Falling Without You (Chapter 10)

Falling Without You

by Kiri-chan

Apa yang kau rasakan jika kau tak bisa menentukan jalan hidupmu sendiri? Cho Kyuhyun tak bisa bertahan lebih lama lagi, hingga dia bertemu Lee Sungmin, pemuda manis yang tak pernah tersenyum dari dasar hatinya, seseorang yang sepertinya telah menyerah dalam hidup.

Main Pair : Kyuhyun/Sungmin

Warning : ada beberapa crack pair sebagai konflik dalam cerita, it’s SLASH! YAOI! Shounen-ai! Whatever a BoyxBoy FanFiction called!Siapapun yang keberatan bisa menerapkan asas DON’T LIKE DON’T READ bagi fanfiction ini.

~ Chapter 10 ~

Insincere Sincerity

oOo

Aura kedamaian pagi terasa paling kuat saat sinar mentari menyapa, burung-burung berkicau, dan angin berhembus mengantar wangi manis yang lembut.

Tunggu.

Kyuhyun mengerjap, menyesuaikan pandangan pada cahaya terang dari jendela besar yang terbuka. Biasanya Hyukjae ada disana, duduk di bingkai jendela setelah memanjat pohon Dogwood Bunchberry yang menjulang di depan jendela kamar Kyuhyun. Memamerkan gummy smilenya dan bilang ‘selamat pagi’.

“Kau sudah bangun?”

Kyuhyun melotot. Dibanding creamy voice Sungmin yang terdengar lirih karena efek baru bangun tidur, mata rubah kecoklatan yang hanya berjarak sekian senti darinya itu lebih menyentak jantung.

“Hu-huwaaaaa!”

Brakk!

Gerakan reflek Kyuhyun menggulingkan dirinya sendiri dari tepi ranjang.

“Apa perlu sekaget itu?” Sungmin mengucek sebelah matanya dan menguap halus. “Kau seperti baru melihat hantu.”

“K-kau…” Kyuhyun menunjuk Sungmin dengan suara gemetar dan wajah memerah sempurna. “K-kenapa bisa ada disitu?!”

“Kita dikunci semalaman,” jawab Sungmin datar. “Kau tidak ingat?”

“B-bukan itu maksudku…” Kyuhyun merutuki suaranya yang masih terdengar goyah. “Kenapa kita bisa tidur dengan jarak sedekat… sedekat itu?”

“Kau yang memelukku,” jawab Sungmin apa adanya. “Kuat sekali sampai aku tidak bisa bergerak.”

Kyuhyun terperangah. Mendadak paham wangi manis macam apa yang menguasai mimpinya tadi. Wangi Sungmin. “I… itu…” Detak jantung Kyuhyun tidak kunjung membaik, justru semakin parah. “Kau harusnya bisa berontak dariku.”

“Aku sudah mencoba.” Sungmin menjawab simpel. “Tapi kau malah mendekapku lebih erat sambil mengigau ‘Hyukjae~ Hyukjae~’.”

Kyuhyun mendongak. “Kau bohong.” Matanya menyipit curiga. “Aku selalu memanggilnya ‘Eunhyuk’.”

“Begitu?” Sungmin mengerjap innocent. “Lalu nama siapa yang kudengar tadi?”

Kyuhyun bangkit dari lantai, menghampiri Sungmin dengan seringai setan terpasang sadis. “Masih terlalu cepat 100 tahun untukmu berbohong padaku, Min.”

Bruk!

Kyuhyun menekan lembut kedua pergelangan tangan Sungmin di atas sprei, memastikan pemuda mungil itu tak punya kesempatan memukuli Kyuhyun dengan bantal seperti tadi malam. “Akui saja kau senang kupeluk. Kau juga menghabiskan waktu memandangi wajahku sebelum aku terbangun tadi, kan?”

Sungmin terbelalak kesal. “Jangan berkata bodoh, Kyu.” Tubuh mungilnya berontak keras, tapi sial… Kyuhyun lebih kuat darinya. “Dan menyingkir dariku!”

Kyuhyun hanya memandang makhluk menggemaskan yang marah-marah di bawahnya dengan senyum geli tertahan. “Kau harus mengakui kesalahanmu dulu, Min~” Kyuhyun bernyanyi menggoda. “Atau aku tidak akan melepaskanmu meski kau berontak sekuat tenaga.”

Well, itu terdengar mengerikan meski hanya bercanda. “Baiklah, aku memang bersalah.” Sungmin menatap sebal. “Jadi… tolong menyingkir dariku?”

Kyuhyun belum menghapus senyum jahilnya. “Kenapa berbohong padaku?”

“Aku hanya ingin membalasmu karena kau terus mengejekku semalaman.”

“Mengejek apa?” Kyuhyun memiringkan kepalanya, sok polos. “Ah~ soal kau jatuh cinta pada ahjumma—”

“KYU!”

Kyuhyun terkekeh pelan. Bahkan bentakan marah Sungmin terdengar adorable di telinganya. “Oke, aku akan melepaskanmu. Tapi kau tahu apa yang akan terjadi jika kau berani memukulku setelah ini.”

“Aku tidak akan memukulmu.” Sungmin menatap malas.

Kyuhyun masih tertawa saat dia bangkit dari tubuh Sungmin. Sungmin hanya bisa melempar death glare, berharap Kyuhyun mengurangi tawa senangnya itu. “Ngomong-ngomong, Kyu…” Tatapan Sungmin berpindah ke arah jendela. “Dari tadi aku penasaran kenapa jendelanya bisa terbuka.”

Kyuhyun membeku.

Dia bukannya tidak sadar, toh tadi dia terbangun juga karena hembusan angin. “Maid yang membukanya.”

Sungmin menautkan alis. “Mereka hanya membuka tirai, Kyu. Tidak membuka jendela.”

“Kau sudah bangun sejak para maid membuka tirai?” Kyuhyun terkejut.

“Aku terbangun sejak mereka membuka pintu kamar. Setelah membuka tirai jendela mereka keluar dan menutup pintunya,” jelas Sungmin meyakinkan. “Sekitar 15 menit kemudian jendela dibuka seseorang, tapi tak ada yang masuk lewat pintu.”

Mata Kyuhyun bergerak gelisah.

“Tadinya kupikir itu pencuri. Tapi aku tak mendengar suara langkah kaki di lantai, jadi kupikir orang itu tak punya niat masuk ke dalam.”

Kyuhyun tak merespon.

“Kyu…” Sungmin mengalihkan matanya dari jendela, kembali menatap Kyuhyun. “Itu… benar-benar orang, kan?”

Kyuhyun mengerjap, mendapati tatapan cemas yang baru kali ini dia lihat dalam mata Sungmin yang biasanya beku. “Kau…” Beberapa detik Kyuhyun berusaha memahami sebelum senyum takjub terkembang lebar di bibirnya. “Kau takut, Min?”

Sungmin tersentak. “Te-tentu saja tidak! Aku—”

“Pohon di depan jendela itu, kau lihat?” Kyuhyun tersenyum tipis dengan mata sedikit sendu. “Sebelum keluargaku membeli mansion ini, kami sempat diberitahu ada wanita yang gantung diri disana karena ditinggal sang kekasih.”

Wajah Sungmin memucat shock.

“Dan pada tengah malam, atau pagi hari sebelum matahari terbit sepenuhnya—” Kyuhyun mencondongkan tubuhnya ke arah Sungmin, berbisik serius, “—jendela kamarku terbuka sendiri.”

“Selama tinggal disini aku selalu bangun kesiangan, kau tahu kenapa?” Bibir Kyuhyun nyaris menempel di telinga Sungmin. “Karena para tetangga bilang, saat wanita itu datang dari jendela kamar, dia akan menghampiri orang yang sudah membuka mata dan—”

GREPP!

Kyuhyun tersentak. Tak menyangka Sungmin akan memeluknya dengan dekapan kuat yang nyaris mencekik napas. “M-Min…?” Sedetik dia merasa gugup tapi bibirnya tersenyum lembut saat merasakan tubuh mungil Sungmin gemetar hebat. “Min… kau takut hantu?”

Sungmin tak menjawab, wajah imutnya semakin tenggelam di dada bidang Kyuhyun.

“Semalam kau bosan nonton drama dan mengganti channel TV ke film thriller tapi kau takut hantu?” Kyuhyun tersenyum tak percaya. “Hei… Min? Jawab aku.”

Kyuhyun berusaha mendorong bahu mungil itu pelan, tapi Sungmin malah semakin mengeratkan pelukannya. “Ssshh… Min…” Kyuhyun mengusap-usap punggung Sungmin lembut. “Min…”

Ada jeda agak lama sebelum Kyuhyun mengaku. “Min, aku bohong.”

Deg!

Sungmin membeku.

Kyuhyun tak tahu harus berekspresi apa saat perlahan Sungmin mendongak. Mata bulat sewarna karamelnya berkaca-kaca, pipi fluffynya yang menggemaskan merona merah muda, dan bibir pinkishnya yang mungil sedikit terbuka. Dibanding merasa bersalah, Kyuhyun lebih terguncang dengan keinginan harus mencium bagian yang mana dulu =,=

BUAKKK!

“M-MIN!”

Oh, sial… Kyuhyun lengah.

“KAU—” Sungmin membanting-banting bantal besarnya ke kepala Kyuhyun tanpa ampun. “—BENAR-BENAR MENYEBALKAN, CHO KYUHYUN!”

“Y-YAH! MIN! BERHENTI! BERHENTI!”

“JANGAN HARAP!”

BUAKKK! BUAKKK! BUAKKK!

Bukk!

Sungmin memaki dalam hati saat Kyuhyun berhasil mencekal kedua tangan dan mengunci tubuhnya di ranjang lagi. Bantal besarnya lepas dari genggaman. Keduanya bertatapan dengan wajah merah karena napas memburu yang terengah-engah.

“Kubilang berhenti, Min.” Napas Kyuhyun berhembus keras di wajah Sungmin.

Sungmin merasa tidak adil karena dia baru menguasai sabuk biru taekwondo sedangkan Kyuhyun sudah sabuk hitam. Dan juga tidak adil karena tubuh Kyuhyun lebih besar darinya. Detik itu juga Sungmin bercita-cita ingin menjadi gemuk, berotot, dan lebih kuat dari Kyuhyun.

“Lepaskan aku,” desis Sungmin mengancam.

“Dan membiarkanmu memukuliku lagi? No thanks, bunny.” Kyuhyun tersenyum miring. “Kau kelinci brutal yang sama sekali tidak manis.”

“Aku laki-laki.” Sungmin menggeretakkan giginya kesal. “Jadi mana mungkin aku manis.”

Kyuhyun tertawa dalam hati. Serius, pembicaraan ini 180 derajat berbanding terbalik dengan kenyataan. Apa Kyuhyun perlu merekam dengan kamera video demi menyadarkan Sungmin betapa manisnya dia?

“Apa eomma perlu mengunci pintu kamarnya sekali lagi?”

Kyuhyun tersentak saat mendapati ibunya berdiri di depan pintu. Sungmin segera mendorong Kyuhyun menjauh selagi pemuda berkulit pucat itu lengah. “Maaf… tapi kami akan segera bersiap-siap, omonim.” Sungmin tersenyum sopan.

“Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu, tapi aku yakin kalian juga tidak ingin terlambat ke sekolah.” Kim Hanna tersenyum menggoda. “Kami akan menunggu kalian sarapan bersama di bawah.”

“Ya, kami akan segera turun.” Kyuhyun mengacak rambutnya salah tingkah.

“Supaya lebih cepat,” nyonya Cho mengedipkan matanya sekilas, “kalian bisa pakai kamar mandinya bersama.”

Hening sejenak setelah kepergian Kim Hanna. Wajah Kyuhyun merah padam seperti rebusan, Sungmin sampai berimajinasi ada uap-uap mengepul darisana. “Aku tidak akan melakukannya.” Sungmin menatap datar. “Kau mandi duluan sana.”

“O-oke!”

Saat Kyuhyun bangkit, mendadak Sungmin menyadari sesuatu.

Grep!

“Min?” Kyuhyun menoleh heran pada Sungmin yang menarik ujung kain piyamanya. “Kenapa?”

“Soal wanita itu…” Sungmin menatap waspada. “Benar-benar 100% bohongan, kan?”

Kyuhyun menyeringai. “Kita mandi bersama saja kalau kau takut.”

BUKK!

Bantal itu menabrak tembok karena Kyuhyun berhasil kabur menghindar.

“Jangan menoleh ke arah jendela, Min!” Kyuhyun berseru jahil. “Tenang saja aku tidak akan lama!”

Bantal lain menghantam pintu kamar mandi yang lebih cepat ditutup.

oOo

“Ini Cho Sungmin.”

Kyuhyun tahu statemennya akan disambut dengan tiga pasang mata yang melotot, hanya tiga karena Yesung selalu setia dengan tampang datarnya. Dan di antara tiga itu ada satu yang paling terluka. Kyuhyun masih tersenyum lebar dan melanjutkan.

“Adikku yang baru,” ucapnya final sembari mengacak-acak rambut Sungmin. “Maaf baru sempat memperkenalkannya secara resmi.”

“Annyeong haseyo, hyungdeul.” Sungmin membungkuk dalam, sebagai tanda kesopanan sekaligus menghindarkan rambut pirang platinumnya dari sentuhan jahil Kyuhyun. “Aku Lee Sungmin.”

“Cho Sungmin.” Kyuhyun meralat tegas.

“Kau mengubah namanya menjadi ‘Cho’ karena dia calon istrimu?” Donghae bertanya sinis.

Alis Sungmin bertaut, sepertinya tidak terima disebut ‘istri’. Tapi Kyuhyun hanya tertawa merdu dan membalas, “Kau ini bicara apa, hyung? Marga istri di Korea tidak akan berubah meski setelah menikah. Tapi Sungmin sudah menjadi dongsaengku dan menjadi bagian keluarga Cho, jadi kurasa tidak aneh jika marganya berubah.”

“Dia menjadi bagian keluargamu karena dia tunanganmu, Kyuhyun.” Donghae menegaskan kalimatnya. “Kuharap kau tidak lari dari fakta.”

“Aku tidak peduli dengan pandangan siapapun.” Kyuhyun tersenyum tenang dan matanya menatap Hyukjae meyakinkan. “Tapi dia, Cho Sungmin, adalah namdongsaengku. Kami punya cincin yang sama—kurasa tidak aneh jika hyung dan dongsaeng memiliki barang yang sama—dan kami tinggal serumah. Secara praktis aku dan Sungmin ini keluarga.”

Hyukjae terdiam sejenak sebelum menunduk dan tersenyum geli. “Jadi, Kyuhyun… maksudmu kau memeluknya dalam tidur seperti hyung memeluk dongsaengnya juga?”

“KAU MEMELUKNYA DALAM TIDUR?!” Donghae tersentak shock.

“Ya, begitulah.” Kyuhyun menatap lembut yang dibalas Hyukjae dengan senyum yang lebih cerah.

“Haah… aku mengerti.” Hyukjae mengangkat kakinya ke atas kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Tapi jangan salahkan aku jika aku khawatir karena Sungminnie begitu manis.”

“Aku tidak manis.” Alis Sungmin bertaut lebih dalam. “Dan jangan panggil aku Sungminnie.”

“HYAAAA! DIA MANIS SEKALI, KYUHYUUUUN!” Ryeowook melonjak-lonjak di kursinya, sepertinya tidak sanggup menahan diri lebih lama lagi sejak detik pertama Sungmin masuk ke ruangan KRY ini. “BILANG AKU BOLEH MEMELUKNYA SEKALI SAJA, PLEAAAASE?”

Telapak tangan Yesung tiba-tiba menutupi mata Ryeowook yang memancarkan puppy eyes 1000 volt. “Kau sudah janji tidak akan memperlihatkan tatapan semacam itu pada orang lain, Ryeonggu.”

“Tapi, hyuuuuung!” Ryeowook masih melonjak-lonjak meski Yesung sudah menahan bahunya. “Aku sudah ingin memeluk anak manis itu bahkan sejak aku baru melihatnya di foto!”

“Jangan salah paham.” Yesung melempar tatapan tajam pada Sungmin. “Ryeonggu memang lemah terhadap hal-hal yang manis, tapi bukan berarti dia punya perasaan khusus padamu.”

Please, hyung. Gaya posesifmu memuakkan.” Kyuhyun memutar bola matanya malas sebelum menoleh ke arah Sungmin. “Teman-temanku memang aneh tapi mereka baik, Min. Kuatkan saja diri—”

Grepp!

Kyuhyun melotot. Ryeowook memeluk Sungmin erat bahkan sebelum Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya.

“Kita baru bertemu kemarin dan kuharap kau mengingatku.” Ryeowook menyandarkan pipinya di bahu Sungmin.

“Ah, aku ingat…” Sungmin mengerjap. “Ryeowook hyung.”

“Kau imut sekalii~” Ryeowook mencubit pipi Sungmin lembut. “Apa aku boleh memanggilmu Sungminnie?”

“Tidak.” Sungmin menjawab cepat.

“Tidak ada yang boleh menolak Ryeonggu.” Yesung mendekati Sungmin, mengulurkan tangan kanannya. “Insiden kemarin membuatku tidak sempat memperkenalkan diri secara langsung. Jadi aku Kim Jongwoon, tapi kau boleh memanggilku Yesung hyung, Sungminnie.”

Sungmin merasa aneh mendengar namanya disebut semanis itu oleh Yesung yang wajahnya super datar. “Ne, Yesung hyung.” Sungmin menjabat tangan Yesung.

“Dengan kata lain aku boleh memanggilmu Sungminnie juga.” Hyukjae memamerkan gummy smilenya saat mendekat. “Aku Lee Hyukjae. Terserah kau mau memanggilku apa. I’m an easy person,” lanjutnya sok Inggris.

Kyuhyun mendengus geli. “Easy to get? Easy to love?

Nice weather.” Hyukjae memutar bola matanya malas, merasa tak bisa banyak membalas jika sudah disinggung soal bahasa Inggris.

“Aku boleh panggil Eunhyuk hyung?” Kalimat Sungmin mengheningkan semua orang yang ada disana.

“Ah, Sungminnie…” Ryeowook tersenyum sembari mengeratkan pelukannya. “Apa kau dengar nama itu dari Kyuhyun?”

Sungmin mengangguk.

“Panggil Hyukjae hyung saja.” Suara datar terdengar dari Donghae yang bahkan belum berdiri dari duduknya. “Panggil monyet lebih baik.”

“YAH!” Hyukjae membentak kesal.

Sungmin menatap Donghae. Kalimat yang seharusnya terdengar bercanda entah mengapa jadi terdengar serius dari suara dingin dan tatapan menusuk orang itu.

“Hae hyung…” Kyuhyun menautkan alisnya. “Kau tidak memperkenalkan diri pada Sungmin?”

“Ah, ya…” Donghae bangkit, bibir tersenyum miring yang sama sekali tidak terlihat ramah. “Aku Lee Donghae. Margaku sama denganmu tapi kurasa aku tidak akan pernah jadi keluargamu.”

“Hyung…” Kyuhyun melempar tatapan tajam pada Donghae sebab kalimat yang tidak menyenangkan itu. Tapi Donghae terlihat tidak peduli.

“Salam kenal, Donghae hyung.” Sungmin mengulurkan tangannya lebih dulu karena tangan kanan Donghae masih tersimpan di dalam saku blazer.

Grep!

Sungmin terdiam. Strap handphone itu tertinggal setelah Donghae menjabat tangannya.

“Itu…” Hyukjae merebut strapnya dari tangan Sungmin. “Bagaimana bisa…”

“Seekor monyet menjatuhkannya dari pohon di depan jendela kamarku, Hyuk.” Kyuhyun tersenyum geli. “Sungmin menyimpannya, meski dia tidak tahu itu milikmu.”

“Ahahahaha…” Hyukjae menggaruk tengkuknya, tertawa malu. “Terimakasih, Sungminnie.”

“Kau masih hobi memanjat pohon, Hyuk?” Mata Donghae menggelap. “Kau benar-benar monyet liar.”

Hyukjae hanya menatap tajam. “Bukan urusanmu.”

Sepertinya Donghae ingin membalas kalimat Hyukjae namun suara Sungmin menginterupsi lebih cepat. “Jadi yang membuka jendela tadi pagi itu Hyukjae hyung?”

Hyukjae sedikit terpaku melihat mata beku Sungmin kini berbinar penuh harap. “E-eh… ya… benar sih… hehehe…” cengirnya salah tingkah.

“Kenapa?” Ryeowook menatap penasaran wajah Sungmin yang tampak lega.

Sungmin menggeleng. “Bukan apa-apa.”

“Iya, bukan apa-apa~” Kyuhyun menyeringai yang mengundang tatapan kesal Sungmin.

“Memangnya ada apa?” Hyukjae menatap curiga, raut cemburunya terlihat jelas di mata siapapun.

“Sungmin mengira jendela kamarku dibobol maling,” jawab Kyuhyun santai, memutuskan untuk tidak memberitahu soal ketakutan Sungmin pada hantu.

Hyukjae terperangah. “Hyaaaa! Aku minta maaf sudah membuatmu takut, Sungminnie!”

“Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena sudah salah paham.” Sungmin mengangguk canggung sebelum matanya beralih pada Ryeowook. “Ryeowook hyung? Kau sudah bisa melepaskanku sekarang.”

“Tidak mau~” Ryeowook menenggelamkan hidungnya di kerah kemeja Sungmin. “Habisnya Sungminnie wangi sekali~ aku jadi betah berlama-lama—”

“Ryeonggu.” Suara dingin Yesung menyela.

“Hyung~” Ryeowook mengerucutkan bibirnya, merajuk. “Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Kau bisa memeluk Sungminnie juga untuk membuktikan kata-kataku.”

“Tentu saja tidak perlu.” Yesung tersenyum lembut pada Ryeowook, dan entah bagaimana sudut matanya menangkap jelas ekspresi kesal Kyuhyun yang tersirat. “Kau tahu aku selalu percaya padamu, Ryeonggu. Tapi kurasa tidak ada salahnya kau lepaskan dia sekarang. Kau sendiri juga pasti tidak senang jika ada orang asing yang memelukmu terlalu lama.”

“Maaf…” Ryeowook melepaskan pelukannya enggan, menatap memelas ke arah Sungmin. “Kau tidak senang?”

Sungmin tersenyum sopan. “Ryeowook hyung, Yesung hyung bilang kau tidak boleh memperlihatkan tatapan seperti itu pada orang lain.”

Ryeowook tertawa malu. Sementara wajah Yesung yang super datar kini tampak terkejut, mata bulan sabitnya tertegun sejenak menatap Sungmin.

“Dia hanya adikmu, kau bilang?” Yesung mendekat ke arah Kyuhyun, mengecilkan volume suara dan memastikan hanya Kyuhyun yang bisa mendengarnya. “Kau orang paling licik yang pernah kukenal.”

Alis Kyuhyun berkedut, tampak tersinggung. Tapi dia memutuskan untuk mengabaikan Yesung.

oOo

Donghae hanya mengawasi dari pojok ruangan. Matanya menatap tajam ke arah Hyukjae, Kyuhyun, dan Ryeowook yang masih mengerumuni Sungmin. Sepertinya mereka tertarik pada Sungmin yang bisa memainkan gitar akustik dengan baik. Yesung juga ada disana, duduk agak terpisah, sibuk menekan-nekan tuts piano saat memperbaiki not lagu yang tidak pas dalam komposisi buatan Ryeowook.

Aku tidak tahu apa yang menarik dari bocah itu, Donghae menggerutu dalam hati, dari tampangnya saja sudah menyebalkan mirip Kyuhyun.

Mirip Kyuhyun usia 13 tahun. Datar, beku, tak bisa tersenyum. Tapi matanya—meski kosong—terlihat jujur apa adanya. Menarik Donghae untuk mendekat dan datang menolong Kyuhyun kecil saat itu. Hal yang paling disesalinya sekarang.

Bocah beku semacam itu perlu kehangatan, dan siapapun dapat melihat siapa yang paling hangat di antara semua orang.

Hyukjae.

Donghae tidak butuh ‘dua Kyuhyun’ menghalanginya mendapatkan Hyukjae kembali.

“Hyuk.” Donghae bangkit dan berjalan mendekat. “Ayo kembali ke kelas, sebentar lagi bel masuk.”

“Kau duluan saja.”

“Hyukk~” Donghae mencoba merajuk.

“Kau pikir kita anak SD yang harus masuk kelas bersama-sama?” Hyukjae mendongak tak senang. “Kau duluan saja.”

Grep!

Kyuhyun mencekal tangan Donghae yang nyaris meraih lengan Hyukjae. “Hyuk memintamu pergi duluan. Kau dengar kan, hyung?” Kyuhyun tersenyum tipis.

Donghae terdiam. Dia tidak ingin masuk ruang BK lagi dengan memukul wajah menyebalkan Kyuhyun. Otaknya berpikir cepat, mencari cara untuk melampiaskan emosi kekanak-kanakannya dengan cara yang tidak kekanak-kanakan.

“Sungminnie~” Mudah bagi Donghae menebar senyum penuh pesona. “Sebentar lagi bel masuk. Kau mau kembali ke kelas dengan hyung?”

Betapa Donghae menikmati wajah Kyuhyun yang tersentak shock. Seringai setan tersembunyi di balik killer smile Donghae, menunggu jawaban dari Sungmin.

“Oke, hyung.”

Donghae tahu Sungmin akan menurut.

“Tapi traktir aku orange juice di mesin minuman dekat tangga lantai tiga.”

“Mwo?” Donghae mengerjap. Tak yakin Sungmin mengatakan kalimat barusan dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.

“Nanti kau malah diracuni, Min.” Kyuhyun menahan kedua bahu Sungmin saat pemuda mungil itu nyaris berdiri dari duduknya. “Kalau kau mau itu biar nanti aku yang belikan.”

“Min?” Donghae tersenyum sarkastik. “Wow… panggilan itu terdengar lebih manis dari ‘Sungminnie’. Ya kan, Hyuk?”

“Telingamu memang tajam, hyung.” Kyuhyun balas tersenyum sinis. “Tapi tak ada nama yang lebih manis dari ‘Eunhyukkie’.”

“Tentu saja.” Donghae mendengus. “Itu nama buatanku.”

Kyuhyun tercekat, matanya menoleh cepat ke arah Hyukjae. “A-apa…?”

“Jangan mengarang.” Hyukjae melempar tatapan sengit pada Donghae. “Itu nama buatan ayahmu, bukan kau.”

“Saat pertama kali melihatmu, aku bilang padanya kau bersinar mirip permata dan ayahku memutuskan nama ‘Eunhyuk’.” Donghae tersenyum miris. “Mengistimewakan nama itu sama dengan mengistimewakanku, Hyuk.”

Wajah Hyukjae memerah penuh emosi, tapi tak ada yang bisa dia lakukan untuk menyangkal Donghae.

Kyuhyun terperangah kaget, baru pertama kali mendengar fakta itu. “Kau… kau tak pernah bilang…”

“Tentu saja Hyuk tak pernah bilang padamu.” Donghae menatap sinis. “Kau ini kan bukan siapa-siapa, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun terbelalak.

“Kyuhyun ada di sampingku saat kau pergi dengan wanita sialan itu, tapi kau bilang dia bukan siapa-siapa?!” Hyukjae membentak marah. “Kurasa matamu tidak terpasang dengan baik, Lee Donghae! Yang bukan siapa-siapa itu KAU!”

“Kau tahu sendiri wanita itu memang sialan!” Donghae balas membentak. “Tapi kau tak pernah mau mendengar penjelasanku dan terus tenggelam dalam prasangka bodohmu itu!”

“KAU BILANG AKU BODOH?!” Tiba-tiba Hyukjae mencekik kerah seragam Donghae. “ULANGI SEKALI LAGI!”

“DENGAN SENANG HATI, HYUK! KAU BODOH! IDIOT! BISA-BISANYA KAU LEBIH MEMILIH BOCAH KAYA ITU DIBANDING AKU! APA KAU INGIN MENGIKUTI JEJAK AYAHMU YANG SEKARANG HIDUP BAHAGIA DENGAN WANITA KAYA?! APA KAU TIDAK BISA SEDIKITPUN MEMIKIRKAN—”

BUAKK!

Donghae tahu pukulan itu akan datang, dan dia juga tahu rasanya akan sakit. Rahangnya seperti mau lepas. Anyir darah bukan menetes tapi muncrat dari mulutnya saat Hyukjae meninju perutnya lebih keras.

“Kau…” Mata Hyukjae yang biasanya bersinar terang kini menggelap berbahaya. “Kau keterlaluan…”

“Apa… bedanya?” Donghae terbatuk lemah. “Kau… kau tetap membenciku meski aku tidak mengatakan itu semua kan?”

Hyukjae terdiam lama sebelum melepas cengkramannya dari Donghae. “Aku benar-benar tidak ingin melihatmu lagi.”

“HYUK!” Secara reflek Kyuhyun mengejar Hyukjae yang berlari keluar ruangan.

Suasana hening sampai kemerisik kertas-kertas partitur yang disusun Yesung terdengar jelas. “Aku melihat dua orang bodoh disini.” Suara baritone merdunya itu menggumam datar.

“Sungminnie, kau akan kembali ke kelas?” Ryeowook tersenyum seolah dia merasa bersalah dengan keributan tadi. “Aku akan mengantarmu.”

“Donghae hyung bilang dia akan mengantarku.” Sungmin menghampiri Donghae yang masih terkapar lemah dengan sebagian punggung menyandar dinding.

Batuk darah keluar lagi saat Donghae tertawa sinis. “Kau pikir aku serius? Yang benar sa—”

Kalimat itu tercekat karena Sungmin benar-benar menarik Donghae pergi bersamanya.

oOo

“Hyuk! HYUK!”

Grep!

Hyukjae berhenti saat Kyuhyun berhasil mencekal lengannya. “Kau tidak perlu mengurusiku, Kyuhyun! Biarkan aku sendiri!”

“Aku bukan Donghae hyung yang bisa membiarkanmu sendiri.” Kyuhyun menarik pundak Hyukjae dari belakang. “Aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Berhenti merasa bertanggung jawab, Kyuhyun!” Hyukjae berontak dari rengkuhan Kyuhyun. “Kau sudah berniat akan melindungi Sungmin, bukan?!”

“Kita bisa melindunginya bersama-sama, Hyuk.”

Hyukjae tercekat. “A-apa?”

“Ingat waktu kita masih SMP, Hyuk? Kau selalu bilang ingin seorang adik yang manis dan innocent seperti Donghae hyung. Dan sekarang kau sudah kehilangan Donghae hyung yang seperti itu.” Kyuhyun menatap sendu. “Jadi aku membawakan Sungmin. Aku tahu dia tidak ceria berlebihan dan kekanak-kanakan seperti Donghae hyung tapi… dia cukup manis, kan?”

Jika Yesung ada disini, dia akan mendecih mendengar permainan kata-kata Kyuhyun yang terlalu modus (?).

“Sungmin straight, Hyuk.” Kyuhyun meraih tangan Hyukjae saat pertahanan pemuda itu mulai lemah. “Apalagi yang perlu kau khawatirkan dari Sungmin?”

“Maaf…” Hyukjae mendesah kalah. Kyuhyun lebih muda setahun darinya, tapi dia selalu merasa Kyuhyun jauh lebih dewasa.

“Jadi…” Kyuhyun menggigit bibir bawahnya ragu setelah terdiam agak lama. “Yang Donghae hyung katakan soal ayahmu tadi—”

“Ya, ayahku menceraikan ibuku dan menikah dengan wanita kaya itu. Ayahku bilang dia terlibat hutang besar dan tak bisa apa-apa selain menuruti wanita itu. Tapi ibuku tidak percaya, aku juga tidak.” Hyukjae mendecih. “Pria sialan itu hanya ingin hidup bermewah-mewah. Sejak aku lahir dia tak pernah bekerja terlalu keras, selalu ibuku yang menanggung biaya hidup kami lebih banyak.”

“Ayahmu terlibat hutang dengan wanita itu, dan sebagai gantinya dia harus menikahinya?” Kyuhyun merasa penjelasan itu tidak masuk akal.

“Kau lihat wajahku saja, Kyu. Ayahku mirip aku, tampan sekali~” Hyukjae tertawa pahit. “Banyak wanita yang mengejarnya, asal kau tahu. Bahkan setelah menikah dengan ibuku sekalipun.”

Bola mata Kyuhyun melebar. Dirinya terhenyak sementara sebelum tinjunya terkepal keras. Wanita kaya itu… entah mengapa Kyuhyun merasa tak jauh berbeda dengan—tidak,Kyuhyun menggeleng keras, mengusir pemikiran buruknya sendiri, aku bersama Eunhyuk untuk menjaganya, bukan untuk merebutnya.

“Kau kenapa, Kyu?” Hyukjae menautkan alisnya bingung melihat tingkah Kyuhyun.

“Tidak apa-apa.” Kyuhyun tersenyum miris. “Mungkin wanita itu hanya kesepian, Hyuk. Dan hanya ayahmu yang bisa menghilangkan rasa sepinya.”

Hyukjae terperangah. Otaknya berusaha mencerna apa yang dimaksud Kyuhyun sampai berujung pada kesimpulan, “Apa pemikiran orang-orang kaya selalu seperti itu? Meskipun telah memiliki segalanya, selalu ada hal kecil yang tak bisa mereka miliki? Dan mereka tak segan melakukan cara apapun untuk mendapatkan itu?”

Kyuhyun terdiam, tak bisa membantah.

“Meski ‘hal kecil’ itu berarti ‘hal besar’ bagi orang lain?” Hyukjae mendesak. “Gara-gara keegoisan wanita itu, ibuku berubah 180 derajat, Kyu. Dia semakin terobsesi dengan kekayaan. Dia menjodohkanku dengan ahjussi kaya itu, dia senang melihatku menjalin hubungan denganmu, dia memohon di kaki ayahmu agar dia mau menerimaku jadi menantunya.”

Kyuhyun terbelalak.

“Ya, ibuku melakukannya. Merendahkan harga diri di depan ayahmu.” Hyukjae melanjutkan tanpa menunggu respon Kyuhyun. “Dan semua ini terjadi karena wanita yang katamu merebut ayahku hanya karena kesepian itu.”

Kyuhyun menunduk. “Maafkan aku.”

“Aku penasaran kenapa analisis semacam itu bisa keluar darimu, Kyu.” Hyukjae menatap curiga. “Apa kau pernah merasakan hal yang sama? Apa kau pernah merebut seseorang dari orang lain hanya karena merasa kesepi—”

Hyukjae tercekat sendiri. Matanya terbelalak lebar menatap Kyuhyun. “Kyuhyun, kau…”

“Aku mencintaimu, karena itu aku mendekatimu.” Kyuhyun menatap dingin. “Jangan ambil kesimpulan seenaknya, Hyuk. Lagipula yang seharusnya diragukan disini bukan aku, tapi kau. Bagaimana bisa Donghae hyung tahu konflik di balik perceraian orangtuamu sedangkan aku tidak? Bukankah aku yang selalu bersamamu selama ini?”

“Aku tak pernah memberitahu Donghae.” Hyukjae membalas cepat. “Kurasa dia tahu dari ibunya. Ibuku pasti menceritakan semua masalahnya pada ibu Donghae, mereka bersahabat dekat.”

“Ayahnya memberimu nama ‘Eunhyuk’, dan ibunya sahabat dekat ibumu.” Kyuhyun tersenyum miring. “Aku tidak mengerti kenapa kau tidak dijodohkan dengan Donghae hyung, Hyuk.”

Kyuhyun berbalik pergi, meninggalkan Hyukjae yang terdiam tak percaya.

oOo

Orange juice.”

“Berhenti mengikutiku, bocah!”

“Aku sudah mengobati lukamu, jadi traktir aku orange juice.”

“Yah! Kau sendiri yang memaksaku!” Donghae berbalik kesal. “Aku sedang tidak punya uang! Jadi beli saja sendiri! Kau kan orang ka—”

Grep!

Donghae merutuk saat Sungmin menyeretnya lagi. Tak habis pikir bagaimana bisa bocah sekecil ini punya tenaga yang begitu besar. Dia bahkan bisa menahan Donghae di tempat hanya dengan satu tangan saat tangan satunya lagi sibuk mengobati memar-memar di wajah Donghae tadi.

Orange juice.” Telunjuk Sungmin menunjuk mesin minuman di depan mereka.

Donghae menatap tajam. Sungmin hanya balas menatap, ekspresinya sama sekali tak goyah. Mereka terus saling bertatapan seperti itu sampai Donghae menghela napas kalah. “Kau selalu mendapatkan apapun yang kau inginkan, eh? Sungminnie?”

“Tidak juga.” Sungmin menjawab datar. “Tapi kalau hanya orange juice biasanya aku dapat.”

Donghae mendecih. Memasukkan koin ke dalam mesin sampai suara berkelotakan terdengar dan kaleng orange juice itu keluar. “Ini ambil.” Donghae menyerahkannya pada Sungmin. “Dan jangan ganggu aku lagi.”

Donghae berbalik pergi.

1 detik…

2 detik…

3 detik…

“YAH! KENAPA KAU MASIH MENGIKUTIKU, BOCAH?!”

“Ini bukan arah ke koridor kelas 3,” respon Sungmin tenang. “Kau ingin membolos, hyung?”

“Itu bukan urusanmu.” Donghae menatap dingin. “Justru bocah berpendidikan sepertimu yang tidak boleh membolos. Bagaimana kalau kau dimarahi ayahmu?”

Bahu mungil Sungmin tersentak sedikit. Donghae menyeringai. Dia tahu bocah ini takut, dia tahu. “Kau tidak ingin dihajar ayahmu, kan? Sana kembali ke kelas.”

Alis Sungmin bertaut. “Darimana kau ta—”

“Tentu saja aku tahu.” Donghae tersenyum meremehkan. “Kyuhyun juga dulunya begitu. Orang kaya dimana-mana memang anak mama.”

Mata Sungmin meredup. “Kau benci orang kaya, hyung?”

“Aku…” Donghae mengacak poni depannya. “Aku hanya benci orang yang tidak tulus. Orang yang tidak bisa kutebak isi hatinya. Orang yang menyembunyikan sesuatu di balik sikap baiknya.”

Sungmin memiringkan kepala, merasa Donghae sedang membicarakan seseorang. “Maksudmu Kyuhyun?”

Donghae terperangah. “Bagaimana kau—”

“Dulunya kau kekasih Lee Hyukjae, bukan?” tebak Sungmin polos. “Aku ingin dengar bagaimana Kyuhyun bisa mengambil Lee Hyukjae darimu, hyung.”

“Kenapa tiba-tiba ingin tahu?” Suara Donghae melemah. “Para presdir itu memintamu menyelidiki soal Hyuk?”

“Memang benar.”

Jawaban simpel itu menyentak emosi Donghae. Tak peduli dengan kata ‘tapi’ yang dilontarkan Sungmin kemudian, Donghae merebut kaleng orange juice—yang masih setengah kosong—dan menumpahkannya ke blazer Sungmin.

“Bukankah sudah kukatakan?” Donghae menatap arogan. “Aku benci orang yang tidak tulus.”

Donghae pergi melewati Sungmin begitu saja, namun pertanyaan sederhana pemuda mungil itu menghentikan langkahnya.

“Bagaimana kau tahu para presdir itu memintaku, hyung?” Sungmin berdiri tenang tanpa berbalik sedikitpun ke arah Donghae. “Apa kau pernah berurusan dengan mereka juga?”

Donghae membeku. Tinjunya terkepal keras hingga buku-buku jemarinya memutih. “Itu bukan…” Wajah merahnya menggeram tertahan. “ITU BUKAN URUSANMU!”

oOo

From : Min

Kelas terakhir selesai lebih cepat, jadi aku menunggu di taman belakang sekolah.

“Kau harus membiasakan diri berkirim pesan dengan teman-temanmu, Min.” Kyuhyun bergumam sendiri. “Gaya SMSmu ini seperti memo dari direktur kepada karyawannya. Kaku sekali.”

Tapi Kyuhyun tak bisa menahan senyumnya. Tentu wajar bila siswa alumni Sapphire Junior High seperti Sungmin tidak terbiasa membuang-buang waktu dengan saling berkirim pesan. Banyak hal baru di luar kalangan elite yang belum diketahui Sungmin.

Hal-hal baru yang menyenangkan.

Kyuhyun akan mengajarkan semuanya pada Sungmin. Membolos dari pelajaran yang tidak disukai, beristirahat di atap sekolah saat jam kosong, kabur melompati tembok belakang sekolah, menghabiskan waktu di game center, jalan-jalan ke café…

Deg!

Langkah Kyuhyun mendadak berhenti. Sungmin sedang berjongkok di tepi taman, dengan seekor kucing kecil yang menggesek-gesekkan tubuhnya manja di antara jemari Sungmin. Namun Kyuhyun tak sempat mengurusi si kucing liar bila fokusnya jatuh pada hal lain.

Sungmin tersenyum.

Kyuhyun selalu merasa Sungmin lebih manis saat marah. Tak pernah terpikir olehnya bila Sungmin tersenyum. Bukan senyum yang dia tunjukkan pada tamu-tamu kehormatan di acara pertunangan mereka. Tapi senyumnya yang tulus dari hati.Sangat menyilaukan, bahkan bintang-bintang bersinar dari balik lapisan es mata rubahnya.

“Kyu?”

Angin dingin berhembus di leher Kyuhyun sore itu. Namun mentari seolah kembali terbit di hatinya, membuatnya merasa hangat.

When you smile, sun shines, so beautiful that I’m speechless.

oOo

To Be Continued

CLICK HERE TO POST REVIEW

Advertisements