyun menyentuh dahinya, entah sejak kapan.

“Hei, sudahlah.” Kyuhyun memejamkan matanya. Tak berani membayangkan apa yang akan dia lakukan jika menatap fox-like eyes Sungmin lebih lama. “Aku bisa merapikan seragamku sendiri. Sikapmu ini membuat kita terlihat seperti pasangan mesra. Apa kau mau seperti itu?”

Sungmin menatap wajah Kyuhyun yang sangat dekat. Kenapa dia kelihatan begitu lelah? batinnya heran.

“Aku tidak bermaksud begitu.” Sungmin mundur selangkah, membuat Kyuhyun sejenak merasa hampa saat kehilangan kehangatannya. “Aku minta maaf, Kyu.”

Kau tidak salah, Kyuhyun ingin mengatakan itu tapi entah kenapa dia tidak bisa. Tatapan cemas Sungmin terlalu langka baginya. Mungkin tidak apa-apa jika Kyuhyun ingin menjadi pusat perhatian Sungmin meski hanya sebentar.

“Kami berangkat, Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun tersentak, seperti baru menyadari keberadaan orangtuanya yang tiba-tiba berdiri di dekatnya. “A-ah… selamat jalan, appa, eomma, Chunhwa abonim…” Kyuhyun membungkuk kaku. “Hati-hati di jalan.”

Chunhwa tertawa kecil. “Sungmin-ah, apa kau mengajarkan sopan santun pada Kyuhyun-ah? Kenapa dia jadi begini manis?”

“Kyuhyun-ah yang sebenarnya memang seperti ini, Chunhwa.” Yeunghwan tersenyum bangga, tangannya menepuk bahu Kyuhyun. “Kami berangkat dulu. Jaga diri baik-baik.”

“Jaga Sungmin-ah dengan baik.” Hanna menambahkan. “Chunhwa bilang kau akan bertanggung jawab penuh atas Sungmin-ah, bukan?”

Kyuhyun tersenyum lembut. “Aku mengerti, eomma.”

Entah mengapa dada Kyuhyun berdesir aneh saat para orangtua itu berbalik pergi. Tangannya mencari tangan Sungmin secara reflek, menggenggamnya erat setelah berhasil menemukannya. Terlalu erat.

Sungmin memandang Kyuhyun. Pemuda berkulit pucat itu menatap lurus ke depan, bibirnya sekali lagi mengucapkan kata ‘selamat jalan’.

oOo

Mungkin kau menginginkanku kembali dengan cara ini.”

Suara dingin yang dia dengar dari telepon pagi tadi kembali terngiang keras di benaknya.

Tapi kau gagal sepenuhnya, Lee Donghae. Bahkan lebih buruk lagi…”

Bahkan lebih buruk lagi…

Rahangnya terkatup keras. Dia merasa seperti pecundang. Bukan… tapi dia memang pecundang. Larinya semakin kencang, tak peduli napas terengahnya semakin sesak dan mencekik. Cho Kyuhyun… Cho Kyuhyun…

Aku dijodohkan lagi, dan tak ada lagi Kyuhyun yang akan menolongku kali ini.”

Donghae menekan nomor Kyuhyun dalam kontak ponselnya. Lagi-lagi terdengar mailbox pertanda ponsel Kyuhyun tidak aktif. DIMANA KAU CHO KYUHYUN SIALAN?!

Aku tidak tahu kenapa aku memberitahumu semua ini, Lee Donghae. Padahal kau orang brengsek, sialan, yang pernah mengkhianatiku.”

Dakk!

Pelipis Donghae tertabrak papan pengumuman saat larinya mendadak berbalik arah setelah melihat black honda insight Kyuhyun masuk dari gerbang sekolah.

Aku hanya tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi.”

“KYUHYUN!” Donghae berteriak keras tepat ketika Kyuhyun keluar dari mobilnya.

Selamatkan aku, kumohon!”

“Donghae hyung?” Kyuhyun menatap bingung pada Donghae yang masih berlari kencang ke arahnya dengan ekspresi nyaris kehabisan tenaga. “Sedang apa dia?” gumamnya sembari membukakan pintu untuk Sungmin.

GREP!

Akhirnya Donghae berhasil mencapai Kyuhyun dan mencengkeram bahu pemuda itu kuat-kuat. Tak peduli dengan napasnya yang memburu, Donghae berteriak tak jelas, “EUNHYUK… EUNHYUK…”

Kyuhyun menautkan alis. “Eunhyuk kenapa?”

“DIA AKAN DINIKAHKAN PAGI INI!”

oOo

To Be Continued

CLICK HERE TO POST REVIEW

Advertisements